Seperti tahun-tahun sebelumnya, tanggal ini banyak dinanti oleh banyak orang.
Pergantian akhir tahun merupakan moment yang cukup diminati karena biasanya pada saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan teman.
Hei, lalu selama ini tak pernah berkumpul keluarga?
Di belahan bumi mana pun, perayaan pergantian akhir tahun dilaksanakan dengan cukup meriah.
Tua, muda, anak-anak, semua larut dalam eforia itu.
Tiupan terompet, gempita pesta kembang api dan riuhnya pagelaran musik.
Lalu bagaimana dengan L?
Ketika malam pergantian tahun ini berlangsung, biasanya langit di sekitaran rumah kami tak lagi berwarna hitam pekat.
Bintang gemintang yang biasanya menghiasi langit akan bertambah dengan ratusan kembang api yang berpendar indah menambah semaraknya malam.
Akibat suaranya yang bising, biasanya sulit untuk memejamkan mata di awal malam.
Pilihannya hanyalah keluar menikmati pendaran cahaya itu atau menyumpal telinga kami dengan ear phone.
Sebagai seorang ibu, hal yang bisa aku tawarkan adalah mengajak L keluar rumah dan melihat pesta kembang api dari teras rumah kami.
Mau tau apa jawaban L saat aku mengajaknya keluar, dulu, saat L masih kecil?
"Kenapa orang-orang berisik sekali,bu? aku nggak bisa tidur."
"Karena mereka sedang merayakan pesta kembang api,nak."
"Aku kaget bu, nggak bisa tidur."
"Sa...ma ibu juga. Mau lihat kembang apinya?"
Akhirnya kami keluar dan melihat pendaran cahaya warna-warni itu di angkasa.
Hanya sebentar. Ya, sebentar saj. tak lebih dari 10 menit L sudah meminta masuk kembali ke dalam rumah.
Berlanjut seperti itu terus ke tahun-tahun berikutnya.
Kok bisa?
Ya, bisa.
Biasanya anak kecil akan antusias kan melihat sesuatu yang menyenangkan seperti itu?
Dikasih wejangan apa sampai L nggak antusias tentang kembang api, terompet dan segala hal dengan tahun baru ?
Wejangan? mana bisa kita kasih wejangan ke anak umur 3 tahun?
Waktu saya tanya kenapa? L cuma bilang "Berisik, aku nggak bisa tidur."
Makin besar waktu aku tanya jawabannya "Berisik, bu. Itu kan ganggu orang."
Itu aja, alasannya karena L nggak nyaman.
Atau mungkin juga karena kami orang tuanya tak pernah memberikan contoh seperti itu.
Kami tak merayakan malam tahun baru.
Tidak mengadakan kumpul-kumpul istimewa di malam itu.
Tidak bakar ikan, jagung, singkong, atau apalah.
Tidak menyalakan petasan dan kembang api.
Tidak mencontohkannya.
Apa yang kami lakukan berdasarkan hadist
Berpesta kembang api juga budaya umat Islam.
Apalagi bergadang hingga pagi dan terlewatkan sholat malam dan sholat Subuh.
Mashaa Alloh.
Itu dari pandangan agama.
Acara malam tahun baru pun penuh dengan kemubadziran.
Logikanya gini deh, menurut saya mebakar kembang api atau petasan itu suatu kemubadziran...kesia-siaan.
Sama seperti merokok.
Kembang api itu dibeli menggunakan uang, lalu dibakar.
Logikanya, jika bagian membeli kembang api itu kita hilangkan, jadi tinggal uang dan dibakar.
Buat apa uang dibakar?
Untuk kesenangan sementara?
Untuk mendengarkan teriakan keceriaan anak?
Bagaimana kalau saya kasih kalimat ini...untuk menanamkan akidah yang salah pada anak?
Ngeri kan?
Itu saat L masih kecil, trus sekarang L sudah masuk remaja.
Teman-teman sekelilingnya hampir sebagian besar sudah ribut untuk melaksanakan ritual malam yang meriah.
Kumpul-kumpul, bakar ikan dan jagung, nyalakan kembang api dan tertawa bersama.
Dan akhirnya, betul saja. Undangan itu datang.
Teman-teman SD L minta izin untuk mengajak L kumpul "reunian" di malam tahun baru di salah satu rumah temannya.
Saya hanya bbilang "semoga diizinkan oleh abe-nya."
Saat saya sampaikan pada L tentang undangan teman-temannya, jawaban L adalah berupa gelengan.
Really? gelengan?
Kadang jawaban itu tidak harus dengan kata-kata yang panjang lebar kan?
Sebagai orang tua, saya tetap harus bijakkan?
Akhirnya saya putuskan untuk memberi dua opsi pada L.
1. Meminta temannya untuk menggeser acara menjadi siang atau sore.
2. L tetap memenuhi undangan temannya, tapi hanya datang sebentar dan tidak mengikuti acara malam tahun baru itu.
L mengangguk dan menyetujui dua opsi itu.
Deal ya, L?
Ah, leganya. Alhamdulillah...
L masih bisa tetap menjadi dirinya sendiri tanpa ikut-ikutan terbawa pergaulan teman-temannya karena takut dianggap tak gaul.
Silaturahim itu perlu tapi nggak perlu ikut-ikutan juga kan?
So, maaf kami tidak merayakan tahun baru.
