Di suatu sore saat seorang teman berkunjung ke rumah, saya mendapatkan informasi yang penting tak penting darinya soal sekolah anak saya.
"Tau engga kamu, sekolah anakmu itu sudah mau di tutup. Banyak laporan yang engga baik tentang sekolah itu. Engga nyesel ngeluarin abang dari sana, " ujarnya.
"Laporan apa?" tanyaku.
"Banyak, masalah kelayakan tempat, perseteruan kepemilikan , kualitas sekolah, guru-gurunya kurang berkompeten, truuuuus banyak laporan tentang kasus 'bullying'. Si abang aku keluarin dari sana juga gara-gara itu," temanku menjelaskan dengan berapi-api.
"Oh, gitu," ujarku.
Nah, terus ketika mendapatkan informasi seperti itu, apakah aku juga harus mengeluarkan anakkku dari sana?
Terus terang, L juga pernah menjadi korban 'bullying' yang dilakukan kakak kelasnya saat ia duduk di kelas 4. Masalahnya ternyata sepele. hanya karena L adalah anak pintar dan rajin ikut kegiatan di sekolah.
Kejadiannya saat L mengikuti ekskul angklung. Entah kenapa anak kelas 4,5 dan 6 "kompak" tidak mengikuti ekskul tersebut. Hanya beberapa anak saja yang mau, termasuk L. Saat L izin mau ikut ekskul angklung, saya mendukung banget. saya bilang "ibu suka anak yang mau menghargai budaya bangsanya sendiri." Yaaaa sedari kecil memang saya biasa mengenalkan kesenian sunda pada L. Kami biasa menonton wayang golek di VCD atau pun mendengarkan lagu-lagu sunda. Saya ingin L tetap ingat bahwa ia adalah putera sunda dimana pun ia kelak berada. Bukannya mengkultuskan suatu daerah, tapi budaya bangsa itu sangat penting di tanamkan.
L yang memang sudah terbiasa dengan kegiatan itu memutuskan untuk ikut ekskul angklung meski hanya ia dan satu teman laki-lakinya saja yang ikut.
Akibatnya L dianggap tidak kompak daaaaaan terjadilah kejadian itu.
L dimasukkan kedalam satu ruangan, dipukuli, di tendang oleh 5 orang temannya yang terdiri dari kakak kelas dan teman sekelasnya, lalu diangkat ramai-ramai dan di lempar ke trotoar.
Entah saya juga bingung, kemana guru-guru saat itu?
Tidakkah mereka memperhatikan atau mendengar teriakan L saat itu?Kejadiannya di sekolah, apakah tak ada satu anak pun yang melihat dan perduli pada L lalu melaporkan pada guru-gurunya?
Begitu banyak ketidak beresan dalam kejadian itu.
L tidak berkata apa pun pada saya.
Saya tahu kejadian itu setelah saya bertanya pada L karena melihat banyak luka di tubuhnya.
Awalnya L tidak mau bercerita, dia hanya bilang "aku jatuh,bu."
Ah, L....aku ini ibumu. Akan tahu jika ada yang tidak beres.
Setelah diajak berbicara dan berjanji tidak akan membawa masalah ini pada pihak sekolah, barulah L mau bercerita.
L pesan berkali-kali "Jangan kasih tau guruku ya bu. Kasihan, nanti mereka dimarahin dan di panggil orang tuanya."
Lah, L....Yang kasian itu kamu nak.
Tapi...janji adalah jani.
Saya bertanya "Kamu masih mau sekolah disana?"
L jawab " Iya, temenku yang baik juga banyak."
Ya wis...
Tapi kejadian ini, saya rasa ngga harus terjadi lagi kan?
Stop di L aja. Jangan sampai anak lain mengalaminya.
Akhirnya saya berbicara dengan pihak sekolah tanpa menghadirkan L dan ke lima anak yang mem'bully' nya.
Saya bilang "mereka juga korban,bu. Mereka masih dibawah umur dan ngga mengerti akibat dari perbuatannya. Silahkan ibu bina, panggil orang tuanya. Tapi sesuai pesan dari L,dia ngga mau ditemukan dengan kelima anak itu. L sudah maafkan dan semoga hal ini tak terjadi pada teman L yang lain."
Korbankah anak saya?
Iya, dan menurut saya kelima anak itu pun korban.
Korban dari ketidak tahuan mereka, korban dari pembinaan yang kurang baik, korban dari media.
Tentang pertanyaan "KAMU MASIH MAU SEKOLAH DISITU,L? KAMU SENENG NGGA SEKOLAH DISITU?"
sebenarnya ini selalu saya tanyakan setiap kenaikan kelas.
Dari L kelas 1 hingga sekarang kelas 6.
Dan L selalu bertanya " Kenapa sih ibu tanya itu terus?"
Saya jawab " Kalau kamu engga senang, kita pindah saja, cari sekolah yang lain."
"Oh, gitu. aku seneng kok."
"Ya wis kalau kamu senang. karena ibu engga mau kamu engga bahagia. Semua yang dilakukan dengan perasaan senang, hasilnya akan maksimal."
"Maksimal itu apaan sih,bu?"
"Maksimal itu adalah......." Pas bagian ini, panjaaaaaaang penjelasannya. di"cut" aja ya.
Intinya, biarkan anak melakukannya dengan perasaan senang tanpa paksaan.
Toh sama seperti kita, anak pun manusia, punya perasaan.
Kalau perlu pertanyaan "KAMU SENANG ENGGA?" ditanyakan setiap hari.
Kalu hari ini dia engga mau sekolah karena lagi "bad Mood" atau "malas"...
Ya wis, engga usah sekolah.
Engga mendidik ya? Engga juga.
Saya fikir, selama dia bisa memberikan alasan yang tepat dan tidak mengada-ada serta mempertanggung jawabkan alasannya. Kami, orang tuanya mengerti kok.
Di paksa itu engga mengenakan. KeJUJURan itu yang utama.
Masalah belajar juga, kami tak pernah memaksa.
L harus belajar karena kemauan dan rasa tanggung jawabnya.
Bukan karena suruhan dan paksaan orang tua.
Hasilnya? Alhamdulillah 6 kali berturut turut juara kelas dan 2 kali juara umum.
Prestasi di luar akademik juga banyak.
Teruuuuuuuuus, tentang mutu sekolah yang berkualitas atau bagus atau bonafide, belum tentu menjadi ukuran keberhasilan seseorang.
Okelah sekolah L kurang bagus, tapi ketika di kompetisikan dengan sekolah lainnya. L masih bisa unggul kok.
Beberapa kali L mengalahkan siswa dari sekolah yang mahal-mahal itu.
Dia punya keyakinan dan kepercayaan diri yang kuat. Alhamdulillah.
Terbukti ketika ikut tes seleksi beasiswa masuk Sebuah SMP boarding bertaraf nasional dan mesti bersaing dengan siswa-siswa berprestasi se Indonesia.
Alhamdulillah L masuk 10 besar dan bisa dapat potongan uang masuk 75%.
Bisa terpilih dari siswa-siswi pilihan TUh menjadi sebuah kebanggaan buat kami.
Ingat cerita tentang laskar pelangi?
Mereka bersekolah di sekolah bukan unggulan dan dianggap sebelah mata.
Bertahun hanya bermuridkan 10 orang saja.
Tapi dari sana lahir orang-orang hebat.
Orang orang yang ahli dalam bidangnya.
Mencari ilmu bukan hanya berdasarkan ke bonafid an sekolah, tapi dari nilai nilai luhur yang kita dapatkan.
Mutiara tetaplah mutiara sekali pun berada di dalam lumpur.
Tinggal bagaimana kita menampilkan keindahannya.
Dan Orang tua.....itulah tugas anda.
Setuju????