Senin, 30 Maret 2015

She is drama queen





Di kelas kami sebenarnya ada 14 murid.
Tapi pada waktu- waktu tertentu, bisa menjadi 15 anak.
Nah loh? Kenapa bisa seperti itu?
Ini tidak ada kaitannya dengan mistis atau bangku kosong.
Ini juga tak ada hubungannya dengan sesuatu yang menakutkan.

Ia adalah anak yang biasa muncul dengan tiba-tiba atau pun menghilang tiba-tiba.
Jangan pernah menyuruhnya diam di suatu tempat atau ruangan tanpa pernah melakukan hal yang sangat ia sukai, yaitu membaca.
Ia takkan pernah betah berada di situ.
Ia akan berkeliling di setiap ruangan mencari bahan bacaan.
Semua hal di bacanya, sampai bon dan kwitansi pembayaran siswa pun tak luput dari rasa hausnya akan membaca.
Baginya membaca itu sudah seperti bernafas.
Gelisah tak karuan saat tak satu buku pun di dapatnya.

Selain membaca, ia juga sangat hobi menggambar.
Karya nya sangat detail dan apik.
Tema gambar yang disukainya adalah wanita cantik yang fashionable.
Sang putri akan digambarnya dengan detail wajah yang lengkap. Alis berbentuk bulan sabit, bulu mata lentik yang menawan, tas berhias mutiara, sepatu berhak tinggi dengan tali sampai betis, baju dengan gaya up to date hingga tatanan rambut yang sangat bagus.


Sangat proposional dan menjelimet untuk ukuran anak usia 6 tahun.
Begitu pula saat ia menggambar sebuah kamar.
Tempat tidur berhiaskan kelambu tampak ada di sudut ruangan dengan detail ukiran pada border.
Sprei, bantal, guling selimut hingga keset kaki tergambar dengan jelas bentuk nya.
Hiasan dinding berupa lukisan di samping lemari pakaian tampak apik menghias bagian dinding yang kosong.
Meja rias beserta pernak-pernik diatasnya tampak manis bersanding dengan tempat tidur.
Begitu detail dan indah.
Perlu imajinasi yang dalam dan kreatifitas yang baik untuk bisa menuangkannya dalam bentuk visual seperti itu.
Tapi janganlah memintanya mewarnai gambar-gambar tersebut.
Ia akan sangat marah dan terganggu.
Baginya, warna hitam dan putih adalah warna yang seharusnya ada.
Kesukaannya menggambar berlembar-lembar kertas HVS mendorongnya membuat majalah.
Bukan hanya sebuah majalah, tapi banyak majalah.
Majalah tersebut merupakan kumpulan hasil gambarnya yang di taruh dalam clear holder berisi 20 lembar.
Setiap majalah mempunyai tema dan rubrik.
Ada rubrik fashion, rubrik teka-teki, rubrik games, rubrik maze, rubrik asah otak dll.
Semua ia gambar sendiri.
Warnanya? tetap hitam dan putih. hahahaha

Ia juga senang bercerita.
Terkadang ia menggantikan kami bunda guru untuk bercerita di hadapan teman-temannya pada hari bercerita.
Apa yang diceritakannya?
Tentu isi dari majalah buatannya itu.
Ia membawakannya dengan logat suara yang berbeda.
Saat itu ia akan berubah menjadi pendongeng handal dari negeri impian.
Tidak ada yang boleh beranjak dari duduk saat ia bercerita atau ia akan berkata " Semuanya harap tenang dan dengarkan,"
Ia takkan perduli audience nya sudah bosan atau tak mendengarkannya, yang penting ia akan bercerita sampai tamat.
Dan diakhir cerita biasanya ia akan berkata " untuk saran dan pemesanan dapat menghubungi nomor yang ada disini," ujarnya sambil menunjuk lembar terakhir yang bertuliskan nomor telefon mommy nya.

Ia juga pandai matematika, jago browsing, pandai membuat kue,dan yang paling hebat dari dirinya adalah imajinasi yang tak terbatas.

Wah, anak berbakat ya? Iya.
Pasti menyenangkan punya anak murid seperti dia.
O, belum tentu.
Dia adalah ratunya drama.
segala sesuatu tampak berlebihan dalam fikirannya.

Ia pernah memarahi angin, berteriak kepada sinar matahari, menyalahkan hujan,memaki lubang yang ada di halaman, bertanya kenapa harus ada air? Kenapa kita harus sholat? kenapa harus ada petir? Kenapa harus ada lebah? dan akan berakhir denga pernyataan "aku tidak suka air", "aku tidak suka lebah"," aku tidak suka hujan" dan banyak ketidak sukaannya pada berbagai hal.

Hal-hal yang ia tanyakan mungkin adalah pertanyaan anak kebanyakan. Namun umumnya anak-anak hanya sebatas bertanya dan melupakannya saat bermain bersama teman-temannya.
O, tidak dengannya.
Ia akan terus bertanya, bertanya, bertanya dan bertanya hingga puas.
Ia akan mencari, mencari, mencari dan mencari jawaban dari semua pertanyaannya.
Pada siapa saja ia akan bertanya, bahkan mungkin pada rumput yang bergoyang. Hehehe

Dan jika anak seusia ini tidak terpenuhi rasa keingin tahuannya, mau tau apa yang akan terjadi?
Yup, ia akan marah.
Marah pada temannya, marah pada orang tuanya, marah pada gurunya bahkan marah pada dunia. 

Perkara temannya yang pernah di tendang, di pukul, di gigit, itu adalah hal yang biasa kami laporkan pada mommy nya.
Guru yang digencet di pintu, guru yang di seruduk oleh kepalanya, bahkan sampai guru yang di gigit pun ada.
Ia hanya marah, marah karena tidak ada satu pun yang mengerti dia.

Bisa apa anak usia 6 tahun?
Berharap apa dari anak 6 tahun yang marah?
Duduk dengan tenang, mengajak kita berdiskusi, lalu memecahkan masalah perasaannya yang merasa tak di mengerti?
Waaaah, kalau dia melakukan itu, saya malah takut dan bingung.

Ia juga tak mau menyebutkan nama orang lain.
Baginya itu sesuatu yang sakral dan memiliki nilai romantisme sendiri.
Biasanya ia akan memanggil dengan si "itu", "eh" atau"kamu".
Dan dia hanya mau memanggil nama mommy, daddy, kakek-nya dan namaku saja. Awalnya aku berfikir hanya ketiga orang itu yang ada di dunia ini. Tapi ternyata ia masih mempunyai nenek dan punya banyak sepupu.
Hanya sepupu? bagaimana dengan kakak dan adik?
Ia anak tunggal, tak mempunyai kakak atau pun adik.
Teman terbaiknya adalah dirinya sendiri.
Egois?
Siapa pun pada usia ini akan egois.
Anak di usia ini, baru saja belajar bersosialisasi dan itu adalah hal yang berat untuk mereka.
Menyelami perasaan orang lain dan mengerti apa yang yang dialami orang lain adalah langkah besar dalam hidupnya.

Dia adalah ratunya drama.
suatu hari saat ia berjalan dengan anggun keluar dari kelas menuju pintu gerbang.
Tangan kanannya menarik tas troly berwarna merah jambu dengan gambar 3 orang putri yang berpose anggun.
Layaknya seorang pramugari yang baru turun dari pesawat, ia berjalan dengan penuh percaya diri menuju gerbang sekolah.
Baru saja beberapa langkah keluar dari gerbang sekolah, ia terjatuh.
Wah jangan tanya seberapa besar tangisannya.
Menggelegar keseluruh penjuru bumi.
Menembus hingga ke langit ke tujuh.
Hahahaha...tidaklah.
Pokoknya, tangisan itu membuat seluruh penghuni sekolah menghampirinya.
Begitu pula dengan para orang tua dan penjemput yang siang itu memang sudah ada di depan gerbang.
Tak ada yang bisa menenangkannya.
Ia memarahi lubang kecil di depan pintu gerbang yang membuatnya terjatuh. 
"hey lubang jahat.kenapa kamu ada disini.haduuuuuh" sambil memegang kakinya yang sakit.
"Kenapa harus ada lubaaaaaang? aduuuuuuh" masih saja bertanya.
Semua orang yang ingin menolongnya, diusir.
Akhirnya ku hampiri dia, dan ku peluk, lalu ku bertanya "kenapa menangis, sayang?"
ku fikir jawaban yang akan keluar darinya adalah
"kakiku sakit" atau "aku ngga bisa berdiri" atau "aku malu."
ternyata jawabannya adalah
"AKU NGGA BISA JADI PRINCESS LAGIIIIII."
Hah????
Ternyata yang membuatnya bersedih itu, keanggunan dia sebagai seorang putri hancur gara2 ia terjatuh.
Oh rupanya siang itu ia membayangkan dirinya menjadi putri.
eeeeeeaaaaaaaaa.....
ow, ow, ow....she is a real drama queen,hahaha.

Banyak lagi hal unik tentangnya.
Pernah disuatu sore ia mengetuk pintu rumah ku sambil menyerahkan cup cake perdana buatannya.
Kue itu masih terasa hangat dan di wajahnya masih terlihat sisa-sisa tepung terigu.

Terburu-buru ia mendatangiku untuk menyerahkan kue buatannya.
Hangatnya kue menghangatkan juga hatiku.
Cup cake berhiaskan huruf I, bentuk hati dan U membuatku terharu setengah mati.
Bagaimana aku tak jatuh cinta pada anak ini.

Di lain waktu ia selalu merasa dirinya adalah seekor anak kucing.
Masuk ke kelas denga mengeong dan berjalan dengan tangan dan kakinya, layaknya seekor kucing.
Mengusap-usapkan wajahnya ke lenganku dan membalikkan tubuh minta dibelai.
Saat aku bertanya " kenapa kamu jadi anak kucing, sayang?"
"Karena bunda sopi suka kucing," itu jawabnya.
Ya ampun, ia fikir jika menjadi anak kucing aku akan lebih menyayanginya.
Aku memang memiliki seekor kucing persia bernama ketrin.
Lalu ku jelaskan bahwa aku akan tetap menyayanginya walau ia bukan kucing seperti ketrin, barulah ia berperilaku menjadi dirinya lagi.

Orang lain mungkin berfikir ia adalah anak yang merepotkan, tak bisa diam, emosional dan tak bisa ikut aturan.
Bagiku ia adalah anak yang kreatif, out of the box dan pintar.
Ia hanya perlu dihargai sebagai dirinya sendiri.

Beberapa tips yang bisa saya bagi untuk merangkul anak seperti ini, adalah:

  1. Dengarkan ia. Setiap orang akan senang bila di dengarkan.Begitu pun dengan anak-anak. Anak kreatif mempunyai banyak ide dan ia memerlukan orang lain untuk mau mengapresiasi ide-ide tersebut. Mendengarkan adalah bentuk paling sederhana dari apresiasi.
  2. Berikan ruang dan waktu untuknya bereksplorasi dan menyalurkan kreatifitasnya.
  3. Berikan batasan yang jelas tentang peraturan yang harus ia taati dengan cara berdiskusi. Punishment dan reward tetap di perlukan disini, namun itu berdasarkan hasil kesepakatan dengan si anak.
  4. Tidak mematahkan kreatifitas anak. Semua benda yang kita pakai saat ini adalah hasil kreatifitas para penemunya. Bayangkan bagaimana jika kreatifitas seorang Thomas Alfa Eddison di patahkan? tentu dunia ini hanya akan diterangi nyala lilin saja sepanjang masa.
  5. Tetap menjadikan anak itu sebagai dirinya sendiri, karena setiap anak adalah pribadi yang unik, setiap anak adalah sebuah pribadi dan setiap anak adalah manusia.
Demikian kiranya sedikit cerita saya tentang si kreator yang pandai bercerita dan berekspresi... she's a real drama queen, i guest and she took my heart.




Selasa, 24 Maret 2015

Malaikat Koleris Yang Romantis

Brak...suara pintu dibanting terdengar lagi.
Ini bukan yang pertama kalinya ia lakukan.
Serentetan sumpah serapah dan makian keluar dari mulut kecilnya.
"Bunda jahat, aku benci sama bunda. Aku ngga mau sekolah lagi," ujarnya sambil membawa tas dan membalikkan seluruh rak sepatu yang berjejer rapih di depan kelas.
Brak...demikian suara itu terdengar lagi.
Aku hanya diam, tetap duduk tenang dan memperhatikannya tanpa melihat kearahnya.
Di depan pintu kelas, kembali ia berteriak " Bunda jahat, aku benci sama bunda.Bunda jahaaat," Nadanya kini semakin meninggi.
Wajah lucunya kini menghilang digantikan oleh raut muka marah dan menyeramkan.
Deru nafasnya makin tak beraturan, keringat pun deras membasahi wajahnya yang masih berusia lima tahun.
Tangan kanannya memegang tas, tangan kirinya menjinjing sepatu futsal.
Aku hanya menoleh sebentar dan menatap lembut ke arahnya lalu kembali fokus terhadap anak lain di hadapanku.
Malaikat kecil yang sedang mengulang hafalan doa dan hadist di depanku berkata "Bunda, dia kenapa?"
Aku hanya tersenyum dan menjawab " Dia sedang marah, ayo kita lanjutkan.Jangan dilihat ya."
 
Permasalahannya hanya sepele, sepertinya sudah ada dari rumah.
Pagi itu, ia tak mau mengikuti kegiatan sholat Dhuha berjamaah dan mengganggu barisan shaf teman-temannya yang sedang melaksanakan sholat.
Aku hanya menegurnya dengan kalimat "Sayang, jangan ganggu temannya," itu pun dengan nada standar.
Langsung saja reaksinya seperti itu. Membawa tasnya,membanting pintu dan berteriak-teriak.
Reaksinya memang selalu seperti itu, tak terduga dan tak terkendali.
Seperti api, hanya di sulut sedikit saja, maka ia akan membesar dan membara.
 
TIME OUT dan sebuah pelukan lembut, Hanya itu sebenarnya yg ia perlukan.
Ku biarkan ia mengeluarkan semua kekesalan dan kemarahannya. 5 menit saja.
Mungkin cara berekspresi dia berlebihan, namun hanya cara itu yang ia tahu.
Itu yang ia lihat dari lingkungannya.
Jika marah, marahlah. Jika kesal, berteriaklah. Jika tak suka, pukullah.
Denganku ia menemukan aturan baru. Aku membiarkannya berekspresi, namun ku batasi waktunya.Tidak nyaman? Jelas, siapa pun tidak akan nyaman dengan sesuatu yang tak biasa.
Ku lihat jarum jam yang berdetak di dinding,ah, sudah lima menit rupanya.
Wajah marah itu masih ada di depan pintu.
Tak kemana-mana, masih tetap di tempat yang sama.
Kini sudah tidak terdengar makian, yang ada hanya mata yang marah, wajah yang kesal dan keringat yang bercucuran.
Aku beranjak dari kursiku menghampirinya. Kurangkul tubuh kecilnya yang basah oleh keringat.Tanpa berkata satu patah kata pun, aku menggiringnya ke kantor tata usaha.
Dia mengikutiku, tidak memberontak. Dia membiarkan tubuh kecilnya dalam rengkuhan lengan kiriku di pundaknya.
Tas dan sepatu masih ada di tangan kanan dan kirinya.

Sesampai di kantor tata usaha, aku membuatkan air gula kesukaannya.
Kuserahkan gelas yang berisi air gula itu tanpa berkata apa pun.
Ia melepaskan sepatu dan tasnya lalu meraih gelas tersebut dan meneguk isinya dengan cepat.
"Baca doa,nak," hanya itu yang ku ucapkan.
Ia pun mengikuti perintahku "Allohumma bariklana fii ma rojaqtana wa kii na azabbannar," ujarnya segera setelah menghentikan sejenak tegukannya.
"Alhamdulillah," ujarku dalam hati sambil tak henti menatapnya. Tatapan yang ku berikan adalah tatapan biasa, bukan tatapan marah atau pun kecewa.
Setelah habis seluruh isi gelas di teguknya, ia menyerahkan gelas itu padaku dan berkata "Sudah, bunda."
"Baca doa," Ujarku kembali, tetap dalam nada suara standar. Tidak meninggi ataupun merendah.
"Alhamdulillah," itu yang keluar dari mulut kecilnya.
Ku ambil tissue dan ku berikan padanya. Ia mengelap wajahnya tanpa kuberikan instruksi apa pun. Aku pun membantunya mengelap seluruh keringat yang ada di wajah, kepala, leher dan tangannya.
"Kamu sudah sarapan?" tanyaku.
"Belum," jawabnya datar
Nah, ini dia ternyata akar permasalahannya. Ia yang bertubuh kecil dan berenergi besar, tidak mendapatkan asupan energi yang sesuai dengan apa yang ia butuhkan.
Aku tak mengomentari sarapan tersebut. Bisa panjang masalahnya jika ku bahas. Mengenal wataknya, masalah ini bisa memicu amarahnya lagi. Ia akan mulai menyalahkan mbak nya, "teteh" nya, mamahnya...
Lebih baik aku tetap diam, toh kini di dalam perutnya sudah ada air gula yang bisa menopang energinya sementara hingga waktu makan tiba.
"Bunda mau ke kelas ya," itu yang keluar dari mulutku.
Ajaib, ia mengikutiku ke kelas sambil membawa tas dan sepatunya.
Sesampainya di depan ruangan kelas, ia melihat rak sepatu yang tadi di robohkannya.
Tanpa berinstruksi apa pun padanya, ia langsung merapihkan kembali rak sepatu tersebut dan menyusun seluruh sepatu-sepatu temannya dengan rapih. Dan sepatunya ada dalam susunan itu.
Ia kembali masuk kelas tanpa di minta, lalu duduk di kursinya dan berinteraksi bersama tema-temannya.
Kembali bercakap-cakap, kembali bercengkrama, seakan kejadian tadi tak pernah ada.
Teman-temannya pun tak ada yang bertanya atau membahas kejadian tadi.
Mereka semua sudah makhfum dan maklum.
Karena seringnya ia melakukan hal yang seperti itu dan aku meminta pada teman-teman sekelasnya agar tidak memberikan perhatian lebih pada saat genta sedang marah.
Alhamdulillah mereka mengerti.

Ini bukan kejadian yang pertama dan terakhir.
Ia juga pernah melemparkan bangku ke arah kerumunan temannya saat ia merasa marah dan terusik.
Itulah ia, senang mengganggu tapi tak mau di ganggu.
Pribadi yang sangat tidak menyenangkan
Tapi aku yakin seyakin-yakinnya, tak ada keinginannya untuk menjadi anak yang dijauhi teman dan menjadi anak yang menyebalkan.
Diurut dari penyebabnya, ia seperti itu karena mencari perhatian dari sang mamah yang sering tugas keluar kota dan ia banyak di tinggal di rumah bersama teteh, mbak dan papah.

Bisa apa seorang anak berusia lima tahun?
Bernegosiasi? Berkata-kata lugas? Berfikiran terbuka dan dewasa?
Ia hanya bisa bertanya, lalu ketika tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ia akan bingung. dan ketika sampai pada titik kebingungannya memuncak, ia akan marah.
Itu yang dirasakannya.
Yang ia perlukan hanya tempat dan media untuk melampiaskan kemarahan, sebuah pelukan dan kuping untuk mendengar.

Mengapa tidak boleh marah?
Mengapa tak boleh mengeluarkan rasa yang begitu sesak di dalam dada?

Aku menyediakan tempat itu, ku beri nama kursi "time out."
Pada saat ia tak bisa mengendalikan perasaannya, ku bawa ia ke kursi itu untuk duduk dan menenangkan diri dengan tenggang waktu yang kuberikan. Lima menit, sepuluh menit atau lima belas menit. Biasanya tak pernah lebih dari itu.
Apakah ia akan suka rela duduk dengan tenang?
Tentu tak akan terjadi dengan kondisi amarah yang merasuk jiwa.
Sepuluh kali ia bangkit dari kursi itu, sepuluh kali juga aku dudukan ia kembali.
Lima puluh kali ia bangkit dari kursi itu, lima puluh kali juga aku dudukan kembali.
Ibarat sebuah permainan, kami adalah sepasang pemain yang saling mengadu kekuatan. Terutama soal ketahanan prinsip.

Percayalah, jika kita tetap berpegang teguh pada prinsip baik tanpa bersikap memaksa dan kasar, anak pun akan turut. Yang kita perlukan adalah tetap bertahan dan tak mudah di tawar.

Cacian, makian, perlawanan sampai tendangan, mungkin akan kita dapatkan darinya. Cukup bertahan, tanpa banyak bicara dan alasan yang tak penting agar ia menuruti kita, anak akan menyerah pada akhirnya. Dan ingat, ketika ia sudah menjadi baik, sebuah pelukan akan meluruhkan segala kekesalannya pada kita.

So, berikan rules yang jelas yang dibuat bersama anak, tak perlu banyak penjelasan yang tak penting. Bagitupun jumlah peraturannya, cukup 2-5 peraturan saja. Lalu tempellah besar2 di dinding dan dihiasi tanda tangan dari kedua belah pihak. Jangan lupa tentukan punishment apa yang disepakati jika salah satu melanggar peraturan ini. Walau pun pada akhirnya anak saja yang akan selalu melanggar peraturan, tapi dengan punishment yg di tetapkan kepada dua belah pihak, akan menjadikan anak merasa dihargai dan adil.
Dan si koleris yang romantis ini, mulai bisa mengikuti peraturan dengan baik dan bersikap manis. Tahukah kenapa ia kupanggil romantis? Ia selalu menambahkan namaku di samping namanya setiap kali ia menuliskan namanya di buku. Lalu, ia pun akan kelimpungan mencariku setiap diri ini tak terpantau penglihatannya. Waaaah, tersanjung deh. Belum lagi pujian yang selalu bilang "bunda cantik" selain makiannya "bunda jahat."
Hahahahaha, I luv u so much my koleris romantic kid yang kini sudah berubah menjadi romantic kid.

So, kesimpulannya menghadapi anak yang koleris adalah:
1. Tetapkan rules bersama anak. Tak perlu banyak.
2. Tetapkan bentuk punishment dan reward bersama anak.
3. Beri ruang dan tempat khusus bagi anak untuk melepaskan amarahnya.
4. Tetap istiqomah dan tak mudah menyerah dalam menetapkan peraturan.
5. Yang terpenting, sediakan waktu dan hati yang luang untuk anak.

Ingat, kita pernah menjadi anak-anak.Harusnya lebih paham tentang mereka. Sedangkan anak, belum pernah menjadi orang dewasa seperti kita. So, jangan pernah paksakan mereka menjadi diri kita.
Gituh ajah, sampai bertemu dengan "dia" yang ber karakter lain.


                                   image

Sabtu, 14 Maret 2015

KopDar Akbar Guru Blogger Nasional Bersama Indosat




Bekasi ; Minggu, 15 Maret 2015 ; 05:00

Minggu pagi yang mendung membuka hari,hmmm hari ini meet up sama bloggers se Indonesia di gedung Indosat jl.Merdeka Barat Jakarta.
Undangan dari bunda Juli, dosenku dulu amat menggoda.
Buatku yang baru belajar nulis dan baru belajar nge blog, undangan ini amat menggoda.
Ngga ada teman? ah, ngga ngaruh.
Ilmu itu kan bukan bergantung pada teman.
Menuntut ilmu itu wajib hukumnya, apalagi buat kita yang muslim.
So? walau masih capek karena habis mengikuti lomba Aalat peraga edukatif kemarin dan meet up with ladies lafiga, semangat tetap 1000 %.
Bismillah....

Bulak Kapal, Bekasi 06:00
Nah disinilah aku berada, menanti bunda Juli.
Hey, ternyata bukan hanya kami berdua. Ada 13 orang lainnya yang ikut.
Naik APTB bekasi menuju Tanah Abang.
Turun nanti di komdak, nyebrang truuuuus nyambung naik bus way, turun di Monas.
Lalu berjalanlah kami sedikit.

Kebetulan hari ini acara Car Free Day.

So ? sekalian olah raga lah...Sehat...sehat...semangat
Melewati patung kuda pas di depan gedung indosat.
Yup, mari kita belajar dan bersilaturahmi pagi ini...
Let's Go

Masuk gedung, naik lift, tring...terbukalah di lantai 4.
Registrasi dulu sekalian daftar ICITYindosat,seeeep lah
trus ambil konsumsi dan cari tempat duduk yang "pewe" dan dekat colokan.
hahahaha...maklumlah kondisi baterai si lappy nge drop banget, cenderung rusak malah.
So, tempat duduk paling pinggir sebelah kiri dekat dengan stop kontak cocok bagiku, meski berpisah dengan rombongan.
Tak apalah, tetap dapat ilmu juga, karena kita di ruangan yang sama.

Wow acara ini di ikuti oleh 300 orang peserta dan berasal dari berbagai daerah. Dari Garut, Surabaya, Lumajang, Jakarta daaaan kota asalku Bekasi dengan jumlah peserta terbanyak.
Gaol yah guru-guru bekasi, ngga gaptek. Mantaff 

Gedung Indosat 08:30
Acara dimulai dengan perkenalan dari pengurus  Komunitas Sejuta Guru NgeBlog (KSGN) dan panitia acara KopDar Akbar ini. Wow hebat banget..Saluutt buat mereka semua. Lalu membaca doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya

Than, dimulailah acara dengan meng hastag di twitter #isatbloggermeetup truuuus di up di account twitter kita, than dipilihlah 4 orang yang nge tweet. Hey, salah satunya aku @ardafsopiah dan dapat pulsa gratis Rp20.000,Alhamdulillah.

Truuuzzzz, dibukalah lomba #LiveBlogging bareng Indosat ini.
Para peserta bisa langsung membuat postingan tentang acara KopDar Akbar ini....live di blog masing-masing dengan berbagai persyaratan.
Mari rekan-rekan.

Mata harus fokus menatap lappy dan kuping fokus mendengar acara yang berlangsung.Eh, fikiran pun mesti fokus...kalau ngga, antar jari jemari, mata dan kuping ngga singkron. Multi Talents lah....hahahaha                                               
Sambil mendengarkan penjelasan tentang ICITY dari Indosat yang identik dengan crowd solution, blogger dan edukatif dari mbak ghina.
Yeaaah...yes we are.
eeeee....aaaaa 

Acara selanjutnya bincang guru blogger berprestrasi.Pembicara kali ini bang Dedi Dwitagama, guru berprestasi Nasional,Kepala Sekolah SMKN 3 Jakarta dengan tema Nikmatnya Jadi Guru Blogger.


Keren banget...Inspiratif, dengan nge-blog guru-guru bisa produktif dan berprestasi. Sebarkan tulisan-tulisan positif "kabarkan kebaikan walau satu posting" itu katanya. Bayangkan jika sejuta guru menuliskan satu artikel saja, waaah berapa banyak tulisan inspiratrif dan positif bagi perkembangan edukatif di Indonesia. 

Pembicara ke dua adalah bu Amiroh Adnan, Srikandinya blogger Guru ini, mulai blogger dari tahun 2002 dan jago e-learning juga penmenang guru era baru yang di sponsori oleh ACER. Prestasinya keren dan banyak. Harus seperti inilah guru. Mesti melek tehnologi dan tidak ketinggalan dengan profesi yang lainnya.Keren yah, meski aku hanya guru TK, blogger ini mungkin bisa bermanfaat bagi para orang tua sebagai patner kami dalam mendidik anak.

Blog is how to....
  1. Meet new people
  2. Inspire Otherd
  3. Better Thinker
  4. Make some Money
  5. Healthy Habbits
  6. Being Known
  7. E-Learning Tools
Buat newbie harus punya
  1. Self Discipline
  2. Scheduled Post
  3. Easy to contact
  4. Improve
  5. Information Capture 
All right...berguna banget buat aku

Ingat...ingat...Jangan memulai nge blog karena
  • Mencari Uang
  • Memikirkan Trafic
  • Popularitas

Memulai nge Blog dengan tulisan yang jujur dan hati yang bersih, right !

Lanjuuut pembicara berikutnya yaitu guru SDN Jambekumbu 1, Lumajang yaitu  Muhammmad Subakri , guru SD di pelosok jawa dibawah gunung Semeru, yang bersahaja dan jago IT. Lagi..lagi Inspiratif dan luar biasa.

Ayo...Semangat Pemuda....Pemudi...Untuk Indonesia www.ayomendidik.wordpress.com itu nama blog nya, come on kita baca.
Satu kata INSPIRATIF. Dua kata KEREN. Tiga kata AYO KITA NGE BLOG.

Habis pulang dari sini, langsung semangatnya jadi 1000% buat nge blog.
Mau...mau...dan mau
minimal bermanfaat untuk diri sendiri
Maksimal bisa berguna untuk orang lain.

FYI , www.honeymoonbackpacker.com juga ada, bisa keliling dunia gratis dengan pasangan...mantaaafff
trus pemilik  blog muslimah backparer
tus pemilik blog makan mentah sehat

Aaaah ngga nyesel, ngga nyesel, ngga nyesel dan mau lagi datang ke acara kaya gini.

IsHoma dulu

truuus lanjut pembicaraan tentang tongsis, Wew...
Yuuuk ah



Kamis, 12 Maret 2015

Pelecehan seksual pd anak ? Ibu kunci nya

                                      Napi Pelecehan Seksual Anak Diduga Dicabuli Sipir Lapas Abepura


23 May 2014 at 06:00
Akhir2 ini marak sekali berita ttg pelecehan seksual pada anak di media. Saya yakin , banyak orang yang geram dengan berita tersebut dan mengutuk dengan keras para pelakunya . 

Jika diurutkan lebih jauh ....dan mencari dari mana akar permasalahan ini terjadi , banyak yang menyalahkan televisi dan tehnologi sebagai salah satu penyebabnya. Namun tahukan anda , hal yang paling dasar dari penyebab semua ini adalah pergeseran peran dan tanggung jawab pada orang tua terutama ibu.

Tidak dipungkiri , tiap tahun semakin banyak ibu yang memilih untuk bekerja di luar rumah.  Lalu perannya di dalam rumah dialih perankan pada mbak , suster , bibi atau nenek. Anak mengenal ibunya , namun tidak merasakan keberadaanya. Ibu yang di dalam Islam diberikan tugas sebagai Madrasah Pertama tempat anak belajar segala hal , berubah menjadi Ibu yang melahirkan saja . Bahkan zaman ini , jarang sekali ibu bekerja yang bisa menyusui anaknya 2 tahun , Seperti perintah Alloh SWT...Masya Alloh..
Yang memandikan ,mbak..yang menyuapi, mbak...yang menina bobokan saat tidur, mbak....yang menemani bermain , mbak...semua-semua ..mbak...
Kemana ibunya ? KERJA .

Ibu, sebagai perempuan, Kau tercipta sebagai TULANG RUSUK , Bukan TULANG PUNGGUNG...Tiada Kewajiban bagimu untuk mencari nafkah.

Berarti ibu yang stay di rumah lebih baik dari ibu yang bekerja dong ?
Belum Tentu juga , mom...
Banyak ibu yang di rumah pun tidak bisa melaksanakan perannya sebagai ibu.
Setiap harinya ia sibuk dengan pekerjaan rumah , menonton Televisi , bergaul dengan tetangga , ber Ghibah  , asyik di depan gadget , de el el
Anak ? dimana anak ?
Anak dinina bobo kan dgn televisi , gadget , main di luar tanpa pengawasan ....
Yang penting anak sudah diberi makan
Bu....anakmu kan bukan anak ayam . 

Ada Ibunya , namun tiada terasa keberadaannya.
Ketika sang anak mengalami hal yang tidak menyenangkan , barulah sang ibu menangis dan menjerit
disalahkannyalah program televisi

Bu....televisi itu benda mati , TV itu kepunyaan ibu , ambil remote lalu matikan , Bisaaa ?
Disalahkannya lah Gadget dan internet

Bu... Internet dan gadget itu pun  benda mati , Diberikan batasan atau mau ibu buang sekali pun benda itu tidak akan melawan.
Berikan pengawasan dan kontrol , bisaaa ?

Anak2 ini adalah masa depan Ibu, masa depan keluarga , masa depan negara , masa depan agama .
Jika dalam setiap doa ibu menginginkan anak menjadi anak yang sholeh / ah , anak yang pintar , berbakti pada orang tua , membanggakan bangsa dan agama ...

Seharusnya , usaha kita pun sebesar harapan kita , bisaaaa ?
Jadi, semua ada ditangan kita para ibu
Tetaplah berada dalam fitrah kita sebagi Ibu
Melaksanakan tugas - tugas mulia sebagai seorang ibu.
Menjadi ibu tidaklah mudah dengan tugas-tugas yang berat
Oleh karena itulah Surga ada dibawah telapak kakinya.
Insya Alloh, buah yang akan kita petik sangat manis nantinya.




Comment from Denny R Supriana :

it is all about love, caring and understanding where you stand as.. teach your children the value of things ( religion, human, animal, plant and material), and as parent you will learn a new thing in live trough your children (children is a reflection of their parent, yes they are a mini version of you but in much better form that are ready to be molt LOL) they are like an empty cup ready to be fill.(give them books, give them thing to do, ask them their day, go have ice cream go loco with them but yet still be their mother, make them open up to you and not afraid to speak up, listen when they tell you imaginary super hero story or asking so many question that make you dizzy LOL)..Just remember and understand where you stand as a woman then you know what to do. and oh keep telling your children the 3 word "I LOVE YOU", it is simple word that means alot.. This parent things are not gonna be easy is gonna be alots lots of drama but enjoy it every moment coz children grew fast the next thing we know the are in collage doing their things soo yes Enjoy it!! This is what i wrote to future me, when I became a mother to enjoy it, to be there, to teach, to learn, to give time, to listen, but most of it to give love and my soul to what God give me..

Pintu Yang Tak Pernah Tertutup

       


          Kenalkan, aku adalah sebuah pintu kelas di taman kanak-kanak daerah Bekasi. Meski dianggap "planet lain" oleh sebagian orang di luar sana, Bekasi adalah rumah bagiku. Aku terbuat dari triplek tebal dengan gagang pintu sederhana dan tubuhku di cat warna merah terang guna mempermanis tampilanku yang biasa saja. 

         Aku, sang pintu yang tak pernah tertutup, berada dalam apitan ruang kelas lain dan ruang kepala sekolah. Kau takkan sering melihat warna merahku, kecuali jika jam pembelajaran sudah berakhir hingga esok pagi tiba. Aku mempunyai password atau kata kunci ajaib jika ingin dilewati.
Kata kunci ajaibnya adalah ucapan salam yang diucapkan dengan manis. "Assalamu'alaikum...." Begitulah ucapan pertama yang kudengar setelah bunyi anak kunci masuk kedalam lubang kunci dan membukaku. Air muka anak-anak manis itu beserta ucapan salam dari mulut kecil mereka, membuatku bersemangat membuka diri. Selanjutnya, aku takkan tertutup lagi hingga mereka, para malaikat kecil itu pulang meninggalkan sekolah.

         Aku, pintu yang tak pernah tertutup menjadi saksi apa yang dilakukan para malaikat kecil penghuni kelas yang kujaga.
Seusai ucapan salam dilantunkan, malaikat-malaikat kecil tersebut langsung menghampiri bunda-bunda guru yang sedang duduk di meja guru, lalu mengecupkan bibir kecil mereka di atas punggung tangan kanan bunda guru. Sang bunda pun membalas jawaban salam mereka sambil mencium balik punggung tangan mereka satu persatu. Tak lupa menanyakan kabar dan keadaan mereka pagi itu. "Wa 'alaikum salam, cantik...wa 'alaikum salam, ganteng....sudah sarapan?" Kalimat itu yang biasanya ku dengar. Dan dengan bermanja, biasanya para malaikat kecil itu menjawab dengan riang "Sudah, bunda...aku minum susu'" atau ada yang menjawab "aku maem roti atau nasi uduk atau telor ceplok," bahkan ada yang menjawab "belum sarap
an,soalnya mamahku ngga masak." Hahahaha...itu namanya curcol...curhat colongan tentang mamah.

          Selain curhat colongan tentang apa pun dan siapa pun, bunda guru sering mendapatkan kejutan manis dari para malaikat berupa karya dan surat cinta mereka. "Ini khusus buat bunda," begitu katanya, bahkan ada yang menuliskan JANGAN DIKASIH TEMAN dengan huruf kapital semua, menegaskan keseriusan mereka.
Hahahaha.... Bahkan sebutir buah rambutan atau setangkai bunga kecil yang mereka ambil di pinggir jalan, bisa menjadi hadiah yang besar. Bunda guru hanya tertawa manis melihat apa pun tingkah pola malaikat-malaikat kecil itu,sehingga mereka pun dengan riang langsung mengerjakan rutinitas pagi yang lain. Menaruh "buku hijau" semacam buku penghubung orang tua dan guru, buku target tahfidz dan hafalan, buku tabungan dan buku baca. Lalu mereka menurunkan kursi kecil yang berada diatas meja mereka masing-masing dan menaruh tas di belakang senderan kursi. Selanjutnya tanpa mendapatkan perintah apa pun dari bunda guru, para malaikat segera mengambil buku tugas pagi mereka, bergiliran membaca iqro dan murojaah hafalan lalu bergiliran membaca buku. Sungguh, tiada banyak perintah dan arahan dari bunda guru. Semua bisa mereka kerjakan sendiri dan saling mengoreksi serta membantu satu sama lain.

          Keriuhan yang ada hanyalah obrolan-obrolan kecil diantara para malaikat. Obrolan tentang film, mainan, kesukaan, makanan, dan apa pun bisa menjadi topik pembicaraan mereka tiada habisnya.
Malaikat-malaikat kecil di kelasku memang sebagian besar adalah pembelajar audio. Mereka harus mendengar suara. Jika tak ada suara yang terdengar, mereka akan membuat suara sendiri. Entah itu melalui nyanyian atau pun suara obrolan. Pujian pun senantiasa terlontar dari mulut kecil mereka, biasanya mereka akan berkata “ Bunda cantik deh hari ini” atau “Bunda cantik kaya prices.” Bunda guru pun akan menjawab “Terima kasih Aisyah, Anjani, Naura,Putri,Fani,Kiran,Nabila,Zetha,kalian cantik semua dan Bagas, Genta,Ahdan,Akbar, Affan,Naufal, kalian ganteng semua.” Duh andai aku mempunyai mulut, aku pun akan ikut serta dalam obrolan dan pujian mereka yang tiada hentinya. Namun anehnya jika mereka mulai sholat dhuha berjamaah,obrolan terhenti berganti dengan suara-suara mereka melantunkan bacaan-bacaan sholat dengan fasih.
Bayangkan lantunan bacaan sholat terlantun dari mulut para malaikat kecil ini mengetuk-ketuk pintu langit. Menembus langit tertinggi tanpa hijab yang menghalangi, bersemai diantara awan-awan putih, sesuci jiwa para pelantunnya. Subhanalloh, semoga keberkahan selalu ada untuk mereka.

Bunda guru kali ini sudah pada tahap memotivasi saja setelah mengajarkan, membimbing dan mengarahkan. Para malaikat kecil itu sudah siap mengembangkan sayap-sayap mereka guna menempuh jenjang pendidikan lanjutan berikutnya. Kemandirian dan rasa percaya diri adalah modal dari semua itu. 
Aku, pintu yang tak pernah tertutup menyaksikan semua. Ketika seusai sholat berjamaah dilakukan, mereka merapihkan sendiri peralatan sholat mereka dan disusun secara rapih dalam box troly peralatan sholat sambil membaca sholawat. Allohumma Sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad....ku ikuti suara-suara para malaikat kecil memuji namamu Wahai kekasih Alloh SWT. 

            Mereka lalu duduk rapih membuat barisan dengan pola hitungan yang diberitahukan bunda guru, biasanya terdiri dari 4-4-4 baris atau 4-5-4 atau 4-4-5 atau 3-4-4 tergantung dari jumlah anak yang masuk hari itu dengan satu orang anak sebagai pemimpinnya. Sungguh indah keteraturan itu terasa. Walau pun masih ada satu, dua anak yang masih belum mau sepenuhnya mengikuti aturan. Namun berjalan dengan waktu, mereka mulai mengikuti. Pun ketika sudah memasuki pelajaran inti.
Bunda guru hanya memberikan instruksi awal dan menyediakan semua media yang di perlukan mereka. Para malaikat kecil ini akan langsung melaksanakan tanpa banyak bertanya dan meminta pertolongan. Semua mereka kerjakan dengan riang dan penuh tanggung jawab. Jika pun mereka mengalami kesulitan, bunda guru hanya akan membantu sedikit dan memberikan motivasi " Ayo,sayang...kamu pasti bisa. Pasti bisa." berulang mereka melakukan kesalahan, tak ada kata "ini salah" yang keluar dari mulut bunda guru, namun berupa pengarahan melalui kata dan senyuman tanpa menyalahkan. Anak pun takkan takut melakukan kesalahan dan tak merasa di hakimi.

             Bukankah itu yang disebut dengan pembelajaran? Menjadi bisa dari tidak bisa. Menjadi tahu dari tidak tahu. Menghargai proses sekecil apa pun. Itu yang terpenting.
Anak bisa karena ia mengetahui dengan betul dimana letak kesalahan yang harus diperbaiki. Bukan melakukan sesuatu karena takut di salahkan. Kenapa harus takut salah? Salah itu manusiawi dan itu menandakan adanya pembelajaran.
Aku, pintu yang tak pernah tertutup melihat di kelas ini tak ada penghapus pinsil. Bunda guru hanya menyediakan pinsil dan buku tanpa penghapus. Jika ada anak yang salah menulis, bunda guru akan mengarahkan untuk menuliskan tulisan yang benar disampingnya. "Tapi tulisanku salah, bunda." biasanya para malaikat kecil akan berkata seperti itu. Bunda guru hanya tersenyum dan menenangkan " tidak apa,sayang. Bunda tidak akan marah dan menghapusnya. Lanjutkan saja semampumu." Malaikat-malaikat kecil itu pun perlu dihargai usahanya, kemampuannya, keinginannya.

             Aku, pintu yang tak pernah tertutup, memang tak pernah ditutup saat pembelajaran. Dan anehnya tak ada satu pun anak yang keluar dari kelas itu melewatiku tanpa meminta izin pada bunda guru. Mereka semua tahu kapan saatnya belajar, kapan saatnya bermain di dalam, kapan saat bermain di luar, kapan saat masuk di dalam kelas, kapan mereka ada di luar kelas. Bunda guru tak pernah menutupku begitu pun para malaikat kecil itu. Jadi, kawan Kau takkan sering melihat warna merahku yang berhiaskan foto-foto para malaikat kecil itu. Kau takkan sering melihat gagang pintuku yang mulai berkarat di gerus waktu.
Kau takkan sering melihat sebuah tulisan besar "Welcome to star class" yang akan kau lihat adalah seluruh isi kelas beserta penghuninya yaitu para malaikat kecil yang manis dan sebentar lagi akan pergi meninggalkan kelas ini.Dan kini kawan, waktunya aku untuk tertutup. Kelas sudah dibubarkan dan para malaikat kecil itu sudah kembali pulang kerumahnya. Beristirahat, menikmati dekapan hangat ibunda-ibunda mereka. Bunda guru pun terlihat letih meski masih ada gelak tawa dan senyuman di wajahnya. Kini anak kunci sudah dimasukkan kedalam lubang kunci. Klik..klik...dua kali putaran anak kunci ke kanan, telah mengokohkan dudukanku. Sampai jumpa lagi esok pagi, dimana aku sangat merindukan gelak tawa dan senyuman manis penghuni kelasku.