Harian Kom***, Sinar Pa**, Pos Ko**
Koran... koran....
Pagi ini saat sedang ngopi dan duduk di teras depan sambil menikmati goreng pisang yang dibeli dari tukang nasi uduk dekat rumah, entah mengapa tiba tiba kangen banget sama suara satu itu.
Enaknya kan, pas ngopi pagi gini, baca koran tuh rasanya melengkapi kesempurnaan pagi.
Dan kini, aku ngga pernah tuh dengar suara itu lagi.
Kalau mau beli koran, sekarang harus datang ke lapak koran di depan komplek.
Itu pun hanya ada beberapa eksemplar koran saja.
Lebih banyak majalah atau tabloid.
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, aku masih gampang banget nemuin banyak koran dimana-mana.
Di bis, di kereta api, di depan bioskop, di toko buku, di depan toko roti, di pasar, di supermarket, di perkantoran, di komplek rumah, di balai kota, di desa-desa, di meja guru, di perpustakaan sekolah, di ruang tunggu rumah sakit, di tempat service handphone, di pojokan bengkel, di sudut kamar.
Sampai dulu sering sekali para guru menyuruh muridnya untuk membuat "kliping" dari koran.
Duluuuuuu sekali, biasanya pagi pas weekend begini, aku suka ngobrol bareng sama pap di teras sambil ngopi dan baca koran.
Membahas segala berita yang sedang up to date yg terpapar di tiap halaman yang dibaca pap.
Mulai dari masalah ekonomi, olah raga, kejahatan, pendidikan sampai membahas tentang iklan.
Pap tuh hobinya baca dan koran adalah salah satu bacaan wajibnya di pagi hari.
Pap memang langganan koran dan aku langganan sebuah majalah anak anak yang datangnya per minggu.
Pokoknya tiap hari baca, begitu kata Pap.
Dan Pagi ini saat sedang ngopi dan duduk di teras depan, entah mengapa tiba tiba kangen banget sama suara satu itu.
Jadi ingat percakapan kami pagi itu di minggu yang ceria, saat matahari bersinar genit dibalik awan. #cieeeeee
"Teh, nih lihat. Harga BBM naik lagi . Harga bahan pokok yang lain juga pasti ikutan naik deh nantinya," Papah membaca Head Line di sebuah koran dan menunjukkan padaku.
"Wah, tapi nanti uang jajanku engga dikurangin kan pah?" tanyaku
Ah, harga BBM dan bahan pokok engga jadi masalah buatku.
Yang jadi masalah itu, kalau jatah uang jajanku yang dikurangi.
"Engga akan papah kurangi, tapi kamu harus rajin nabung. Siapa tahu kalau papah engga punya uang, kan kamu jadi ngga pusing buat jajan."
"Yeeeey papah, sama aja itu mah. Memang apa hubungannya BBM sama uang jajan aku?"
"Nih teh, BBM naik, berarti ongkos akan naik. Ongkos naik berarti harga jual bahan pokok naik. Harga beras naik berarti jatah belanja mamahmu berkurang, begitu juga jatah jajan mu."
"Waaaah, ngga adil," aku cuma bisa memajukan bibirku kedepan.
Mau gimana lagi, mau nangis juga engga akan menurunkan harga BBM.
Setidaknya hari itu aku sudah dapat pelajaran tentang hukum ekonomi tentang dampak kenaikan BBM pada harga barang.
Hemmm....pelajaran yang aku dapat setelah 8 tahun berikutnya.Saat aku mengambil mata kuliah Dasar dasar Ekonomi.
Kami juga pernah membahas tentang berita kejahatan.
Saat itu sedang nge trend tentang kolor ijo.
Itu loh, penjahat yang menyatroni rumah warga dengan menggunakan kolor berwarna hijau dan memperkosa wanita-wanita yang sedang tidur lelap di rumah.
Serem yaaa?
Kembali lagi, papah bertuah.
"Teh, tuuuuuuh kalau tidur tuh pakai celana panjang, jangan pakai daster atau baju tidur yang pakai rok,"
"Emang kenapa pah?"
"Kalau kamu tidurnya pakai celana panjang, pas tidur mau guling sana sini, engga akan kesibak dan terlihat kakinya," Papah menjelaskan.
"Oh gitu. Panas tapi pah, Hareudang," jawabku.
"Eh atuh, pakai kipas nya biar engga panas,"
"Ah, males ah. Pake celana hawai aja," tawarku.
"Nya terserahlah, nu penting pakai celana, bukan daster," Papah akhirnya menyerah.
"Tapi, pah. Apa hubungannya kolor ijo sama daster? Kolor ijo engga suka sama yang pake celana ya?"
Papah tidak menjawab, hanya tertawa.
"Pokoknya teh, jangan pake daster,'
Saat itu aku masih ngga ngerti, tapi sekarang aku tahu apa alasan papah.
Dia mau menjaga anaknya, ngga sembarangan memakai baju walaupun di saat kami tidur.
Dan berita tentang kolor ijo itu yang menjadi salah satu media yang pas buat membahas tentang cara menjaga diri yang papah ajarkan untuk anak perempuannya.
Ternyata momen membaca koran bersama di pagi hari tuuuh bisa menjadi sarana yang baik antara orang tua dan anak untuk belajar bersama.
Anak dapat belajar banyak hal dari berita berita yang ada.
Anak akan tahu dunia.
Anak belajar seperti apakah sudut pandang suatu berita menurut banyak pendapat.
Anak belajar perbedaan dan menghargai pendapat orang lain dari sana.
Hmmmm...betapa merindunya aku akan suasana seperti itu.
Jaman sudah berganti dan berputar.
Kini berita tidak lagi di paparkan pada lembaran harian surat kabar.
Orang orang bisa mendapatkan berita dari menonton televisi atau membaca lewat internet.
Jaman sudah berbeda.
Tak ada lagi tukang tukang koran yang menjajakan harian surat kabar di perumahan perumahan atau di tempat tempat umum.
Tak ada lagi teriakan teriakan khas penjaja koran.
Yang paling menyedihkan buatku adalah kehilangan moment kebersamaan antara orang tua dan anaknya saat membahas berita berita di koran.
Hmmmm...betapa merindunya aku akan suasana seperti itu.
Jaman sudah berganti dan berputar.
Kini berita tidak lagi di paparkan pada lembaran harian surat kabar.
Orang orang bisa mendapatkan berita dari menonton televisi atau membaca lewat internet.
Jaman sudah berbeda.
Tak ada lagi tukang tukang koran yang menjajakan harian surat kabar di perumahan perumahan atau di tempat tempat umum.
Tak ada lagi teriakan teriakan khas penjaja koran.
Yang paling menyedihkan buatku adalah kehilangan moment kebersamaan antara orang tua dan anaknya saat membahas berita berita di koran.
Moment yang sekarang tak bisa didapat lagi oleh anak-anakku.
Seandainya masih ada tukang koran sekarang ini, atau bahkan sepuluh tahun mendatang, aku dan pap pasti masih akan melakukannya.
Bercengkrama di pagi hari sambil menikmati kudapan buatan tangan sendiri di teras rumah.
Menikmati udara pagi yang berbaur dengan aroma kopi.
Menikmati tiap detiknya kebersamaan kami yang mungkin takkan selamanya.
Tapi kini mungkin akan berbeda.
Aku yang membacakan koran untuk pap.
Memaparkan apa isi berita di koran yang sedang up to date.
Melihat binar mata papah begitu hidup saat membaca.
Bercengkrama di pagi hari sambil menikmati kudapan buatan tangan sendiri di teras rumah.
Menikmati udara pagi yang berbaur dengan aroma kopi.
Menikmati tiap detiknya kebersamaan kami yang mungkin takkan selamanya.
Tapi kini mungkin akan berbeda.
Aku yang membacakan koran untuk pap.
Memaparkan apa isi berita di koran yang sedang up to date.
Melihat binar mata papah begitu hidup saat membaca.