Jumat, 26 Juni 2015

Belajar menerima kekalahan dari anak

Dan, lulusan terbaik tahun ini....a-da-lah...Ramandha Au-ryl...
Plok..plok...plok...seisi ruangan itu bergema dengan suara tepuk tangan.
Piala lulusan terbaik jatuh pada pemegang NUS tertinggi di sekolah.
Itu adalah Auryl..,saingan terberat L.
Aku langsung khawatir dengan suasana hati L.
"Gimana ya dia? Apakah akan menerima kekalahan ini?"
Ku lihat air mukanya.
Tampak tenang dan biasa saja.
"Gimana isi hatinya?"
Ku hampiri L dan bertanya "kamu ngga apa-apa?"
"Ngga apa-apa? Kenapa bu?"
"Nilai NUS mu dibawah Auryl gitu, kamu cuma peringkat ke dua, kamu ngga apa2?"
Eh, malah nyengir dia dan bilang "engga apa2 lah. Biar deh Auryl seneng. Sekali-kali lah bu. Masa aku mulu."
"Dih, NUS kan emang cuman sekali,L."
"Ya udah lah. Ngga apa-apa."
Kulihat kedalam matanya, beneran...ngga apa-apa.
Ngga kelihatan sedih
Ngga ada marah
Ngga ada kecewa
Ku tanya lagi "kamu ngga kecewa,L?"
"Dikiiit sih,tapi ya udah lah. Ngga bisa di ulang juga."
Iya sih, ta-pi...
Hghghg ini sih kayanya emaknya yang kecewa.
Trus harus gimana?
Marahin tuh anak? Buat apa?
Ngga akan merubah nilainya.
Palingan hanya untuk melampiaskan rasa kecewa aja.
Selanjutnya apa?
Sedari tadi , memang terlihat ada raut penasaran dan raut wajah-wajah cemas menanti hasil pengumuman NUS ini.
Baik orang tua mau pun siswa.
Termasuk Auryl yg duduk di sebelahku.
Sementara mereka kelihatan cemas, L kelihatan santai saja.
Anak itu tak pernah menunjukkan "eforia" yg berlebihan dalam berbagai hal.
Ngga lebay macam emaknya hghghg
Saat mendapatkan juara, L santai, ngga pernah terlihat senang yg berlebihan, ngga minta hadiah apa pun, ngga juga menuntut dibelikan ini itu.
Saat menerima kabar kekalahannya, L juga tetap santai.
Ngga kelihatan sedih, ngga juga jadi marah.
Cueeeek aja.
Ini pelajaran yang ku ambil.
Setiap orang selalu SIAP menghadapi hal-hal BAIK dalam hidupnya,
Tapi belum tentu SIAP menghadapi hak-hal BURUK dalam hidupnya.
Selepas pengumuman tadi, terlihat raut-raut wajah sedih dan bahagia.
Anakku?
Ah, dia mah masih tetap dengan raut wajah sebelum pengumuman NUS...Santai.
Sebagai orang tua sekaligus partner nya L dalam hidup, yang bisa kami lakukan adalah tetap menghargai dia dalam keadaan apa pun.
Bukan hanya saat dia berprestasi saja dan mengharumkan nama kami,
Pun saat L tidak menjadi apa-apa, kami tetaplah sahabat terbaiknya.
"Ibu kecewa?"
Sekarang L balik nanya sesampainya di rumah.
"Dikiiit, tapi mau gimana lagi? Kamu ibu hukum ya?"
"Idiiiih, ibu. Kan ibu doain yang terbaik. Ini yang terbaik menurut Alloh."
Yeeeey, malah nasehatin ibunya.
"Ini memang sudah yang terbaik bu."
"Dah pinter ya, pinter nasehatin ibu."
"Tapi benerkan,bu? Ngga dihukum kan?"
"Hukum, ah."
"Ngapain? Mijitin ibu?"
"Ya terserah..." *ini mah ibunya yg modus
"Ya udah,deh."
Jadi, hari ini ditutup dengan pijitan tangan L di kening dan punggungku.
Ah, Sesuatu yang akan aku rindukan saat kamu masuk boarding school nanti.
L, NUS hanyalah angka.
Ibu tetap bangga sama kamu, karena kamu sudah bisa menyikapi dengan baik kekalahanmu hari ini.
Dengan kesalahan dan kekalahan, kamu jadi bisa belajar.
Nak, tetaplah menjadi "guardian angel" ibu, yang selalu menjaga dan mengingatkan ibu lewat perbuatanmu yang baik.
I luv u much much more, thufael tsabit norhikawa
#backsound#berhenti#berharap#SO7#reff-nya#aja

Minggu, 21 Juni 2015

PR saat liburan, Ngga Asik banget!

Selain karena masuk bulan Romadhon, kegiatan KBM juga di liburkan karena anak-anak sudah bagi raport.
Kegiatan pembelajaran di liburkan selama kurang lebih 2 mingguan.
Libur? Waaaah senangnya.
Et, belum tentu.
Ada sebagian sekolah yang memberikan Pe-eR untuk dikerjakan anak selama liburan.
Alasannya sih, agar anak tidak terlalu banyak bermain dan tetap mau belajar, meski itu disaat libur.
What?!
Guru yang enggak asik!
Itu mungkin yang pertama terlintas di benak anak-anak.
Libur ya artinya pre-i...free...senang-senang, tidak terbebani tugas, refreshing, dll.

Sama seperti kita orang dewasa, anak juga manusia.
Gimana rasanya saat kita cuti, liburan, nah si boss malah ngasih pe-er setumpuk.
Waaaaah...ini mah bukan libur. Ya kan?
Bete, mingsut-mingsut, kesel, marah, lah...mending ngga usah cuti kan?!
Begitu pun dengan anak.

Sedikit cerita,
L punya sahabat dekat yang rumahnya jauh.
Persahabatan mereka sudah berjalan selama 7 tahun.
Dari Tk A sampai kelas 5.
Loh knapa cuma sampai kelas 5? Bukannya L sekarang kelas 6?
Gini nih ceritanya, karena rumahnya jauh dan sekolah yang berbeda, setiap liburan sekolah, temannya itu selalu menginap di rumah.
Buat L, dia adalah teman terbaik karena selalu nyambung saat ngobrol dan asik di ajak main.
Hubungan saya dan orang tua anak ini,hmm..sebut saja ia A, Juga sangat dekat.
Jadi, menginap sampai satu minggu pun di rumah, tak masalah.
Permasalahannya ada ketika A ini selalu membawa pe-er yang diberi dari sekolah saat liburan.
Sementara di sekolah L, pihak sekolah tak pernah memberi peer harian apalagi peer iburan.
Itulah salah satu alasan saya memilih sekolah buat L.

Awalnya, L tidak terganggu dan selalu membantu A mengerjakan peer-nya.
"Kasian bu, lagian klw peer nya cepat selesai, aku bisa main," itu kata L.
Setiap semester selalu begitu.

Seperti biasa, saat liburan di rumah selalu banyak anak yang menginap.
L sudah mulai mempunyai teman- teman dekat yang lain sekarang ini selain A. Tempat tinggal mereka tak jauh dari rumah kami.
Namun A pun masih suka menginap saat liburan sekolah.
Seperti biasa, A datang menginap membawa banyak tugas dari sekolah.
Ternyata, semakin tinggi kelasnya, ternyata peer yang di berikan dari sekolah A semakin banyak.
Sebelum meninggalkan ehhmm menitipkan A menginap di rumah, ibunya memberikan banyak wejangan.
A jangan lupa peer nya dikerjakan.
A nanti kalau engga bisa, tanya L aja..ya L? Nanti bantuin A,ya?
L hanya menjawab "hm" sambil terus menatap ke arah layar tv dan memainkan stick PS.
"L, jangan lupa ya?" Ibu A mencari jawaban pasti dari L.
Lalu ia memberi setumpukkan tebal buku dan lembar kerja pada anaknya.
"A, ini kerjain semua, nanti ustadz marah kalau engga selesai."
Aku yang sedari tadi diam dan melihat lalu nyeletuk deh jadinya "kalau engga selesai gimana?"
"Kalau engga selesai, ya aku bantuin."
"Bantuin gimana?"
"Ya, aku kerjain."
LHAH?!
Ini sih, tetap aja anak ngga tuntas bertanggung jawab terahadap tugas yang diberikan kalau ibunya juga yanh mengerjakan.
Lagi-lagi, memgajarkan ketidak jujuran. Hadeuuuh.
"kalau liburan kenapa peer nya seabreg gitu sih? Engga kasian sama anak?"
"Kasian sih, tapi kata ustadz dan gurunya, ini biar anaknya mau belajar."
WHAT?!
Aku ngelirik ke arah anak itu, A. Mukanya bete banget.
Eh, bukan cuma A deng, L juga.
"Dah ya, L, A. Mamah pulang dulu. Pamit ya,da. Nitip A."
Eeeeeh... nih ibu, kesian banget tuuuuh anaknya.
Setelah itu, aq masuk kamar.
L dan A ada di ruang tamu.
Hening...tak seperti biasanya.
Biasanya terdengar obrolan seru dan tawa canda jika mereka bertemu.
5 menit, 10 menit, 15 menit...masih saja hening.
Aku keluar kamar,penasaran,aku lihat di ruang tamu, L masih saja asik main PS dan A, Masya Alloh...dia langsung mengerjakan soal-soal yang se abreg itu.
Ya wis...aman berarti, fikirku.
Tak lama, beberapa teman baik L di sekitar rumah datang.
Mulailah keramaian ala anak laki-laki di rumah.
Ah, back to normal...aku senang.
Satu jam kemudian, aku keluar kamar.
Satu, dua, tiga, empat anak laki-laki tapi tak ada A.
"A, kemana L?"
"Pulang ke rumah mamah teteh," jawab L
Mamah teteh demikian panggilan L untuk bu de nya A yang rumahnya dekat dengan rumah kami.
"Naik apa,A? Dianterin kamu?"
"Jalan kali bu."
"Lah kok? Kenapa ngga kamu anter naek sepeda?"
"Engga ah, males."
"Kasian loh,A."
L engga menjawab apa2, dia masih asik bermain PS dengan temannya yg lain.
Ku cek by phone, iya, ternyata A sudah sampai k rumah budek nya.
Sore...A ngga balik-balik ke rumahku.
Biasanya, mereka engga pernah bisa berpisah lama.
Nanti A yang dirumah, pulang sebentar k rumah bude nya diantar L, ambil baju trus balik lagi ke rumah bareng L.
Kemana mana bareng, ngga pernah bisa lepas kaya amplop dan perangko.
Akhirnya aku panggil L dan bertanya "kamu kenapa sama A,L?"
"Engga kenapa napa,bu."
"Kok, tumben dia pulang ke rumah mamah teteh ngga kamu antar? Sore ini juga, kamu engga samperin dia?"
"Engga apa-apa kok."
"Jangan karna punya teman baru, teman lama dilupakan,L. Ngga baik itu."
"Bukan begitu,bu. A nya aja yang pengen pulang sendiri. Aku kan lagi asik main PS, dia nanya-nanya terus soal pelajaran. Aku males jawabin nya. Trus engga lama dia pulang deh."
Oh, i see... itu ternyata masalahnya.
L merasa terganggu dengan PR nya A dan A merasa L bukan teman yang baik karena engga bantu dia mengerjakan PR.
Hallooooo.....
Ini liburan...libur...free day.
Saatnya tidak memikirkan tugas, tidak pusing dengan buku yang engga asik dan saatnya bermain yang banyak.
Kalau kata L "Saatnya Main sampai sakit"
Hahahaha...
Study hard, play hard.

Trus engga boleh dong kasih PR ke anak saat liburan?
Idealnya sih begitu, tapi kalau pun mau memberi PR, mbok yaaaa yang menyenangkan.
Ngga mulu mesti berkutat dengan buku dan soal-soal.
PR nya bisa tentang pengamatan, analisis atau tentang pengalaman.
Yaaaa ngga jauh-jauh pembahasannya ttg liburan.
Alasan supaya anak tidak banyak bermain itu alasan yang dibuat-buat menurut saya.
Apa yang salah dengan bermain?
Dengan bermain, anak pun bisa belajar banyak kok.
Saya masih suka heran dengan pemikiran guru dan orang tua yang ketakutan jika anaknya banyak bermain.
Tugas anda, untuk mengarahkan kata bermain menjadi bermain yang bermakna, bukan menghilangkan masa bermain.
Kepandaian bukan karena melulu mengerjakan tugas...logika, instuisi dan kepekaan lebih bernilai dari pada itu.
Setuju???
Cobalah menempatkan diri menjadi anak-anak kita.
As usually saya ingatkan kembali
KITA PERNAH SEUSIA MEREKA, TAPI MEREKA BELUM PERNAH SEUSIA KITA
Jadi, kitalah yang harus mengerti mereka, bukan mereka yang mengerti jalan fikiran kita.

So?
Hapuuus Pe er!
Turunkan harga! Lhoh?!
Demi kebahagiaan anak-anak kita!

Rabu, 17 Juni 2015

Agar anak tetap menghujami anda dengan pelukan dan ciuman hingga mereka besar

Assalamualaikum....
Pagi pertama di bulan Romadhon 1436 Hijriah.
Pagi ini cuaca cukup bersahabat seperti biasanya, hanya tak ada aroma kopi yang menemani.
Hmm...yang ada adalah aroma ibadah.
Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kelancaran beribadah shaum yaaa,Aamiin.

Hari ini...mau bahas soal pelukan dan cium...hug n kiss.
Tetaaap...kaitannya dengan parenting dan anak-anak yaaa...

Seberapa sering sih anda memeluk dan mencium anak?
Apa sih manfaat pelukan dan cium bagi anak?
Apa juga Manfaat bagi hubungan antar orang tua dan anak?

Seperti biasa, jawabannya adalah beragam.

"Saya sih sering banget meluk anak, nyium2 pipinya, gruwel2-in perutnya, ngitikin kakinya.yaaaa setiap hari lah, terutama klw mau tidur."(sebut saja dia ibu mawar)
"Saya seneng banget nyium2 anak saya, tapi anak saya suka enggak mau tuh, katanya ayah cukur dulu, dicium ayah ngga enak, sakit."(sebut saja dia bapak budi)
Naaaah, tuh pak...cukur hehehe
" Saya jarang meluk n cium anak. Biasanya, anak yang suka nyiumin saya."(sebut saja dia bapak jaim)
Lhah?!
"Anak saya mau dicium n di peluk kalau di rumah aja. Kalau di depan umum suka ngehindar, malu katanya sama teman2."(sebut saja dia ibu nona)
Hmmm..,banyak sih yang kaya gini.

Biasanya jika anak2 masih balita dan belum masuk sekolah, mereka akan suka rela, malah menagih pada kita untuk di peluk dan di cium.
Bahkan mereka sendiri yang akan bertubi2 menghujani kita dengan pelukkan dan ciuman.
Even itu di tempat umum dan di hadapan banyak orang.
Menyenangkan bukan?
Bau tubuh mereka yg masih berbau bayi, terasa masiiiih menempel di hidung kita walau pun kita sudah berada di kantor.
Ngangeniiiin
Tapi jangan harap mereka akan melakukannya lagi saat mereka mulai masuk sekolah dan mengenal banyak teman.
Boro2 menghujami kita dengan ciuman, di peluk di depan sekolah aja langsung menampik dan bilang "udah ah yah, bu...aku malu sama teman2."
Mereka ngga mau dianggap anak kecil lagi.
Tapi ada loooooh anak2 yang beranjak remaja masih melakukannya di depan umum.
Masih mau di peluk dan di cium di depan teman-temannya, merangkul mamah papahnya seperti sahabatnya sendiri.
Suka ngiri ngga kalau lihat yang begitu?
Pengen ngga hubungan kita dan anak bisa seperti itu, walau pun dia beranjak besar dan dewasa kelak?

Alhamdulillah anakku L masih mau aq cium dan peluk meski dihadapan orang banyak.
Dia engga perduli dengan penilaian orang lain terhadap dirinya.
Yang ia perdulikan adalah perasaan ibunya terhadap dia.
Jadi, engga ada tuh omongan "ntar malu sama temen2."

Mau tau ra-ha-si-a nya?
1. Jadilah sahabat baik ànak.
     Prosesnya enggak sebentar tapi jg ngga susah kok.
2. Hargailah perasaan anak.
     Dengan menghargai perasaanya, anak akan menghargai kita.
3. Jadilah orang tua yang membanggakan.
    Jangan hanya menuntut anak untuk bisa berprestasi dan membanggakan sementara kita sebagai orang tua menuntut anak untuk menerima kita apa adanya.

Jika menurutnya kita adalah orang tua yang terbaik, yg asik dan meñgerti perasaannya, dia yang akan tetap terus menghujami kita dengan peluk dan ciuman.
Biasakan juga memeluk dan mencium anak, karena menurut beberapa penelitian, banyak sekali manfaatnya loh...pak, bu, setidaknya ada 6 Manfaat Memberi Pelukan Pada Anak :

1. Pada bayi yang lahir prematur, pelukan hangat dari sang ibu akan membuatnya lebih kuat.
Mempercepat perkembangan tubuh serta otak.
Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Bliss Hospital di Montreal, disimpulkan bahwa bayi prematur yang dipeluk oleh sang ibu akan menjadi lebih cepat kuat,
sehat dan besar daripada bayi yang hanya ditempatkan di inkubator saja. Sebab ketika sang bayi dipeluk, ia akan merasa nyaman sehingga mempunyai energi baru.

2. Sebuah pelukan akan jauh lebih efektif bila dibanding dengan kata-kata pujian dalam memengaruhi perilaku seseorang.
Para praktisi ahli telah membuktikan hal ini.
Banyak kasus konflik yang terjadi antara ibu dan anak ternyata bisa lebih cepat teratasi hanya dengan pelukan. Seorang anak akan berubah begitu drastis menjadi lebih tenang dalam hitungan menit setelah mendapat pelukan.

3. Pelukan bisa menjadi media untuk mengatasi anak-anak yang berperilaku unik.

4. Sebuah pelukan dapat memberikan kedekatan dan kekuatan getaran batin antara orangtua dan anak. Berdasarkan penelitian psikolog Edward R. Christopherson. Ph.D, pelukan jauh lebih efektif daripada pujian atau ucapan sayang karena membuat anak merasa dicintai dan dihargai.

5. Sebuah pelukan sederhana bisa menurunkan tekanan darah dan mengurangi stres.

6. Dalam bukunya 'The Hug Therapy', psikolog Kathleen Keating menyebutkan bahwa pelukan juga dapat meningkatkan kecerdasan otak dan IQ anak.

Anak yang sering di peluk dan di cium juga akan tumbuh menjadi pribadi yang hangat, menyenangkan dan ber empati tinggi.

So, sudah memeluk dan mencium anak andakah pagi ini?
Sudah siapkan menjadi orang tua yang asik dan membanggakan? Biar nanti mereka akan tetap menghujami kita dengan peluk dan cium hingga mereka dewasa kelak, Aamiiin.

Minggu, 07 Juni 2015

Jalur depan-belakang

 Pagi-pagi sekali, saya sudah mendapat pesan begini.
"Bund tau engga sekarang berapa ya biaya buat masuk jalur belakang?"
"Jalur belakang apa mom?"
"Itu loh bund, biaya buat masuk sekolah negri."
"Loh, memangnya bayar ya?"
"Ya engga sih bund. Ini kan yang masuk jalur belakang."
"Wah, saya engga ngerti tuh, mom. Saya juga engga tahu berapa besar biayanya lewat jalur begituan."
"O, ya wis bund. Tapi,bund. tau engga, kira-kira sekolah mana ya yang bisa nerima jalur belakang?"
"Wah, lagi-lagi saya engga tau,mom. Kenapa engga lewat depan aja,mom?'
Kali ini saya jadi ikut-ikutan pakai istilah depan-belakang,deh.
"Saya engga yakin, bund. Anak saya bisa masuk kalau lewat depan."
Lah?
Kenapa harus lewat belakang kalau bisa kulo nuwun dengan baik lewat pintu depan,ya?
Engga yakin dengan kemampuan anak?
Trus kenapa harus dipaksakan?
"Bunda sih enak, anaknya pinter. Nilai-nilainya selalu bagus."
Itu biasanya yang mereka lontarkan saat saya menyarankan lewat jalur resmi untuk mendaftarkan anaknya.
Eeeeeh, ngga gitu juga kali mom, alasannya.
Kalau anak saya bisa lewat jalur depan, itu karena kerja keras dan kemampuannya sendiri.
Kami tak pernah paksakan dia untuk masuk sekolah terbaik kok.

Tapi...gitu deh.
Masih banyak saja orang tua yang tidak percaya dengan kemampuan anaknya.
Menghalalkan segala cara agar anak bisa mendapatkan tempat terbaik.
Ngga apa-apa sih kalau caranya itu baik.
Lah ini...
Akhirnya, saya balas lagi message dari ibu itu.
"Gini loh, mom...percayalah dengan kemampuan anaknya sendiri. Setahu saya, untuk masuk sekolah favorit seperti SMPN yang itu tuh, nilai minimal rata-ratanya hanya 7,8 saja kok."
"Oh gitu,bund? Kalau Nilai UN nya bagaimana?"
"Nilai UN-nya, tahun kemarin minimal 27,15."
"Naaaaaah itu dia, bund. Kayanya engga mungkin kalau si kakak nilai UN nya bisa segitu."
"Tuuuh kan, lagi-lagi mengecilkan kemampuan anak.
Bukan mengecilkan anak,bund. Yaaaa sadar diri aja segimana kemampuan anak."
"Nah tuh...trus mamah masih mau tetap memasukkan si kakak ke sekolah favorite itu meski nilainya ngga cukup?"
"Iya lah, bund. Prestice itu,bund."

Lah mom, katanya sadar akan kemampuan anak? Kalau dengan cara seperti itu, bukannya berarti mamah sudah tidak jujur ya? Mamah tidak sadar akan kemampuan anak.
Mamah menjadi tidak jujur pada diri sendiri, pada anak, pada pihak sekolah, pada masyarakat, terlebih lagi pada Tuhan.
Demi apa? 
Demi "harga diri."
Okelah, pada saat anak bisa masuk ke sekolah favorit itu, apakah masalah sudah selesai sampai situ?
Cukup sampai anak bisa masuk sekolah?
Saya rasa,tidak.
Anak kan akan menjalani hari-hari berikutnya di sekolah itu.

Baiklah mari kita berusaha menjadi manusia dewasa sekarang, menempatkan diri diluar diri kita dan memandang persoalan ini dari sudut mana pun.

Apa yang terjadi jika anak masuk ke sebuah sekolah melalui "jalur belakang?"

Dari segi kebaikannya dulu deh.
1. Kereeen, anak bisa masuk sekolah favorit di kota ini.
2. Keluarga dan tetangga pasti memuji doooong.
3. Anak akan mendapatkan lingkungan belajar yang baik dan berkualitas. Yaaaa...syukur-syukur anak bisa termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
4. Harga diri...sekali lagi, harga diri...bisa naik dooong. Hehe

Hmmm...baru segitu saja yang bisa saya fikirkan tentang kebaikan atau keuntungan dari jalan ini.

Trus apa kekurangan dari cara ini?
1. Anda menjadi pembohong.
2. Anda mengajarkan anak untuk menjadi pembohong dan biasa hidup tidak jujur bahkan sampai tua.
3. Anak akan selalu menjadi murid dengan prestasi belajar yang paling belakang karena memang kemampuannya dibawah teman-temannya yang lain di sekolah itu.
4. Anak menjadi frustasi karena kurang di hargai.
5. Anak menjadi pembangkang, dan berujung pada ketidak bahagiaan anak.

Itu juga baru sebagian kecil dari kekurangan atau keburukan dari cara ini.
Jika kita telaah lebih lanjut, mungkin bisa mencapai puluhan alasan dari kekurangan "jalan belakang" ini.
 
Tidak bisakah dengan tetap menghargai usaha anak, lalu menerima segala kekurangan dan kelebihan mereka dan tempatkan mereka di tempat yang benar?

Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal.
Setiap orang diberikan potensi-nya masing-masing dan berbeda.
Jikalau mom tidak bisa melihat potensi dari anaknya sendiri, maka stop sajalah menjadi orang tuanya.
Eeeeeeeh, ngga boleh gitu ya?
Begini loh, anak-anak juga manusia seperti ayah dan ibunya.
Bagaimana perasaan anda jika tak dihargai, ditekan dan dipaksa mengikuti kemauan orang lain?
Bukankah itu tidak mengenakkan?
Hargai mereka dan kembangkan potensinya.

"Ah, klise itu,bund. Teoritis yang mudah tapi susah dijalani."

Saya kan ngga bilang itu mudah. Itu butuh perjuangan dan kesabaran setiap saat.
Menjadi orang tua bukan berarti membuat kita berhenti belajar dan tahu segalanya.
Menjadi orang tua adalah sebuah babak baru dalam proses pembelajaran.
Ini adalah proses panjang dan menyenangkan.
"Kok menyenangkan? Bukannya melelahkan?"
Waaah kalau ada yang bilang mengurus anak adalah proses yang melelahkan, itu tandanya anda belum siap menjadi orang tua.
Sungguh aneh jika ada yang bilang begitu.
Stop saja menjadi orang tua.
Eeeeeeh, ngga boleh ngomong gitu lagi ya?
Hahaha,maaf.

Perhatikan dengan baik, kalimat saya berikut ini *cieeeeeeh.
Jika anda ingin di hargai maka hargailah orang lain.

Naaaah, itu juga berlaku buat anak-anak anda.
Anak anda kan orang ya? Manusia.

Jadi Pe-eR nya sekarang adalah, 
  1. Cari tahu apa potensi terbesar anak anda. Kembangkan semaksimal mungkin.
  2. Hargai kemampuan anak.
  3. Tempatkan ia pada tempat yang seharusnya.
  4. Yang terpenting adalah buat anak anda bahagia untuk menjadi dirinya sendiri.
Katakan, "mamah or papah akan tetap mendukungmu menjadi apa pun yang kau inginkan. Taatlah pada Tuhanmu.  Berbuat baiklah pada semua mahluk.
Mamah dan papah takkan membandingkanmu dengan siapa pun. Karena kamu adalah kamu, kebanggaan mamah dan papah."

Percayalah, mereka pun akan mulai menghargai anda, orang tuanya, dimulai pada saat anda menghargai mereka.
Anda akan melihat keajaiban dari efek penghargaan yang anda berikan pada anak.
  1. Anak akan lebih percaya diri.
  2. Anak akan lebih menyayangi anda sebagai orang tuanya.
  3. Anak akan mudah diatur.
  4. Potensi anak akan melejit.
  5. Anak mempunyai prestasi yang baik.(Prestasi itu bukan hanya di bidang akademik kan,mom?).

So, engga masuk sekolah favorit, ngga papa kaaaaan?