Obrolan di suatu sore
"Saya bingung sama anak saya, bund.
Nggak ngerti apa maunya.
Susah betul dibilangin.
Apa-apa marah, apa-apa tereak.
Padahal sudah semua maunya diturutin.
Nggak ngerti saya sama anak saya."
Nggak ngerti apa maunya.
Susah betul dibilangin.
Apa-apa marah, apa-apa tereak.
Padahal sudah semua maunya diturutin.
Nggak ngerti saya sama anak saya."
(Nah loh?!)
Kalau ibu nggak ngerti anak ibu sendiri, bagaimana saya?
Saya ini bukan ibunya loh.
Kalau ibu nggak ngerti anak ibu sendiri, bagaimana saya?
Saya ini bukan ibunya loh.
Dilanjut sama isakan...
Duh
Ini yang ADA dipikiran saya
(Nih yah Bu...kalau ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan anak itu aja nggak ngerti soal maunya anak ibu, apalagi saya yang bukan ibunya).
(Nih yah Bu...kalau ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkan anak itu aja nggak ngerti soal maunya anak ibu, apalagi saya yang bukan ibunya).
"Maaf, itu anak ibu kan? Hmmm...bukan anak angkat?"
"Iyalah bund. Saya yang melahirkan."
(Oke...oke...kalau ibu yang melahirkan, harusnya ibu paham betul tentang dia. Aneh aja kalau ada seorang ibu bilang nggak ngerti anaknya)
"Hmmm...kita harus cari akar masalahnya...baru solusinya."
"Iya bund."
"Ibu kerja?"
"Nggak bund. Dirumah."
(Ini lebih aneh lagi, punya waktu luang banyak bersama anak tapi nggak ngerti anaknya)
"Oke...oke...step pertaman yg akan ibu lakukan adalah pergi bersama dia, berdua saja, no ponsel, no body, hanya berdua saja."
"No hape bund? Nanti kalau suami saya telp bagaimana?"
"Bilanglah ibu ke suami. Bilang betapa pentingnya ini. Nggak usah lama-lama, 2-3 jam saja."
Hmmmm....
(Sepertinya ibu ini ragu...)
Tiktoktiktok....diam beberapa saat.
"Gimana Bu?"
"Cuma sebentar kan, bund?"
"Iya...hanya 2-3 jam saja."
"Berdua saja bund?"
"Yup...berdua saja."
"Hmmm...iya deh bund.
Trus ngapain bund?"
Trus ngapain bund?"
"Terserah....tanya si anak, mau ngapain.
Nonton boleh, ke salon boleh (kbetulan anaknya perempuan), makan berdua boleh, ke toko buku...apa aja deh."
Nonton boleh, ke salon boleh (kbetulan anaknya perempuan), makan berdua boleh, ke toko buku...apa aja deh."
"Ok bund... Trus ngapain lagi bund?"
"Yang kedua, minta maaf."
"Minta maaf?"
"Yah...minta maaf. Mungkin ada kesalahan yang ibu lakukan tanpa sengaja.
Tulus yah Bu, minta maafnya."
Tulus yah Bu, minta maafnya."
"Eeeee...."
"Bisa Bu?"
"Insya اللـه bund. Lalu apa bund?"
"Yang ke tiga, bilang kalau ibu sayang dia."
"Saya sering bilang kok bund."
"Sambil mengerjakan pekerjaan rumah?"
"Eh, iya sih. Mau tidur juga bilang."
"Natap matanya nggak?"
"Eh...sambil nyium kening atau pipi bund."
"Nanti lakukan sambil menatap lembut kematanya. Bilang....mamah sayang kamu. Kamu itu spesial buat mamah. Kalau kamu ada yang mau diomongin, mamah siap dengarkan.
Dah, gitu aja...jangan banyak-banyak.
Sentuh jemarinya, katakan dengan tulus."
Dah, gitu aja...jangan banyak-banyak.
Sentuh jemarinya, katakan dengan tulus."
----krik...krik....hening (lagi membayangkan kali yah nih ibu)
"Trus apalagi bund?"
"Sudah, itu saja dulu Bu...Insya اللـه ada perubahan. N selamat bersenang-senang dengan ananda."
*bukankah setiap anak itu spesial?
Maka, perlakukanlah ia spesial dengan sewajarnya sebagai seorang manusia.
Nggak perlu berlebihan over protective atau kelewat memanjakan, yah Bu....(buat ibunya L)
Maka, perlakukanlah ia spesial dengan sewajarnya sebagai seorang manusia.
Nggak perlu berlebihan over protective atau kelewat memanjakan, yah Bu....(buat ibunya L)
Kopi sore sopi