Rabu, 30 Desember 2015

Maaf, kami tidak merayakan Tahun baruan

31 Desember 2015

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tanggal ini banyak dinanti oleh banyak orang.
Pergantian akhir tahun merupakan moment yang cukup diminati karena biasanya pada saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga dan teman.
Hei, lalu selama ini tak pernah berkumpul keluarga?
Di belahan bumi mana pun, perayaan pergantian akhir tahun dilaksanakan dengan cukup meriah.
Tua, muda, anak-anak, semua larut dalam eforia itu.
Tiupan terompet, gempita pesta kembang api dan riuhnya pagelaran musik.
Lalu bagaimana dengan L?
Ketika malam pergantian tahun ini berlangsung, biasanya langit di sekitaran rumah kami tak lagi berwarna hitam pekat.
Bintang gemintang yang biasanya menghiasi langit akan bertambah dengan ratusan kembang api yang berpendar indah menambah semaraknya malam.
Akibat suaranya yang bising, biasanya sulit untuk memejamkan mata di awal malam.
Pilihannya hanyalah keluar menikmati pendaran cahaya itu atau menyumpal telinga kami dengan ear phone.
Sebagai seorang ibu, hal yang bisa aku tawarkan adalah mengajak L keluar rumah dan melihat pesta kembang api dari teras rumah kami.
Mau tau apa jawaban L saat  aku mengajaknya keluar, dulu, saat L masih kecil?
"Kenapa orang-orang berisik sekali,bu? aku nggak bisa tidur."
"Karena mereka sedang merayakan pesta kembang api,nak."
"Aku kaget bu, nggak bisa tidur."
"Sa...ma ibu juga. Mau lihat kembang apinya?"
Akhirnya kami keluar dan melihat pendaran cahaya warna-warni itu di angkasa.
Hanya sebentar. Ya, sebentar saj. tak lebih dari 10 menit L sudah meminta masuk kembali ke dalam rumah.
Berlanjut seperti itu terus ke tahun-tahun berikutnya.
Kok bisa?
Ya, bisa.
Biasanya anak kecil akan antusias kan melihat sesuatu yang menyenangkan seperti itu?
Dikasih wejangan apa sampai L nggak antusias tentang kembang api, terompet dan segala hal dengan tahun baru ?
Wejangan? mana bisa kita kasih wejangan ke anak umur 3 tahun?
Waktu saya tanya kenapa? L cuma bilang "Berisik, aku nggak bisa tidur."
Makin besar waktu aku tanya jawabannya "Berisik, bu. Itu kan ganggu orang."
Itu aja, alasannya karena L nggak nyaman.
Atau mungkin juga karena kami orang tuanya tak pernah memberikan contoh seperti itu.
Kami tak merayakan malam tahun baru.
Tidak mengadakan kumpul-kumpul istimewa di malam itu.
Tidak bakar ikan, jagung, singkong, atau apalah.
Tidak menyalakan petasan dan kembang api.
Tidak mencontohkannya.
Apa yang kami lakukan berdasarkan hadist 
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.
Budaya meniup terompet adalah budaya bangsa Yahudi.
Berpesta kembang api juga budaya umat Islam.
Apalagi bergadang hingga pagi dan terlewatkan sholat malam dan sholat Subuh.
Mashaa Alloh.
Itu dari pandangan agama.
Acara malam tahun baru pun penuh dengan kemubadziran.
Logikanya gini deh, menurut saya mebakar kembang api atau petasan itu suatu kemubadziran...kesia-siaan.
Sama seperti merokok.
Kembang api itu dibeli menggunakan uang, lalu dibakar.
Logikanya, jika bagian membeli kembang api itu kita hilangkan, jadi tinggal uang dan dibakar.
Buat apa uang dibakar?
Untuk kesenangan sementara? 
Untuk mendengarkan teriakan keceriaan anak?
Bagaimana kalau saya kasih kalimat ini...untuk menanamkan akidah yang salah pada anak?
Ngeri kan?
Itu saat L masih kecil, trus sekarang L sudah masuk remaja.
Teman-teman sekelilingnya hampir sebagian besar sudah ribut untuk melaksanakan  ritual malam yang meriah.
Kumpul-kumpul, bakar ikan dan jagung, nyalakan kembang api dan tertawa bersama.
Dan akhirnya, betul saja. Undangan itu datang.
Teman-teman SD L minta izin untuk mengajak L kumpul "reunian" di malam tahun baru di salah satu rumah temannya.
Saya hanya bbilang "semoga diizinkan oleh abe-nya."
Saat saya sampaikan pada L tentang undangan teman-temannya, jawaban L adalah berupa gelengan.
Really? gelengan?
Kadang jawaban itu tidak harus dengan kata-kata yang panjang lebar kan?
Sebagai orang tua, saya tetap harus bijakkan?
Akhirnya saya putuskan untuk memberi dua opsi pada L.
1. Meminta temannya untuk menggeser acara menjadi siang atau sore.
2. L tetap memenuhi undangan temannya, tapi hanya datang sebentar dan tidak mengikuti acara malam tahun baru itu.
L mengangguk dan menyetujui dua opsi itu.
Deal ya, L?
Ah, leganya. Alhamdulillah...
L masih bisa tetap menjadi dirinya sendiri tanpa ikut-ikutan terbawa pergaulan teman-temannya karena takut dianggap tak gaul.
Silaturahim itu perlu tapi nggak perlu ikut-ikutan juga kan?
So, maaf kami tidak merayakan tahun baru.
                                      

Chicken Roast ala L

Setelah kemarin ajarin keponakan buat cake, hari ini giliran L.
Kita coba resep baru "Chicken Roast".
Kalau sop, semur atau sekedar mie instan sih L dah bisa.
Mumpung libur.
                               
Bahan :
  1. Ayam 1/2ekor, potong-potong
  2. Kentang 1 kg
  3. Peterseli 
  4. Onion 1 bh yang besar
  5. Garlic 1 bonggol
  6. Lemon/ j. nipis
  7. Margarine
  8. Olive oil
  9. Garam
  10. Merica
Cara buatnya:
  1. Cuci bersih ayam lalu lumuri dengan air perasaan lemon, garam, merica dan olive oil, diamkan.
  2. Cuci bersih kentang dengan cara menyikat kulitnya lalu potong kotak ukuran 4X4 cm (kira-kira aja ya).
  3. Aduk potongan kentang dengan garam, merica, olive oil, peterseli dan margarin lalu susun di atas wadah (mau pirex or loyang oke, yang penting tahan panas_.
  4. Bawang putih yg tidak dikupas, di cuci bersih lalu di geprek.
  5. Bawang Bombay setelah dikupas, di potong dadu.
  6. sebar potongan bawang Bombay Dan bawang putih tadi lalu susun diatasnya potongan ayam dan diberi lagi margarin.
  7. Tuang sedikit saja air mineral lalu masukkan ke oven
  8. Oven hingga 45-60 menit dengan suhu 150 derajat C
Gampangkan?
Met, coba

Sabtu, 29 Agustus 2015

Pornografi di facebook

Miris dan sedih...
Itu yang saya rasakan saat melihat postingan-postingan gambar dan video pornografi di facebook.
Ada apa ini?
Sebulan ini, postingan semacam itu, gencar sekali beredar.
Entah ini ulah pesaing facebook yang ingin menjatuhkan citra atau pekerjaan hacker yang iseng.
Yang jelas, ini merusak mental.
Yang membuat prihatin adalah kenyataan bahwa pengguna facebook banyak anak-anak dibawah umur 18 thn.
Entah memang mereka yang membuat sendiri account tersebut, dibuatkan oleh teman atau yang paling menyedihkan, orang tua mereka sendiri yang membuatkan.
Eh, hellloooooo....demi apa?
Demi anaknya tak ketinggalan jaman?
Demi kekinian?
Lalu sekarang saat sedang maraknya peredaran postingan pornografi di wall yang intensitas tayangnya sangat sering, apa yang orang tua lakukan?
Tahukah mereka bahwa dengan sekali saja menonton atau melihat gambar seperti itu, kecerdasan anak akan turun 1%, lalu mereka menjadi ketagihan.

Bayangkan, jika anak berkali-kali melihat postingan ini?

Regradasi mental, kecerdasan dan ahlak....itu tujuan para hacker ini.
Mau dibawa kemana negri ini?
Para orang dewasa di hantam dengan krisis ekonomi,
Anak-anak dihantam dengan krisis moral.
Salah facebook kah?
Saya rasa tidak.
Pernahkah anda para pengguna facebook ini membaca syarat dan ketentuan dalam membuat account ini?
Umur pembuat account tidak boleh dibawah 13thn.
Dan anda menyetujui ketentuan ini, dengan menekan tombol "i accept".
Lalu lihatlah di negri kita ini, negri para pesulap.
Apa-apa bisa disulap dan di sesuaikan.
Hingga usia anak pun bisa kita sulap.
Mereka menuakan usia, agar bisa mempunyai account.
Sekali lagi, untuk apa?
Mencari teman? Bersilaturahim?
Kenyataannya anak-anak diajarkan pamer status, Pamer foto, hingga pamer kemesraan.
Naudzubillahimindzaliq...
Lalu, apa yang harus dilakukan?
Kalau anak diminta menghapus account-nya, pasti misuh-misuh..,nggak bakalan mau.
Gini deh, gimana klw dengan cara yg halus dan nggak memaksa?
Mulailah mengajarkan pada anak, apa arti bersilaturahim yang sebenarnya, apa arti bermain yang sebenarnya.
Beritahukan bahwa they real life, they real friends itu adalah yang bisa dilihat langsung, berbicara langsung, berinteraksi langsung.
Yang di dumay ituuuu yaaaa maya, nggak nyata, nggak real.
Jangan sampai generasi kita menjadi generasi yg tidak bisa membedakan mana yang nyata, mana yang tidak.
Bermain itu adalah interaksi sosial yang menyenangkan.
Bermain itu butuh orang lain, misalnya main bola, main layangan, main kelereng dll.
Bermain dengan gadget, itu bukan arti bermain yang sesungguhnya.
Mulailah menjauhkan gadget, berikan keasyikan bermain dalam dunia nyata, keasyikan bersilaturahmi yg sesungguhnya.
Jika itu terjadi, anak akan lupa pada gadgetnya.
Mereka akan tahu betapa mengasyikannya tertawa lepas bersama teman saat mereka bermain hujan dan terjatuh di kubangan air.
Mereka akan tahu betapa menyenangkannya bisa menangis bersama saat salah satu teman ada yang bersedih.
Mereka akan tahu, gadget itu nggak asyik.
Facebook itu cuma bikin kita menjadi orang yang egois.
Dan mereka mulai meninggalkan itu semua.
Truuuuusssss....kita nih sebagai orang dewasa, mestinya sering-sering bikin postingan yang baik, jangan diam saja.
Seperti salah satu tujuan dari wadah Sejuta Guru ngeBlog yang saya ikuti, yaitu membuat postingan2 positif di medsos mana pun.
Tujuannya, agar postingan2 negatif macam pornografi itu akan cepat tergeser oleh postingan positif.
Jika ada satu juta orang saja yang melakukannya, maka postingan negatif itu lekas tertutup toh? Tergeser ke bottom dan syukur2 nggak sempat kita lihat.
Dan pergunakan medsos dengan bijak, patuhi peraturan yg sudah kita setujui, Insya Alloh...Aaaammaaaan.
*buat para hacker, ada salam dari malaikat izroil...hehehe

Selasa, 25 Agustus 2015

Merindu di hari ke 15

Surat yg kesekian untuk L

Ini sudah hari yg ke 15 kamu meninggalkan rumah, nak.
Air mata ibu, masih saja menetes merindumu.
Namun sekarang ini Lebih banyaknya karena malu dan rasa bersalah.
Terakhir kita bertemu, kamu sudah lebih tinggi beberapa centi dari ibu.
Bukan hanya tubuhmu yang melebihi ibu sekarang.
Sikap dan ibadahmu pun sudah melebihi ibu.
Setiap harinya jam 3 pagi kamu bangun dan tidur jam 10 malam.
Kamu sibuk, super sibuk.
Tp kamu tetap istiqomah mengerjakan qiyamul lail setiap hari.
Ibu mu?
Ah, masih saja suka berat mata bangun saat malam dan meninggalkan rawatib.
Hafalanmu sudah banyak.
Ibumu?
Tilawah pun masih malas2an.
Shaum mu terjaga dgn baik.
Ibu mu?
Dengan berbagai alasan berusaha tak melaksanakan.
Wajib dan sunahmu terjaga.
Lalu, Ibumu???
Malukah engkau punya ibu seperti aku,nak?
Yang seharusnya mengajarkan dan tahu lebih banyak darimu.
Palagi saat teman2 mu bilang, kamu adalah anak yg paling rajin merapihkan kamar.
Bukan hny milikmu, tapi juga milik kawan2mu.
Itu karena kamu terbiasa seperti itu di rumah.
Karena orang tuamu tak se-kaya orang tua teman2mu.
Tak bisa menyediakan orang untuk membantu menyiapkan keperluanmu.
Hingga kamu malah menjadi partner ibu dalam urusan rumah.
Ah, L
Melihat teman2mu turun dari mobil2 mewah diantar supir, kembali hati ibu trenyuh.
Menatap ke dalam matamu.
Kamu hanya diantar oleh kendaraan yg biasa tapi ibu senang karena tak melihat ada perasaan rendah diri disana.
Temanmu banyak, kamu disayangi mereka.
Maafkanlah ibu yg belum bisa menyediakan kendaraan yg layak untukmu, blum bisa membelikan pakaian yg bagus dan mahal untukmu.blum bisa membelikan mainan2 yg kau inginkan,blum bisa memberimu banyak hadiah.
Maafkanlah juga ibu karena kamu selalu harus berjuang untuk apa yg kau inginkan.
Dan kamu tak pernah memintanya.
Dari semua yg kurang, kamu malah selalu memberi lebih pada ibu.
Malukah engkau memiliki ibu seperti ibumu ini,nak?
Yang banyak kekurangan dan tidak bisa kau banggakan?
Kamu adalah belahan jiwa ibu.
Kamu adalah segalanya di dunia ini.
Terima kasih banyak untuk segala kebaikan yang telah kau berikan, anakku.
Ibu mencintaimu, lebih dari apa pun dan siapa pun.
#nangis#lagi#sendiri#insta

Senin, 24 Agustus 2015

Genk mesjid

Tiap-tiap denger adzan, air mataku langsung keluar.
Terutama kalau adzan Maghrib.
Bukan apa-apa, itu semua karena ngeliat beberapa teman berjamaahnya L lewat di depan rumah dan ngelirik2, mencuri2 pandang ke arah rumah kami.
Posisi rumah yang memang berhadapan dengan mesjid jami, membuat siapa pun yang menuju mesjid, akan melewati rumah.
Biasanya beberapa anak sudah berteriak2 memanggil nama L, saat waktu sholat datang.
Tapi kini, tak ada suara2 itu.
Hanya pandangan mata dan wajah2 yang mencuri pandang ke arah rumah.
Entah apa yang mereka pikirkan.
Mereka tahu, L sekarang di Alka.
Mungkin mereka hanya berharap saja atau mengenang senyuman dan lambaian tangan L didepan pintu saat mereka menjemput L.
Ah, anak2 itu...sahabat2 dekat L, mereka semua lelaki dan seumuran L.
Melihat mereka, seperti melihat L sedang tersenyum, berucap salam sambil mencium punggung tanganku saat pamit menuju mesjid.
Duh, kawan...maafkan hati seorang ibu yang merindu ini.
Janganlah kau sebut lagi aku ibu yang lebay.
Merindu itu ibarat bernafas dalam ruang yang kurang oksigen...berat.
Cobalah kau, kawan. Menahan nafas dalam kisaran waktu lebib dari 5 menit.
Seperti itulah rindu, menyesakkan.
Tapi dengan merindu, doa2 yang terhaturkan menjadi lebih khusyu dan panjang.
Seperti itulah ibu padamu,L.
#aku#nggak#nangis#cuma#kelilipan

Ketika semua orang kangen L

Percakapan dengan tukang siomay, kemarin di Al Hidayah.
A=aku  MS=mang siomay

Ms:"sendirian,teh? Ari si pael kamana? Tos lami abdi teu tingal.
(Roaming ya? Baelah, saya translate kan, "teh, sendirian? Fael kemana? Dah lama saya nggak liat).
A :"pan ayeuna, fael teh di pasantren,mang."
Ms:"atuh, pantes we. Biasana sok mesen siomay. Da,pael mah osokna meser engkol hungkul, dibumbuan.
(Pantes, biasanya suka pesen siomay. Sukanya beli kol saja dibumbuin).
A  :"ari mang terang teu, ari fael teh teu resep ka engkol?:
      ( mang tau nggak, fael tuh nggak doyan kol)
Ms:"naha mun meli teh engkol hungkul?"
       (Kenapa kalau beli hanya kol saja?)
A  :"abdi ge heran mang. Ceunah mah, engkol nu amang mah beda, ngenaheun ceunah." (Saya jg heran mang. Katanya kol buatan mang mah beda,enak).
Ms:"ah, si pael mah bisaan wae. Jadi sono,teh. Engke salamnya ti amang. Salam kompak gituh. Biasa sok jamaah bareng pael."
A   :"yeeeeeh si mang mah. Insha Alloh mang, ngke disalamanlah. Ayeuna we ku abdi diwakilan. Wa alaikum salam, mang.:
Ms:"si teteh mah bisa wae."

Itu baru mang tukang siomay.
Tadi pagi, pas daku belanja di tukang sayur n beli gorengan di jembatan 2, eeeeh mereka juga nanyain L.
"Kok ibunya fael yg belanja? Fael kmana? Sakit ya,teh?" Begitu ibu tukang sayur itu bertanya keheranan.
Atau komentar ibu penjual gorengan yg bilang "si mas kmana,mbak? Biasanya mas fael yg kesini."
Begitu daku jelaskan kalau L di boarding, mereka mendoakan L.
Sejak TK B, memang seringnya L yang belanja.
Jadi dia tenar banget di komplek, hehehe.
Dan ketika peran itu diambil alih daku, banyak yg merasa kehilangan.
Tuuuuuh L, bukan cuma ibu yg kangen.
Bukan cuma ibu yg lebay, hehehehe
(Kang siomay nya nggak mo di poto, ntar candid deh kapan2. Jadi pake poto L sedang belanja di tukang sayur).
#saat#semua#kangen#L

Rindu ini...ah

Sepertinya L memang betul2 rindu pada ibunya.
Rindu bertemu,
Rindu dipeluk,
Rindu bobo bersama,
Baru ketemu, langsung bilang "aku ngantuk,bu."
"Ah, itu kan cuma alasan supaya kamu dipeluk ibu lama, kan L?" Ujarku dalam hati.
Ibu jg rindu sekali,L...
Mari sini,nak....ibu akan peluk erat kamu, menyalurkan semua energi baik dan positif, supaya kamu menjadi kuat dan hebat.
#perjalanan#menuju#taman#kencana#bogor

Hafalan lagu VS hafalan Al Quran

Review perjalanan hari minggu kemarin dengan L.

Karena perjalanan dari Bekasi -Alka-Bogor-Alka-Bekasi....macettt banget,
untuk menghilangkan kebosanan, aku dengerin musik dari tab.
Eeeeh,  pas denger lost stars nya adam levine, langsung deh komat kamit ngapalin lirik lagunya. Kereeeeen lagunya.
Ternyata bukan cuma aq, L di mobil pun komat kamit.
"L pasti lagi baca doa naik kendaraan,deh," itu fikirku sambil melirik ke arahnya.
Tapiiii...kok sepanjang perjalanan, mulutnya tetap komat kamit terus.
Penasaran, akhirnya Aku tanya "kamu lagi menghafal ya,L? hafalin apa,nak?"
"Hafalin surat bu, mau nambah hafalan juz-nya."
Jleeeeeb, Ya Alloh...beneran deh pengen nangis.
Anaknya sholeh....emaknya masih rock n roll an aja.
Anaknya ngapalin al Quran, emaknya ngapalin lirik lagu.
-_-' :'(

#ibu#macam#apa#aku

Ukuran Alloh adalah ketaatan bukan kekayaan

Memasukan anak di sekolah anak" orang kaya tuh, bikin hati sedikit deg deg an.
Dengan uang masuk sebesar hampir 60 juta dan uang bulanan 5,9 juta, terbayangkan seberapa besar kekayaan orang tua siswa disana, kan?
Itu baru dari segi penghasilan orang tua.
Dari segi prestasi dan tingkat kecerdasan pun, sangat-sangat bersaing ketat, karena meski beruang, tak sembarangan anak bisa masuk sekolah ini.
Tes masuknya lumayan sulit dan mengikuti beberapa penyaringan.
Mereka adalah anak-anak yg terbiasa dengan fasilitas yg lengkap dan mahal.
Mereka anak-anak orang kaya yg mempunyai segudang prestasi karena selain pandai juga punya kesempatan untuk ikut les ini itu.
Mereka adalah anak-anak the high yg biasa diantar pak supir dengan mobil-mobil mewah kepunyaan orang tuanya.
Diantara mereka ada yg sudah ber haji, ber umroh tiap tahun, juara renang, juara piano, hafal lebih dari 5 juz, sampai bulak balik liburan ke luar negri.
Subhanalloh...
Yang bikin deg-deg an...
Apa L nggak akan minder dengan keadaan teman-temannya?
Apa L nggak akan malu dengan kondisi orang tuanya?
Kami, orang tua L tidak mempunyai penghasilan sebesar orang tua lain dan L masuk ke Alka lewat jalur beasiswa, jadi tak membayar sebesar itu.
Saya pernah tanya ini ke L minggu yg lalu by phone (karena saya tdk ke Alka).
Jawabannya adalah "enggak,bu. Aq malah suka ngelucu klw sama mereka. Temen2ku orangnya serius2. Jadi, biar rame...aku nge lucu aja."
"Ngelucu apa,nak?" (Nggak ngerti saya)
"Yaaaa....aq ceritain cerita2 lucu gitu bu. Trus mereka suka ketawa2 dan suka nyariin aku."
"Temenmu, bapak ibunya kaya-kaya loh,nak. Kamu nggak minder nih, bener?"
"Nggak lah, bu. Kan dimata Alloh..sama aja."
Alhamdulillah...denger jawaban L, hati jadi lega.
Bukan apa-apa, masa2 seusia L adalah masa ketika ego mulai muncul. Mencari eksistensi diri, merasa perlu untuk membuktikan ke"aku"an.
Membanding-bandingkan diri dengan kawan lainnya.
Dan salah satu caranya bisa dengan memamerkan kekayaan orang tua.
Alhamdulillah, di asrama dan sekolah, pihak Alka menerapkan banyak peraturan yg membuat anak merasa sama dengan yg lainnya.
Misalnya, tidak boleh memakai jam tangan yg harganya lebih dari 200 rb.
Atau uang saku anak perminggu tidak boleh dari 50 rb.
Jadiiii...mau dia anak orang kaya atau pun tidak, semua sama.
Nggak ada yg pamer barang mahal, hehehe
Tapiii...tetep aja kan, begitu waktu besuk tiba, kelihatan siapa orang tua yang kaya.
Jangan-jangan, saya nya ini yg minder?
Alhamdulillah, nggak sih.
Bener kata L, dimata Alloh...kita semua ini sama. Yg membedakan hanyalah amalan.
Kalau cm jd orang kaya aja sih, banyaaaaak.
Jadi orang yg bermanfaat untuk orang lain itu yg masih sedikit.
Alhamdulillah juga, orang-orang tua di Alka, meski sebagian besar berasal dari golongan atas, mengikuti tauladan Ustman bin Affan, sahabat Rosululloh yg sangat kaya itu, mereka sangat2 ramah dan asyik.
Nggak sombong dan merasa paling baik.
Yang akhirnya tercermin pada perilaku anak-anak mereka.
So, i feel lucky...Alhamdulillah
L bisa tumbuh menjadi lelaki yg tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal tapi mempunyai rasa kepercayaan diri yg baik.
Karena, sekali lagi, di mata Alloh...kita ini sama.
Kita bisa lihat di sekeliling, bahkan masih banyak diantara kita, yg sudah dewasa, masih saja membanding-bandingkan harta yang kita punya dengan orang lain.
Ukurannya masih soal harta dan kekayaan saja.
Padahal, Ukuran Alloh adalah soal ketaatan bukan kekayaan, soal kebermanfaatan bukan banyaknya harta.
*eeeaaaa pagi-pagi dah sok-sok an tausyiah. Maaf yak..
Itu foto L bareng teman2nya di Asrama
#senyum#semangat#pagi#semua

Senin, 13 Juli 2015

Demi sepotong dua potong baju baru

Semua pusat perbelanjaan dan pasar penuh sesak.
Itu fenomena biasa yang kita lihat menjelang hari raya tiba.
Semakin mendekati hari H, semakin padatlah pengunjungnya.
Lumrah, biasa, jamak, demikianlah adanya pendapat masyarakat.
Yang dibeli tak cuma bahan-bahan pokok, semua keperluan hari raya juga turut di beli.
Baju baru, sepatu baru, jilbab baru, koko baru, sendal, celana, kaos, dalaman hingga perabot baru.
Maklumlah, hari Raya, ngga afdhol kalau tidak baru.
Mall yg memakai pendingin ruangan pun terasa panas seperti di pasar tradisional saking padatnya.
Yang menarik perhatian saya adalah banyak sekali orang tua yang membawa anaknya berbelanja keperluan hari raya ini, terutama balita.
Saya perhatikan betul raut wajah mereka.
Bete, kesal, diam atau bahkan malah banyak yang menangis.
Ada pula yang cuek lelarian sana sini tanpa menghiraukan ucapan orang tuanya yang saya perhatikan memakai nada oktaf tinggi.
"Sayaaaaaang...ayo coba sini bajunya!"
Anaknya tetep cuek lelarian.
"Sayaaaaaaaaang...sinih cobain dulu!!!"
Kali ini bundanya menaikkan nada lebih tinggi dan panjang disertai tanda seru 3 buah.
Anaknya menoleh, tapi tetap saja lelarian. Hahaha
Selanjutnya, bisa di tebakkan?
Bunda tadi menghampiri anaknya, menarik tangan anaknya dengan kasar, lalu menggeret ke tempat baju yang tadi dipilihnya.
Alhasil, terjadilah kejadian ruarrrr biasa.
Meledak tangisan si anak.
Runyam, si bunda terus mengoceh memarahi anaknya, si anak makin keras tangisannya, laluuuuu....
Mulailah tangan beraksi, Cubit.
Naaah, tuh kan?
Bundanya jadi ngga nyaman belanjanya.
Anaknya pun sama, engga nyaman.

Seringkan kita temui kejadian seperti ini?
Yang buat saya heran adalah jika kejadian seperti ini sering sekali kita temui, kita lihat, kita alami, mengapa masih saja ada orang tua yang membawa anaknya berbelanja baju lebaran pada saat peak seasson seperti ini?
Yuk kita analisi, jawabannya pasti beragam.
1. Kan baru dapat THR-nya sekarang, jadi ya baru bisa ajak anaknya beli baju yaaaa pas deket2 lebaran gini (sebutlah dia, ayah A).

2. Bawa anaknya biar ukurannya pas, ngga usah tuker2 lagi dan bulak balik. Kalau engga bawa anaknya, takut ukurannya kekecilan atau kebesaran (sebutlah dia, bunda T).

3. Biar anaknya milih sendiri baju atau sepatu yang dipengen. Kalau engga bawa anaknya, suka engga cocok (sebutlah dia, ibu W). Hmmm...terdengar bijak ya alasannya.
4, 5, 6, dst, pasti masih banyak alasan yang lain.

Saya sih cuma bisa membalikkan jawaban mereka sendiri dengan pertanyaan2:
1. Kenapa harus pas peak seasson membeli perlengkapan hari raya?
Bisakan membelinya jauh2 hari. Disimpan di dalam lemari lalu di pakai saat hari raya. Hari raya memang identik dengan baju baru, tapi apa membeli baju itu harus ketika hari raya tiba saja? Sebelum belumnya anda tidak pernah membelikan pakaian untuk anak anda? Itu salah satu kewajiban anda sebagai orang tua loh.

2. Engga tau ukuran anak?
Hmm...itu anak siapa ya? Seharusnya sebagai orang tua, andalah yang paling tahu anak anda. Apa ukuran bajunya, apa ukuran sepatunya, apa warna favoritnya, model seperti apa yang anak anda suka.
Agak aneh ya kalau anda tak tahu siapa anak anda sendiri.
Saya berikan tanda tanya besar untuk alasan ini.
Jangan-jangan itu anak si mbak ya?
Hahaha...bercanda.

3. Anaknya sendiri yang pengen ikut ke mall.
Hmm...ini beda lagi. Jika memang anaknya yg ingin ikut ke mall, tak mengapa. Tapi ingatlah kenyamanan anak adalah yang utama. Apalagi buat anak2 yg sedang di latih berpuasa. Kita saja yang dewasa suka merasa lelah setelah berbelanja, apalagi mereka.
Tak perlu menggunakan nada tinggi, palagi menambah dengan keterampilan tangan.
Jika ingin mencoba pakaian, anda yang menghampiri anak.
Bukan anak yang dipaksa menghampiri kita.
Tanyakan juga, apakah mereka sudah merasa lelah?
Jika iya, lebih baik segera pulang.
Atau anak dapat melakukan aktifitas lain dengan bermain di tempat bermain anak yang biasanya tersedia di mall2.
Jangan sampai sepotong dua potong baju baru, melukai perasaan anak anda.
Sayang sih sayang, namun alangkah baiknya jika dengan cara yang baik.
Setuju???

So? Met hunting sale ya, mommies...

Jumat, 26 Juni 2015

Belajar menerima kekalahan dari anak

Dan, lulusan terbaik tahun ini....a-da-lah...Ramandha Au-ryl...
Plok..plok...plok...seisi ruangan itu bergema dengan suara tepuk tangan.
Piala lulusan terbaik jatuh pada pemegang NUS tertinggi di sekolah.
Itu adalah Auryl..,saingan terberat L.
Aku langsung khawatir dengan suasana hati L.
"Gimana ya dia? Apakah akan menerima kekalahan ini?"
Ku lihat air mukanya.
Tampak tenang dan biasa saja.
"Gimana isi hatinya?"
Ku hampiri L dan bertanya "kamu ngga apa-apa?"
"Ngga apa-apa? Kenapa bu?"
"Nilai NUS mu dibawah Auryl gitu, kamu cuma peringkat ke dua, kamu ngga apa2?"
Eh, malah nyengir dia dan bilang "engga apa2 lah. Biar deh Auryl seneng. Sekali-kali lah bu. Masa aku mulu."
"Dih, NUS kan emang cuman sekali,L."
"Ya udah lah. Ngga apa-apa."
Kulihat kedalam matanya, beneran...ngga apa-apa.
Ngga kelihatan sedih
Ngga ada marah
Ngga ada kecewa
Ku tanya lagi "kamu ngga kecewa,L?"
"Dikiiit sih,tapi ya udah lah. Ngga bisa di ulang juga."
Iya sih, ta-pi...
Hghghg ini sih kayanya emaknya yang kecewa.
Trus harus gimana?
Marahin tuh anak? Buat apa?
Ngga akan merubah nilainya.
Palingan hanya untuk melampiaskan rasa kecewa aja.
Selanjutnya apa?
Sedari tadi , memang terlihat ada raut penasaran dan raut wajah-wajah cemas menanti hasil pengumuman NUS ini.
Baik orang tua mau pun siswa.
Termasuk Auryl yg duduk di sebelahku.
Sementara mereka kelihatan cemas, L kelihatan santai saja.
Anak itu tak pernah menunjukkan "eforia" yg berlebihan dalam berbagai hal.
Ngga lebay macam emaknya hghghg
Saat mendapatkan juara, L santai, ngga pernah terlihat senang yg berlebihan, ngga minta hadiah apa pun, ngga juga menuntut dibelikan ini itu.
Saat menerima kabar kekalahannya, L juga tetap santai.
Ngga kelihatan sedih, ngga juga jadi marah.
Cueeeek aja.
Ini pelajaran yang ku ambil.
Setiap orang selalu SIAP menghadapi hal-hal BAIK dalam hidupnya,
Tapi belum tentu SIAP menghadapi hak-hal BURUK dalam hidupnya.
Selepas pengumuman tadi, terlihat raut-raut wajah sedih dan bahagia.
Anakku?
Ah, dia mah masih tetap dengan raut wajah sebelum pengumuman NUS...Santai.
Sebagai orang tua sekaligus partner nya L dalam hidup, yang bisa kami lakukan adalah tetap menghargai dia dalam keadaan apa pun.
Bukan hanya saat dia berprestasi saja dan mengharumkan nama kami,
Pun saat L tidak menjadi apa-apa, kami tetaplah sahabat terbaiknya.
"Ibu kecewa?"
Sekarang L balik nanya sesampainya di rumah.
"Dikiiit, tapi mau gimana lagi? Kamu ibu hukum ya?"
"Idiiiih, ibu. Kan ibu doain yang terbaik. Ini yang terbaik menurut Alloh."
Yeeeey, malah nasehatin ibunya.
"Ini memang sudah yang terbaik bu."
"Dah pinter ya, pinter nasehatin ibu."
"Tapi benerkan,bu? Ngga dihukum kan?"
"Hukum, ah."
"Ngapain? Mijitin ibu?"
"Ya terserah..." *ini mah ibunya yg modus
"Ya udah,deh."
Jadi, hari ini ditutup dengan pijitan tangan L di kening dan punggungku.
Ah, Sesuatu yang akan aku rindukan saat kamu masuk boarding school nanti.
L, NUS hanyalah angka.
Ibu tetap bangga sama kamu, karena kamu sudah bisa menyikapi dengan baik kekalahanmu hari ini.
Dengan kesalahan dan kekalahan, kamu jadi bisa belajar.
Nak, tetaplah menjadi "guardian angel" ibu, yang selalu menjaga dan mengingatkan ibu lewat perbuatanmu yang baik.
I luv u much much more, thufael tsabit norhikawa
#backsound#berhenti#berharap#SO7#reff-nya#aja

Minggu, 21 Juni 2015

PR saat liburan, Ngga Asik banget!

Selain karena masuk bulan Romadhon, kegiatan KBM juga di liburkan karena anak-anak sudah bagi raport.
Kegiatan pembelajaran di liburkan selama kurang lebih 2 mingguan.
Libur? Waaaah senangnya.
Et, belum tentu.
Ada sebagian sekolah yang memberikan Pe-eR untuk dikerjakan anak selama liburan.
Alasannya sih, agar anak tidak terlalu banyak bermain dan tetap mau belajar, meski itu disaat libur.
What?!
Guru yang enggak asik!
Itu mungkin yang pertama terlintas di benak anak-anak.
Libur ya artinya pre-i...free...senang-senang, tidak terbebani tugas, refreshing, dll.

Sama seperti kita orang dewasa, anak juga manusia.
Gimana rasanya saat kita cuti, liburan, nah si boss malah ngasih pe-er setumpuk.
Waaaaah...ini mah bukan libur. Ya kan?
Bete, mingsut-mingsut, kesel, marah, lah...mending ngga usah cuti kan?!
Begitu pun dengan anak.

Sedikit cerita,
L punya sahabat dekat yang rumahnya jauh.
Persahabatan mereka sudah berjalan selama 7 tahun.
Dari Tk A sampai kelas 5.
Loh knapa cuma sampai kelas 5? Bukannya L sekarang kelas 6?
Gini nih ceritanya, karena rumahnya jauh dan sekolah yang berbeda, setiap liburan sekolah, temannya itu selalu menginap di rumah.
Buat L, dia adalah teman terbaik karena selalu nyambung saat ngobrol dan asik di ajak main.
Hubungan saya dan orang tua anak ini,hmm..sebut saja ia A, Juga sangat dekat.
Jadi, menginap sampai satu minggu pun di rumah, tak masalah.
Permasalahannya ada ketika A ini selalu membawa pe-er yang diberi dari sekolah saat liburan.
Sementara di sekolah L, pihak sekolah tak pernah memberi peer harian apalagi peer iburan.
Itulah salah satu alasan saya memilih sekolah buat L.

Awalnya, L tidak terganggu dan selalu membantu A mengerjakan peer-nya.
"Kasian bu, lagian klw peer nya cepat selesai, aku bisa main," itu kata L.
Setiap semester selalu begitu.

Seperti biasa, saat liburan di rumah selalu banyak anak yang menginap.
L sudah mulai mempunyai teman- teman dekat yang lain sekarang ini selain A. Tempat tinggal mereka tak jauh dari rumah kami.
Namun A pun masih suka menginap saat liburan sekolah.
Seperti biasa, A datang menginap membawa banyak tugas dari sekolah.
Ternyata, semakin tinggi kelasnya, ternyata peer yang di berikan dari sekolah A semakin banyak.
Sebelum meninggalkan ehhmm menitipkan A menginap di rumah, ibunya memberikan banyak wejangan.
A jangan lupa peer nya dikerjakan.
A nanti kalau engga bisa, tanya L aja..ya L? Nanti bantuin A,ya?
L hanya menjawab "hm" sambil terus menatap ke arah layar tv dan memainkan stick PS.
"L, jangan lupa ya?" Ibu A mencari jawaban pasti dari L.
Lalu ia memberi setumpukkan tebal buku dan lembar kerja pada anaknya.
"A, ini kerjain semua, nanti ustadz marah kalau engga selesai."
Aku yang sedari tadi diam dan melihat lalu nyeletuk deh jadinya "kalau engga selesai gimana?"
"Kalau engga selesai, ya aku bantuin."
"Bantuin gimana?"
"Ya, aku kerjain."
LHAH?!
Ini sih, tetap aja anak ngga tuntas bertanggung jawab terahadap tugas yang diberikan kalau ibunya juga yanh mengerjakan.
Lagi-lagi, memgajarkan ketidak jujuran. Hadeuuuh.
"kalau liburan kenapa peer nya seabreg gitu sih? Engga kasian sama anak?"
"Kasian sih, tapi kata ustadz dan gurunya, ini biar anaknya mau belajar."
WHAT?!
Aku ngelirik ke arah anak itu, A. Mukanya bete banget.
Eh, bukan cuma A deng, L juga.
"Dah ya, L, A. Mamah pulang dulu. Pamit ya,da. Nitip A."
Eeeeeh... nih ibu, kesian banget tuuuuh anaknya.
Setelah itu, aq masuk kamar.
L dan A ada di ruang tamu.
Hening...tak seperti biasanya.
Biasanya terdengar obrolan seru dan tawa canda jika mereka bertemu.
5 menit, 10 menit, 15 menit...masih saja hening.
Aku keluar kamar,penasaran,aku lihat di ruang tamu, L masih saja asik main PS dan A, Masya Alloh...dia langsung mengerjakan soal-soal yang se abreg itu.
Ya wis...aman berarti, fikirku.
Tak lama, beberapa teman baik L di sekitar rumah datang.
Mulailah keramaian ala anak laki-laki di rumah.
Ah, back to normal...aku senang.
Satu jam kemudian, aku keluar kamar.
Satu, dua, tiga, empat anak laki-laki tapi tak ada A.
"A, kemana L?"
"Pulang ke rumah mamah teteh," jawab L
Mamah teteh demikian panggilan L untuk bu de nya A yang rumahnya dekat dengan rumah kami.
"Naik apa,A? Dianterin kamu?"
"Jalan kali bu."
"Lah kok? Kenapa ngga kamu anter naek sepeda?"
"Engga ah, males."
"Kasian loh,A."
L engga menjawab apa2, dia masih asik bermain PS dengan temannya yg lain.
Ku cek by phone, iya, ternyata A sudah sampai k rumah budek nya.
Sore...A ngga balik-balik ke rumahku.
Biasanya, mereka engga pernah bisa berpisah lama.
Nanti A yang dirumah, pulang sebentar k rumah bude nya diantar L, ambil baju trus balik lagi ke rumah bareng L.
Kemana mana bareng, ngga pernah bisa lepas kaya amplop dan perangko.
Akhirnya aku panggil L dan bertanya "kamu kenapa sama A,L?"
"Engga kenapa napa,bu."
"Kok, tumben dia pulang ke rumah mamah teteh ngga kamu antar? Sore ini juga, kamu engga samperin dia?"
"Engga apa-apa kok."
"Jangan karna punya teman baru, teman lama dilupakan,L. Ngga baik itu."
"Bukan begitu,bu. A nya aja yang pengen pulang sendiri. Aku kan lagi asik main PS, dia nanya-nanya terus soal pelajaran. Aku males jawabin nya. Trus engga lama dia pulang deh."
Oh, i see... itu ternyata masalahnya.
L merasa terganggu dengan PR nya A dan A merasa L bukan teman yang baik karena engga bantu dia mengerjakan PR.
Hallooooo.....
Ini liburan...libur...free day.
Saatnya tidak memikirkan tugas, tidak pusing dengan buku yang engga asik dan saatnya bermain yang banyak.
Kalau kata L "Saatnya Main sampai sakit"
Hahahaha...
Study hard, play hard.

Trus engga boleh dong kasih PR ke anak saat liburan?
Idealnya sih begitu, tapi kalau pun mau memberi PR, mbok yaaaa yang menyenangkan.
Ngga mulu mesti berkutat dengan buku dan soal-soal.
PR nya bisa tentang pengamatan, analisis atau tentang pengalaman.
Yaaaa ngga jauh-jauh pembahasannya ttg liburan.
Alasan supaya anak tidak banyak bermain itu alasan yang dibuat-buat menurut saya.
Apa yang salah dengan bermain?
Dengan bermain, anak pun bisa belajar banyak kok.
Saya masih suka heran dengan pemikiran guru dan orang tua yang ketakutan jika anaknya banyak bermain.
Tugas anda, untuk mengarahkan kata bermain menjadi bermain yang bermakna, bukan menghilangkan masa bermain.
Kepandaian bukan karena melulu mengerjakan tugas...logika, instuisi dan kepekaan lebih bernilai dari pada itu.
Setuju???
Cobalah menempatkan diri menjadi anak-anak kita.
As usually saya ingatkan kembali
KITA PERNAH SEUSIA MEREKA, TAPI MEREKA BELUM PERNAH SEUSIA KITA
Jadi, kitalah yang harus mengerti mereka, bukan mereka yang mengerti jalan fikiran kita.

So?
Hapuuus Pe er!
Turunkan harga! Lhoh?!
Demi kebahagiaan anak-anak kita!

Rabu, 17 Juni 2015

Agar anak tetap menghujami anda dengan pelukan dan ciuman hingga mereka besar

Assalamualaikum....
Pagi pertama di bulan Romadhon 1436 Hijriah.
Pagi ini cuaca cukup bersahabat seperti biasanya, hanya tak ada aroma kopi yang menemani.
Hmm...yang ada adalah aroma ibadah.
Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kelancaran beribadah shaum yaaa,Aamiin.

Hari ini...mau bahas soal pelukan dan cium...hug n kiss.
Tetaaap...kaitannya dengan parenting dan anak-anak yaaa...

Seberapa sering sih anda memeluk dan mencium anak?
Apa sih manfaat pelukan dan cium bagi anak?
Apa juga Manfaat bagi hubungan antar orang tua dan anak?

Seperti biasa, jawabannya adalah beragam.

"Saya sih sering banget meluk anak, nyium2 pipinya, gruwel2-in perutnya, ngitikin kakinya.yaaaa setiap hari lah, terutama klw mau tidur."(sebut saja dia ibu mawar)
"Saya seneng banget nyium2 anak saya, tapi anak saya suka enggak mau tuh, katanya ayah cukur dulu, dicium ayah ngga enak, sakit."(sebut saja dia bapak budi)
Naaaah, tuh pak...cukur hehehe
" Saya jarang meluk n cium anak. Biasanya, anak yang suka nyiumin saya."(sebut saja dia bapak jaim)
Lhah?!
"Anak saya mau dicium n di peluk kalau di rumah aja. Kalau di depan umum suka ngehindar, malu katanya sama teman2."(sebut saja dia ibu nona)
Hmmm..,banyak sih yang kaya gini.

Biasanya jika anak2 masih balita dan belum masuk sekolah, mereka akan suka rela, malah menagih pada kita untuk di peluk dan di cium.
Bahkan mereka sendiri yang akan bertubi2 menghujani kita dengan pelukkan dan ciuman.
Even itu di tempat umum dan di hadapan banyak orang.
Menyenangkan bukan?
Bau tubuh mereka yg masih berbau bayi, terasa masiiiih menempel di hidung kita walau pun kita sudah berada di kantor.
Ngangeniiiin
Tapi jangan harap mereka akan melakukannya lagi saat mereka mulai masuk sekolah dan mengenal banyak teman.
Boro2 menghujami kita dengan ciuman, di peluk di depan sekolah aja langsung menampik dan bilang "udah ah yah, bu...aku malu sama teman2."
Mereka ngga mau dianggap anak kecil lagi.
Tapi ada loooooh anak2 yang beranjak remaja masih melakukannya di depan umum.
Masih mau di peluk dan di cium di depan teman-temannya, merangkul mamah papahnya seperti sahabatnya sendiri.
Suka ngiri ngga kalau lihat yang begitu?
Pengen ngga hubungan kita dan anak bisa seperti itu, walau pun dia beranjak besar dan dewasa kelak?

Alhamdulillah anakku L masih mau aq cium dan peluk meski dihadapan orang banyak.
Dia engga perduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya.
Yang ia perdulikan adalah perasaan ibunya terhadap dia.
Jadi, engga ada tuh omongan "ntar malu sama temen2."

Mau tau ra-ha-si-a nya?
1. Jadilah sahabat baik ànak.
     Prosesnya enggak sebentar tapi jg ngga susah kok.
2. Hargailah perasaan anak.
     Dengan menghargai perasaanya, anak akan menghargai kita.
3. Jadilah orang tua yang membanggakan.
    Jangan hanya menuntut anak untuk bisa berprestasi dan membanggakan sementara kita sebagai orang tua menuntut anak untuk menerima kita apa adanya.

Jika menurutnya kita adalah orang tua yang terbaik, yg asik dan meñgerti perasaannya, dia yang akan tetap terus menghujami kita dengan peluk dan ciuman.
Biasakan juga memeluk dan mencium anak, karena menurut beberapa penelitian, banyak sekali manfaatnya loh...pak, bu, setidaknya ada 6 Manfaat Memberi Pelukan Pada Anak :

1. Pada bayi yang lahir prematur, pelukan hangat dari sang ibu akan membuatnya lebih kuat.
Mempercepat perkembangan tubuh serta otak.
Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Bliss Hospital di Montreal, disimpulkan bahwa bayi prematur yang dipeluk oleh sang ibu akan menjadi lebih cepat kuat,
sehat dan besar daripada bayi yang hanya ditempatkan di inkubator saja. Sebab ketika sang bayi dipeluk, ia akan merasa nyaman sehingga mempunyai energi baru.

2. Sebuah pelukan akan jauh lebih efektif bila dibanding dengan kata-kata pujian dalam memengaruhi perilaku seseorang.
Para praktisi ahli telah membuktikan hal ini.
Banyak kasus konflik yang terjadi antara ibu dan anak ternyata bisa lebih cepat teratasi hanya dengan pelukan. Seorang anak akan berubah begitu drastis menjadi lebih tenang dalam hitungan menit setelah mendapat pelukan.

3. Pelukan bisa menjadi media untuk mengatasi anak-anak yang berperilaku unik.

4. Sebuah pelukan dapat memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak. Berdasarkan penelitian psikolog Edward R. Christopherson. Ph.D, pelukan jauh lebih efektif daripada pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai.

5. Sebuah pelukan sederhana bisa menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

6. Dalam bukunya 'The Hug Therapy', psikolog Kathleen Keating menyebutkan bahwa pelukan juga dapat meningkatkan kecerdasan otak dan IQ anak.

Anak yang sering di peluk dan di cium juga akan tumbuh menjadi pribadi yang hangat, menyenangkan dan ber empati tinggi.

So, sudah memeluk dan mencium anak andakah pagi ini?
Sudah siapkan menjadi orang tua yang asik dan membanggakan? Biar nanti mereka akan tetap menghujami kita dengan peluk dan cium hingga mereka dewasa kelak, Aamiiin.

Minggu, 07 Juni 2015

Jalur depan-belakang

 Pagi-pagi sekali, saya sudah mendapat pesan begini.
"Bund tau engga sekarang berapa ya biaya buat masuk jalur belakang?"
"Jalur belakang apa mom?"
"Itu loh bund, biaya buat masuk sekolah negri."
"Loh, memangnya bayar ya?"
"Ya engga sih bund. Ini kan yang masuk jalur belakang."
"Wah, saya engga ngerti tuh, mom. Saya juga engga tahu berapa besar biayanya lewat jalur begituan."
"O, ya wis bund. Tapi,bund. tau engga, kira-kira sekolah mana ya yang bisa nerima jalur belakang?"
"Wah, lagi-lagi saya engga tau,mom. Kenapa engga lewat depan aja,mom?'
Kali ini saya jadi ikut-ikutan pakai istilah depan-belakang,deh.
"Saya engga yakin, bund. Anak saya bisa masuk kalau lewat depan."
Lah?
Kenapa harus lewat belakang kalau bisa kulo nuwun dengan baik lewat pintu depan,ya?
Engga yakin dengan kemampuan anak?
Trus kenapa harus dipaksakan?
"Bunda sih enak, anaknya pinter. Nilai-nilainya selalu bagus."
Itu biasanya yang mereka lontarkan saat saya menyarankan lewat jalur resmi untuk mendaftarkan anaknya.
Eeeeeh, ngga gitu juga kali mom, alasannya.
Kalau anak saya bisa lewat jalur depan, itu karena kerja keras dan kemampuannya sendiri.
Kami tak pernah paksakan dia untuk masuk sekolah terbaik kok.

Tapi...gitu deh.
Masih banyak saja orang tua yang tidak percaya dengan kemampuan anaknya.
Menghalalkan segala cara agar anak bisa mendapatkan tempat terbaik.
Ngga apa-apa sih kalau caranya itu baik.
Lah ini...
Akhirnya, saya balas lagi message dari ibu itu.
"Gini loh, mom...percayalah dengan kemampuan anaknya sendiri. Setahu saya, untuk masuk sekolah favorit seperti SMPN yang itu tuh, nilai minimal rata-ratanya hanya 7,8 saja kok."
"Oh gitu,bund? Kalau Nilai UN nya bagaimana?"
"Nilai UN-nya, tahun kemarin minimal 27,15."
"Naaaaaah itu dia, bund. Kayanya engga mungkin kalau si kakak nilai UN nya bisa segitu."
"Tuuuh kan, lagi-lagi mengecilkan kemampuan anak.
Bukan mengecilkan anak,bund. Yaaaa sadar diri aja segimana kemampuan anak."
"Nah tuh...trus mamah masih mau tetap memasukkan si kakak ke sekolah favorite itu meski nilainya ngga cukup?"
"Iya lah, bund. Prestice itu,bund."

Lah mom, katanya sadar akan kemampuan anak? Kalau dengan cara seperti itu, bukannya berarti mamah sudah tidak jujur ya? Mamah tidak sadar akan kemampuan anak.
Mamah menjadi tidak jujur pada diri sendiri, pada anak, pada pihak sekolah, pada masyarakat, terlebih lagi pada Tuhan.
Demi apa? 
Demi "harga diri."
Okelah, pada saat anak bisa masuk ke sekolah favorit itu, apakah masalah sudah selesai sampai situ?
Cukup sampai anak bisa masuk sekolah?
Saya rasa,tidak.
Anak kan akan menjalani hari-hari berikutnya di sekolah itu.

Baiklah mari kita berusaha menjadi manusia dewasa sekarang, menempatkan diri diluar diri kita dan memandang persoalan ini dari sudut mana pun.

Apa yang terjadi jika anak masuk ke sebuah sekolah melalui "jalur belakang?"

Dari segi kebaikannya dulu deh.
1. Kereeen, anak bisa masuk sekolah favorit di kota ini.
2. Keluarga dan tetangga pasti memuji doooong.
3. Anak akan mendapatkan lingkungan belajar yang baik dan berkualitas. Yaaaa...syukur-syukur anak bisa termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
4. Harga diri...sekali lagi, harga diri...bisa naik dooong. Hehe

Hmmm...baru segitu saja yang bisa saya fikirkan tentang kebaikan atau keuntungan dari jalan ini.

Trus apa kekurangan dari cara ini?
1. Anda menjadi pembohong.
2. Anda mengajarkan anak untuk menjadi pembohong dan biasa hidup tidak jujur bahkan sampai tua.
3. Anak akan selalu menjadi murid dengan prestasi belajar yang paling belakang karena memang kemampuannya dibawah teman-temannya yang lain di sekolah itu.
4. Anak menjadi frustasi karena kurang di hargai.
5. Anak menjadi pembangkang, dan berujung pada ketidak bahagiaan anak.

Itu juga baru sebagian kecil dari kekurangan atau keburukan dari cara ini.
Jika kita telaah lebih lanjut, mungkin bisa mencapai puluhan alasan dari kekurangan "jalan belakang" ini.
 
Tidak bisakah dengan tetap menghargai usaha anak, lalu menerima segala kekurangan dan kelebihan mereka dan tempatkan mereka di tempat yang benar?

Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal.
Setiap orang diberikan potensi-nya masing-masing dan berbeda.
Jikalau mom tidak bisa melihat potensi dari anaknya sendiri, maka stop sajalah menjadi orang tuanya.
Eeeeeeeh, ngga boleh gitu ya?
Begini loh, anak-anak juga manusia seperti ayah dan ibunya.
Bagaimana perasaan anda jika tak dihargai, ditekan dan dipaksa mengikuti kemauan orang lain?
Bukankah itu tidak mengenakkan?
Hargai mereka dan kembangkan potensinya.

"Ah, klise itu,bund. Teoritis yang mudah tapi susah dijalani."

Saya kan ngga bilang itu mudah. Itu butuh perjuangan dan kesabaran setiap saat.
Menjadi orang tua bukan berarti membuat kita berhenti belajar dan tahu segalanya.
Menjadi orang tua adalah sebuah babak baru dalam proses pembelajaran.
Ini adalah proses panjang dan menyenangkan.
"Kok menyenangkan? Bukannya melelahkan?"
Waaah kalau ada yang bilang mengurus anak adalah proses yang melelahkan, itu tandanya anda belum siap menjadi orang tua.
Sungguh aneh jika ada yang bilang begitu.
Stop saja menjadi orang tua.
Eeeeeeh, ngga boleh ngomong gitu lagi ya?
Hahaha,maaf.

Perhatikan dengan baik, kalimat saya berikut ini *cieeeeeeh.
Jika anda ingin di hargai maka hargailah orang lain.

Naaaah, itu juga berlaku buat anak-anak anda.
Anak anda kan orang ya? Manusia.

Jadi Pe-eR nya sekarang adalah, 
  1. Cari tahu apa potensi terbesar anak anda. Kembangkan semaksimal mungkin.
  2. Hargai kemampuan anak.
  3. Tempatkan ia pada tempat yang seharusnya.
  4. Yang terpenting adalah buat anak anda bahagia untuk menjadi dirinya sendiri.
Katakan, "mamah or papah akan tetap mendukungmu menjadi apa pun yang kau inginkan. Taatlah pada Tuhanmu.  Berbuat baiklah pada semua mahluk.
Mamah dan papah takkan membandingkanmu dengan siapa pun. Karena kamu adalah kamu, kebanggaan mamah dan papah."

Percayalah, mereka pun akan mulai menghargai anda, orang tuanya, dimulai pada saat anda menghargai mereka.
Anda akan melihat keajaiban dari efek penghargaan yang anda berikan pada anak.
  1. Anak akan lebih percaya diri.
  2. Anak akan lebih menyayangi anda sebagai orang tuanya.
  3. Anak akan mudah diatur.
  4. Potensi anak akan melejit.
  5. Anak mempunyai prestasi yang baik.(Prestasi itu bukan hanya di bidang akademik kan,mom?).

So, engga masuk sekolah favorit, ngga papa kaaaaan?








Kamis, 07 Mei 2015

Kamu Senang engga Sekolah Di situ?

                                                    
 
Di suatu sore saat seorang teman berkunjung ke rumah, saya mendapatkan informasi yang penting tak penting darinya soal sekolah anak saya.
"Tau engga kamu, sekolah anakmu itu sudah mau di tutup. Banyak laporan yang engga baik tentang sekolah itu. Engga nyesel ngeluarin abang dari sana, " ujarnya.
"Laporan apa?" tanyaku.
"Banyak, masalah kelayakan tempat, perseteruan kepemilikan , kualitas sekolah, guru-gurunya kurang berkompeten, truuuuus banyak laporan tentang kasus 'bullying'. Si abang aku keluarin dari sana juga gara-gara itu," temanku menjelaskan dengan berapi-api.
"Oh, gitu," ujarku.

Nah, terus ketika mendapatkan informasi seperti itu, apakah aku juga harus mengeluarkan anakkku dari sana?

Terus terang, L juga pernah menjadi korban 'bullying' yang dilakukan kakak kelasnya saat ia duduk di kelas 4. Masalahnya ternyata sepele. hanya karena L adalah anak pintar dan rajin ikut kegiatan di sekolah.

Kejadiannya saat L mengikuti ekskul angklung. Entah kenapa anak kelas 4,5 dan 6 "kompak" tidak mengikuti ekskul tersebut. Hanya beberapa anak saja yang mau, termasuk L. Saat L izin mau ikut ekskul angklung, saya mendukung banget. saya bilang "ibu suka anak yang mau menghargai budaya bangsanya sendiri." Yaaaa sedari kecil memang saya biasa mengenalkan kesenian sunda pada L. Kami biasa menonton wayang golek di VCD atau pun mendengarkan lagu-lagu sunda. Saya ingin L tetap ingat bahwa ia adalah putera sunda dimana pun ia kelak berada. Bukannya mengkultuskan suatu daerah, tapi budaya bangsa itu sangat penting di tanamkan.

L yang memang sudah terbiasa dengan kegiatan itu memutuskan untuk ikut ekskul angklung meski hanya ia dan satu teman laki-lakinya saja yang ikut.
Akibatnya L dianggap tidak kompak daaaaaan terjadilah kejadian itu.
L dimasukkan kedalam satu ruangan, dipukuli, di tendang oleh 5 orang temannya yang terdiri dari kakak kelas dan teman sekelasnya, lalu diangkat ramai-ramai dan di lempar ke trotoar.
Entah saya juga bingung, kemana guru-guru saat itu?
Tidakkah mereka memperhatikan atau mendengar teriakan L saat itu?Kejadiannya di sekolah, apakah tak ada satu anak pun yang melihat dan perduli pada L lalu melaporkan pada guru-gurunya?
Begitu banyak ketidak beresan dalam kejadian itu.
L tidak berkata apa pun pada saya.
Saya tahu kejadian itu setelah saya bertanya pada L karena melihat banyak luka di tubuhnya.
Awalnya L tidak mau bercerita, dia hanya bilang "aku jatuh,bu."
Ah, L....aku ini ibumu. Akan tahu jika ada yang tidak beres.
Setelah diajak berbicara dan berjanji tidak akan membawa masalah ini pada pihak sekolah, barulah L mau bercerita.
L pesan berkali-kali "Jangan kasih tau guruku ya bu. Kasihan, nanti mereka dimarahin dan di panggil orang tuanya."
Lah, L....Yang kasian itu kamu nak.

Tapi...janji adalah jani.
Saya bertanya "Kamu masih mau sekolah disana?"
L jawab " Iya, temenku yang baik juga banyak."
Ya wis...
Tapi kejadian ini, saya rasa ngga harus terjadi lagi kan?
Stop di L aja. Jangan sampai anak lain mengalaminya.
Akhirnya saya berbicara dengan pihak sekolah tanpa menghadirkan L dan ke lima anak yang mem'bully' nya.
Saya bilang "mereka juga korban,bu. Mereka masih dibawah umur dan ngga mengerti akibat dari perbuatannya. Silahkan ibu bina, panggil orang tuanya. Tapi sesuai pesan dari L,dia ngga mau ditemukan dengan kelima anak itu. L sudah maafkan dan semoga hal ini tak terjadi pada teman L yang lain."

Korbankah anak saya?
Iya, dan menurut saya kelima anak itu pun korban.
Korban dari ketidak tahuan mereka, korban dari pembinaan yang kurang baik, korban dari media.

Tentang pertanyaan "KAMU MASIH MAU SEKOLAH DISITU,L? KAMU SENENG NGGA SEKOLAH DISITU?"
sebenarnya ini selalu saya tanyakan setiap kenaikan kelas.
Dari L kelas 1 hingga sekarang kelas 6.
Dan L selalu bertanya " Kenapa sih ibu tanya itu terus?"
Saya jawab " Kalau kamu engga senang, kita pindah saja, cari sekolah yang lain."
"Oh, gitu. aku seneng kok."
"Ya wis kalau kamu senang. karena ibu engga mau kamu engga bahagia. Semua yang dilakukan dengan perasaan senang, hasilnya akan maksimal."
"Maksimal itu apaan sih,bu?"
"Maksimal itu adalah......." Pas bagian ini, panjaaaaaaang penjelasannya. di"cut" aja ya.

Intinya, biarkan anak melakukannya dengan perasaan senang tanpa paksaan.
Toh sama seperti kita, anak pun manusia, punya perasaan.
Kalau perlu pertanyaan "KAMU SENANG ENGGA?" ditanyakan setiap hari.
Kalu hari ini dia engga mau sekolah karena lagi "bad Mood" atau "malas"...
Ya wis, engga usah sekolah.

Engga mendidik ya? Engga juga.
Saya fikir, selama dia bisa memberikan alasan yang tepat dan tidak mengada-ada serta mempertanggung jawabkan alasannya. Kami, orang tuanya mengerti kok.
Di paksa itu engga mengenakan. KeJUJURan itu yang utama.
Masalah belajar juga, kami tak pernah memaksa.
L harus belajar karena kemauan dan rasa tanggung jawabnya.
Bukan karena suruhan dan paksaan orang tua.
Hasilnya? Alhamdulillah 6 kali berturut turut juara kelas dan 2 kali juara umum.
Prestasi di luar akademik juga banyak.

Teruuuuuuuuus, tentang mutu sekolah yang berkualitas atau bagus atau bonafide, belum tentu menjadi ukuran keberhasilan seseorang.
Okelah sekolah L kurang bagus, tapi ketika di kompetisikan dengan sekolah lainnya. L masih bisa unggul kok.
Beberapa kali L mengalahkan siswa dari sekolah yang mahal-mahal itu.
Dia punya keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat. Alhamdulillah.
Terbukti ketika ikut tes seleksi beasiswa masuk Sebuah SMP boarding bertaraf nasional dan mesti bersaing dengan siswa-siswa berprestasi se Indonesia.
Alhamdulillah L masuk 10 besar dan bisa dapat potongan uang masuk 75%.
Bisa terpilih dari siswa-siswi pilihan TUh menjadi sebuah kebanggaan buat kami.
Ingat  cerita tentang laskar pelangi?
Mereka bersekolah di sekolah bukan unggulan dan dianggap sebelah mata.
Bertahun hanya bermuridkan 10 orang saja.
Tapi dari sana lahir orang-orang hebat.
Orang orang yang ahli dalam bidangnya.
Mencari ilmu bukan hanya berdasarkan ke bonafid an sekolah, tapi dari nilai nilai luhur yang kita dapatkan.
Mutiara tetaplah mutiara sekali pun berada di dalam lumpur.
Tinggal bagaimana kita menampilkan keindahannya.

Dan Orang tua.....itulah tugas anda.
Setuju????
 

Sabtu, 25 April 2015

Missing you somuch....Koraaaaaaaannnnnn

Koran...koran...
Harian Kom***, Sinar Pa**, Pos Ko**
Koran... koran....

Pagi ini saat sedang ngopi dan duduk di teras depan sambil menikmati goreng pisang yang dibeli dari tukang nasi uduk dekat rumah, entah mengapa tiba tiba kangen banget sama suara satu itu.
Enaknya kan, pas ngopi pagi gini, baca koran tuh rasanya melengkapi kesempurnaan pagi.
Dan kini, aku ngga pernah tuh dengar suara itu lagi.
Kalau mau beli koran, sekarang harus datang ke lapak koran di depan komplek.
Itu pun hanya ada beberapa eksemplar koran saja.
Lebih banyak majalah atau tabloid.
Sekitar sepuluh tahun yang lalu, aku masih gampang banget nemuin banyak koran dimana-mana.
Di bis, di kereta api, di depan bioskop, di toko buku, di depan toko roti, di pasar, di supermarket, di perkantoran, di komplek rumah, di balai kota, di desa-desa, di meja guru, di perpustakaan sekolah, di ruang tunggu rumah sakit, di tempat service handphone, di pojokan bengkel, di sudut kamar.
Sampai dulu sering sekali para guru menyuruh muridnya untuk membuat "kliping" dari koran.


Duluuuuuu sekali, biasanya pagi pas weekend begini, aku suka ngobrol bareng sama pap di teras sambil ngopi dan baca koran.
Membahas segala berita yang sedang up to date yg terpapar di tiap halaman yang dibaca pap.
Mulai dari masalah ekonomi, olah raga, kejahatan, pendidikan sampai membahas tentang iklan.
 
Pap tuh hobinya baca dan koran adalah salah satu bacaan wajibnya di pagi hari.
Pap memang langganan koran dan aku langganan sebuah majalah anak anak yang datangnya per minggu.
Pokoknya tiap hari baca, begitu kata Pap.

Dan Pagi ini saat sedang ngopi dan duduk di teras depan, entah mengapa tiba tiba kangen banget sama suara satu itu.

Jadi ingat percakapan kami pagi itu di minggu yang ceria, saat matahari bersinar genit dibalik awan. #cieeeeee

"Teh, nih lihat. Harga BBM naik lagi . Harga bahan pokok yang lain juga pasti ikutan naik deh nantinya," Papah membaca Head Line di sebuah koran dan menunjukkan padaku.
"Wah, tapi nanti uang jajanku engga dikurangin kan pah?" tanyaku
Ah, harga BBM dan bahan pokok engga jadi masalah buatku.
Yang jadi masalah itu, kalau jatah uang jajanku yang dikurangi.
"Engga akan papah kurangi, tapi kamu harus rajin nabung. Siapa tahu kalau papah engga punya uang, kan kamu jadi ngga pusing buat jajan."
"Yeeeey papah, sama aja itu mah. Memang apa hubungannya BBM sama uang jajan aku?"
"Nih teh, BBM naik, berarti ongkos akan naik. Ongkos naik berarti harga jual bahan pokok naik. Harga beras naik berarti jatah belanja mamahmu berkurang, begitu juga jatah jajan mu."
"Waaaah, ngga adil," aku cuma bisa memajukan bibirku kedepan.
Mau gimana lagi, mau nangis juga engga akan menurunkan harga BBM.
Setidaknya hari itu aku sudah dapat pelajaran tentang hukum ekonomi  tentang dampak kenaikan BBM pada harga barang.
Hemmm....pelajaran yang aku dapat setelah 8 tahun berikutnya.Saat aku mengambil mata kuliah Dasar dasar Ekonomi.

Kami juga pernah membahas tentang berita kejahatan.
Saat itu sedang nge trend tentang kolor ijo.
Itu loh, penjahat yang menyatroni rumah warga dengan menggunakan kolor berwarna hijau dan memperkosa wanita-wanita yang sedang tidur lelap di rumah.
Serem yaaa?

Kembali lagi, papah bertuah.
"Teh, tuuuuuuh kalau tidur tuh pakai celana panjang, jangan pakai daster atau baju tidur yang pakai rok,"
"Emang kenapa pah?"
"Kalau kamu tidurnya pakai celana panjang, pas tidur mau guling sana sini, engga akan kesibak dan terlihat kakinya," Papah menjelaskan.
"Oh gitu. Panas tapi pah, Hareudang," jawabku.
"Eh atuh, pakai kipas nya biar engga panas,"
"Ah, males ah. Pake celana hawai aja," tawarku.
"Nya terserahlah, nu penting pakai celana, bukan daster," Papah akhirnya menyerah.
"Tapi, pah. Apa hubungannya kolor ijo sama daster? Kolor ijo engga suka sama yang pake celana ya?"
Papah tidak menjawab, hanya tertawa.
"Pokoknya teh, jangan pake daster,'
Saat itu aku masih ngga ngerti, tapi sekarang aku tahu apa alasan papah.
Dia mau menjaga anaknya, ngga sembarangan memakai baju walaupun di saat kami tidur.
Dan berita tentang kolor ijo itu yang menjadi salah satu media yang pas buat membahas tentang cara menjaga diri yang papah ajarkan untuk anak perempuannya.

Ternyata momen membaca koran bersama di pagi hari tuuuh bisa menjadi sarana yang baik antara orang tua dan anak untuk belajar bersama.
Anak dapat belajar banyak hal dari berita berita yang ada.
Anak akan tahu dunia.
Anak belajar seperti apakah sudut pandang suatu berita menurut banyak pendapat.
Anak belajar perbedaan dan menghargai pendapat orang lain dari sana.

Hmmmm...betapa merindunya aku akan suasana seperti itu.
Jaman sudah berganti dan berputar.
Kini berita tidak lagi di paparkan pada lembaran harian surat kabar.
Orang orang bisa mendapatkan berita dari menonton televisi atau membaca lewat internet.
Jaman sudah berbeda.
Tak ada lagi tukang tukang koran yang menjajakan harian surat kabar di perumahan perumahan atau di tempat tempat umum.
Tak ada lagi teriakan teriakan khas penjaja koran.
Yang paling menyedihkan buatku adalah kehilangan moment kebersamaan antara orang tua dan anaknya saat membahas berita berita di koran.
Moment yang sekarang tak bisa didapat lagi oleh anak-anakku.

Seandainya masih ada tukang koran sekarang ini, atau bahkan sepuluh tahun mendatang, aku dan pap pasti masih akan melakukannya.
Bercengkrama di pagi hari sambil menikmati kudapan buatan tangan sendiri di teras rumah.
Menikmati udara pagi yang berbaur dengan aroma kopi.
Menikmati tiap detiknya kebersamaan kami yang mungkin takkan selamanya.
Tapi kini mungkin akan berbeda.
Aku yang membacakan koran untuk pap.
Memaparkan apa isi berita di koran yang sedang up to date.
Melihat binar mata papah begitu hidup saat membaca.
Mensyukuri kebersamaan seorang ayah dan anak perempuannya.
Menikmati senyumannya dan senyumanku yang mensyukuri kebersamaan kami yang mungkin hanya akan sebentar lagi.

Duuuuh Koran...
kemana kamu?
#sabtu#pagi#nyruput#kopi