Kamis, 12 Maret 2015

Pintu Yang Tak Pernah Tertutup

       


          Kenalkan, aku adalah sebuah pintu kelas di taman kanak-kanak daerah Bekasi. Meski dianggap "planet lain" oleh sebagian orang di luar sana, Bekasi adalah rumah bagiku. Aku terbuat dari triplek tebal dengan gagang pintu sederhana dan tubuhku di cat warna merah terang guna mempermanis tampilanku yang biasa saja. 

         Aku, sang pintu yang tak pernah tertutup, berada dalam apitan ruang kelas lain dan ruang kepala sekolah. Kau takkan sering melihat warna merahku, kecuali jika jam pembelajaran sudah berakhir hingga esok pagi tiba. Aku mempunyai password atau kata kunci ajaib jika ingin dilewati.
Kata kunci ajaibnya adalah ucapan salam yang diucapkan dengan manis. "Assalamu'alaikum...." Begitulah ucapan pertama yang kudengar setelah bunyi anak kunci masuk kedalam lubang kunci dan membukaku. Air muka anak-anak manis itu beserta ucapan salam dari mulut kecil mereka, membuatku bersemangat membuka diri. Selanjutnya, aku takkan tertutup lagi hingga mereka, para malaikat kecil itu pulang meninggalkan sekolah.

         Aku, pintu yang tak pernah tertutup menjadi saksi apa yang dilakukan para malaikat kecil penghuni kelas yang kujaga.
Seusai ucapan salam dilantunkan, malaikat-malaikat kecil tersebut langsung menghampiri bunda-bunda guru yang sedang duduk di meja guru, lalu mengecupkan bibir kecil mereka di atas punggung tangan kanan bunda guru. Sang bunda pun membalas jawaban salam mereka sambil mencium balik punggung tangan mereka satu persatu. Tak lupa menanyakan kabar dan keadaan mereka pagi itu. "Wa 'alaikum salam, cantik...wa 'alaikum salam, ganteng....sudah sarapan?" Kalimat itu yang biasanya ku dengar. Dan dengan bermanja, biasanya para malaikat kecil itu menjawab dengan riang "Sudah, bunda...aku minum susu'" atau ada yang menjawab "aku maem roti atau nasi uduk atau telor ceplok," bahkan ada yang menjawab "belum sarap
an,soalnya mamahku ngga masak." Hahahaha...itu namanya curcol...curhat colongan tentang mamah.

          Selain curhat colongan tentang apa pun dan siapa pun, bunda guru sering mendapatkan kejutan manis dari para malaikat berupa karya dan surat cinta mereka. "Ini khusus buat bunda," begitu katanya, bahkan ada yang menuliskan JANGAN DIKASIH TEMAN dengan huruf kapital semua, menegaskan keseriusan mereka.
Hahahaha.... Bahkan sebutir buah rambutan atau setangkai bunga kecil yang mereka ambil di pinggir jalan, bisa menjadi hadiah yang besar. Bunda guru hanya tertawa manis melihat apa pun tingkah pola malaikat-malaikat kecil itu,sehingga mereka pun dengan riang langsung mengerjakan rutinitas pagi yang lain. Menaruh "buku hijau" semacam buku penghubung orang tua dan guru, buku target tahfidz dan hafalan, buku tabungan dan buku baca. Lalu mereka menurunkan kursi kecil yang berada diatas meja mereka masing-masing dan menaruh tas di belakang senderan kursi. Selanjutnya tanpa mendapatkan perintah apa pun dari bunda guru, para malaikat segera mengambil buku tugas pagi mereka, bergiliran membaca iqro dan murojaah hafalan lalu bergiliran membaca buku. Sungguh, tiada banyak perintah dan arahan dari bunda guru. Semua bisa mereka kerjakan sendiri dan saling mengoreksi serta membantu satu sama lain.

          Keriuhan yang ada hanyalah obrolan-obrolan kecil diantara para malaikat. Obrolan tentang film, mainan, kesukaan, makanan, dan apa pun bisa menjadi topik pembicaraan mereka tiada habisnya.
Malaikat-malaikat kecil di kelasku memang sebagian besar adalah pembelajar audio. Mereka harus mendengar suara. Jika tak ada suara yang terdengar, mereka akan membuat suara sendiri. Entah itu melalui nyanyian atau pun suara obrolan. Pujian pun senantiasa terlontar dari mulut kecil mereka, biasanya mereka akan berkata “ Bunda cantik deh hari ini” atau “Bunda cantik kaya prices.” Bunda guru pun akan menjawab “Terima kasih Aisyah, Anjani, Naura,Putri,Fani,Kiran,Nabila,Zetha,kalian cantik semua dan Bagas, Genta,Ahdan,Akbar, Affan,Naufal, kalian ganteng semua.” Duh andai aku mempunyai mulut, aku pun akan ikut serta dalam obrolan dan pujian mereka yang tiada hentinya. Namun anehnya jika mereka mulai sholat dhuha berjamaah,obrolan terhenti berganti dengan suara-suara mereka melantunkan bacaan-bacaan sholat dengan fasih.
Bayangkan lantunan bacaan sholat terlantun dari mulut para malaikat kecil ini mengetuk-ketuk pintu langit. Menembus langit tertinggi tanpa hijab yang menghalangi, bersemai diantara awan-awan putih, sesuci jiwa para pelantunnya. Subhanalloh, semoga keberkahan selalu ada untuk mereka.

Bunda guru kali ini sudah pada tahap memotivasi saja setelah mengajarkan, membimbing dan mengarahkan. Para malaikat kecil itu sudah siap mengembangkan sayap-sayap mereka guna menempuh jenjang pendidikan lanjutan berikutnya. Kemandirian dan rasa percaya diri adalah modal dari semua itu. 
Aku, pintu yang tak pernah tertutup menyaksikan semua. Ketika seusai sholat berjamaah dilakukan, mereka merapihkan sendiri peralatan sholat mereka dan disusun secara rapih dalam box troly peralatan sholat sambil membaca sholawat. Allohumma Sholli ala Muhammad wa ala ali Muhammad....ku ikuti suara-suara para malaikat kecil memuji namamu Wahai kekasih Alloh SWT. 

            Mereka lalu duduk rapih membuat barisan dengan pola hitungan yang diberitahukan bunda guru, biasanya terdiri dari 4-4-4 baris atau 4-5-4 atau 4-4-5 atau 3-4-4 tergantung dari jumlah anak yang masuk hari itu dengan satu orang anak sebagai pemimpinnya. Sungguh indah keteraturan itu terasa. Walau pun masih ada satu, dua anak yang masih belum mau sepenuhnya mengikuti aturan. Namun berjalan dengan waktu, mereka mulai mengikuti. Pun ketika sudah memasuki pelajaran inti.
Bunda guru hanya memberikan instruksi awal dan menyediakan semua media yang di perlukan mereka. Para malaikat kecil ini akan langsung melaksanakan tanpa banyak bertanya dan meminta pertolongan. Semua mereka kerjakan dengan riang dan penuh tanggung jawab. Jika pun mereka mengalami kesulitan, bunda guru hanya akan membantu sedikit dan memberikan motivasi " Ayo,sayang...kamu pasti bisa. Pasti bisa." berulang mereka melakukan kesalahan, tak ada kata "ini salah" yang keluar dari mulut bunda guru, namun berupa pengarahan melalui kata dan senyuman tanpa menyalahkan. Anak pun takkan takut melakukan kesalahan dan tak merasa di hakimi.

             Bukankah itu yang disebut dengan pembelajaran? Menjadi bisa dari tidak bisa. Menjadi tahu dari tidak tahu. Menghargai proses sekecil apa pun. Itu yang terpenting.
Anak bisa karena ia mengetahui dengan betul dimana letak kesalahan yang harus diperbaiki. Bukan melakukan sesuatu karena takut di salahkan. Kenapa harus takut salah? Salah itu manusiawi dan itu menandakan adanya pembelajaran.
Aku, pintu yang tak pernah tertutup melihat di kelas ini tak ada penghapus pinsil. Bunda guru hanya menyediakan pinsil dan buku tanpa penghapus. Jika ada anak yang salah menulis, bunda guru akan mengarahkan untuk menuliskan tulisan yang benar disampingnya. "Tapi tulisanku salah, bunda." biasanya para malaikat kecil akan berkata seperti itu. Bunda guru hanya tersenyum dan menenangkan " tidak apa,sayang. Bunda tidak akan marah dan menghapusnya. Lanjutkan saja semampumu." Malaikat-malaikat kecil itu pun perlu dihargai usahanya, kemampuannya, keinginannya.

             Aku, pintu yang tak pernah tertutup, memang tak pernah ditutup saat pembelajaran. Dan anehnya tak ada satu pun anak yang keluar dari kelas itu melewatiku tanpa meminta izin pada bunda guru. Mereka semua tahu kapan saatnya belajar, kapan saatnya bermain di dalam, kapan saat bermain di luar, kapan saat masuk di dalam kelas, kapan mereka ada di luar kelas. Bunda guru tak pernah menutupku begitu pun para malaikat kecil itu. Jadi, kawan Kau takkan sering melihat warna merahku yang berhiaskan foto-foto para malaikat kecil itu. Kau takkan sering melihat gagang pintuku yang mulai berkarat di gerus waktu.
Kau takkan sering melihat sebuah tulisan besar "Welcome to star class" yang akan kau lihat adalah seluruh isi kelas beserta penghuninya yaitu para malaikat kecil yang manis dan sebentar lagi akan pergi meninggalkan kelas ini.Dan kini kawan, waktunya aku untuk tertutup. Kelas sudah dibubarkan dan para malaikat kecil itu sudah kembali pulang kerumahnya. Beristirahat, menikmati dekapan hangat ibunda-ibunda mereka. Bunda guru pun terlihat letih meski masih ada gelak tawa dan senyuman di wajahnya. Kini anak kunci sudah dimasukkan kedalam lubang kunci. Klik..klik...dua kali putaran anak kunci ke kanan, telah mengokohkan dudukanku. Sampai jumpa lagi esok pagi, dimana aku sangat merindukan gelak tawa dan senyuman manis penghuni kelasku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar