Selasa, 24 Maret 2015

Malaikat Koleris Yang Romantis

Brak...suara pintu dibanting terdengar lagi.
Ini bukan yang pertama kalinya ia lakukan.
Serentetan sumpah serapah dan makian keluar dari mulut kecilnya.
"Bunda jahat, aku benci sama bunda. Aku ngga mau sekolah lagi," ujarnya sambil membawa tas dan membalikkan seluruh rak sepatu yang berjejer rapih di depan kelas.
Brak...demikian suara itu terdengar lagi.
Aku hanya diam, tetap duduk tenang dan memperhatikannya tanpa melihat kearahnya.
Di depan pintu kelas, kembali ia berteriak " Bunda jahat, aku benci sama bunda.Bunda jahaaat," Nadanya kini semakin meninggi.
Wajah lucunya kini menghilang digantikan oleh raut muka marah dan menyeramkan.
Deru nafasnya makin tak beraturan, keringat pun deras membasahi wajahnya yang masih berusia lima tahun.
Tangan kanannya memegang tas, tangan kirinya menjinjing sepatu futsal.
Aku hanya menoleh sebentar dan menatap lembut ke arahnya lalu kembali fokus terhadap anak lain di hadapanku.
Malaikat kecil yang sedang mengulang hafalan doa dan hadist di depanku berkata "Bunda, dia kenapa?"
Aku hanya tersenyum dan menjawab " Dia sedang marah, ayo kita lanjutkan.Jangan dilihat ya."
 
Permasalahannya hanya sepele, sepertinya sudah ada dari rumah.
Pagi itu, ia tak mau mengikuti kegiatan sholat Dhuha berjamaah dan mengganggu barisan shaf teman-temannya yang sedang melaksanakan sholat.
Aku hanya menegurnya dengan kalimat "Sayang, jangan ganggu temannya," itu pun dengan nada standar.
Langsung saja reaksinya seperti itu. Membawa tasnya,membanting pintu dan berteriak-teriak.
Reaksinya memang selalu seperti itu, tak terduga dan tak terkendali.
Seperti api, hanya di sulut sedikit saja, maka ia akan membesar dan membara.
 
TIME OUT dan sebuah pelukan lembut, Hanya itu sebenarnya yg ia perlukan.
Ku biarkan ia mengeluarkan semua kekesalan dan kemarahannya. 5 menit saja.
Mungkin cara berekspresi dia berlebihan, namun hanya cara itu yang ia tahu.
Itu yang ia lihat dari lingkungannya.
Jika marah, marahlah. Jika kesal, berteriaklah. Jika tak suka, pukullah.
Denganku ia menemukan aturan baru. Aku membiarkannya berekspresi, namun ku batasi waktunya.Tidak nyaman? Jelas, siapa pun tidak akan nyaman dengan sesuatu yang tak biasa.
Ku lihat jarum jam yang berdetak di dinding,ah, sudah lima menit rupanya.
Wajah marah itu masih ada di depan pintu.
Tak kemana-mana, masih tetap di tempat yang sama.
Kini sudah tidak terdengar makian, yang ada hanya mata yang marah, wajah yang kesal dan keringat yang bercucuran.
Aku beranjak dari kursiku menghampirinya. Kurangkul tubuh kecilnya yang basah oleh keringat.Tanpa berkata satu patah kata pun, aku menggiringnya ke kantor tata usaha.
Dia mengikutiku, tidak memberontak. Dia membiarkan tubuh kecilnya dalam rengkuhan lengan kiriku di pundaknya.
Tas dan sepatu masih ada di tangan kanan dan kirinya.

Sesampai di kantor tata usaha, aku membuatkan air gula kesukaannya.
Kuserahkan gelas yang berisi air gula itu tanpa berkata apa pun.
Ia melepaskan sepatu dan tasnya lalu meraih gelas tersebut dan meneguk isinya dengan cepat.
"Baca doa,nak," hanya itu yang ku ucapkan.
Ia pun mengikuti perintahku "Allohumma bariklana fii ma rojaqtana wa kii na azabbannar," ujarnya segera setelah menghentikan sejenak tegukannya.
"Alhamdulillah," ujarku dalam hati sambil tak henti menatapnya. Tatapan yang ku berikan adalah tatapan biasa, bukan tatapan marah atau pun kecewa.
Setelah habis seluruh isi gelas di teguknya, ia menyerahkan gelas itu padaku dan berkata "Sudah, bunda."
"Baca doa," Ujarku kembali, tetap dalam nada suara standar. Tidak meninggi ataupun merendah.
"Alhamdulillah," itu yang keluar dari mulut kecilnya.
Ku ambil tissue dan ku berikan padanya. Ia mengelap wajahnya tanpa kuberikan instruksi apa pun. Aku pun membantunya mengelap seluruh keringat yang ada di wajah, kepala, leher dan tangannya.
"Kamu sudah sarapan?" tanyaku.
"Belum," jawabnya datar
Nah, ini dia ternyata akar permasalahannya. Ia yang bertubuh kecil dan berenergi besar, tidak mendapatkan asupan energi yang sesuai dengan apa yang ia butuhkan.
Aku tak mengomentari sarapan tersebut. Bisa panjang masalahnya jika ku bahas. Mengenal wataknya, masalah ini bisa memicu amarahnya lagi. Ia akan mulai menyalahkan mbak nya, "teteh" nya, mamahnya...
Lebih baik aku tetap diam, toh kini di dalam perutnya sudah ada air gula yang bisa menopang energinya sementara hingga waktu makan tiba.
"Bunda mau ke kelas ya," itu yang keluar dari mulutku.
Ajaib, ia mengikutiku ke kelas sambil membawa tas dan sepatunya.
Sesampainya di depan ruangan kelas, ia melihat rak sepatu yang tadi di robohkannya.
Tanpa berinstruksi apa pun padanya, ia langsung merapihkan kembali rak sepatu tersebut dan menyusun seluruh sepatu-sepatu temannya dengan rapih. Dan sepatunya ada dalam susunan itu.
Ia kembali masuk kelas tanpa di minta, lalu duduk di kursinya dan berinteraksi bersama tema-temannya.
Kembali bercakap-cakap, kembali bercengkrama, seakan kejadian tadi tak pernah ada.
Teman-temannya pun tak ada yang bertanya atau membahas kejadian tadi.
Mereka semua sudah makhfum dan maklum.
Karena seringnya ia melakukan hal yang seperti itu dan aku meminta pada teman-teman sekelasnya agar tidak memberikan perhatian lebih pada saat genta sedang marah.
Alhamdulillah mereka mengerti.

Ini bukan kejadian yang pertama dan terakhir.
Ia juga pernah melemparkan bangku ke arah kerumunan temannya saat ia merasa marah dan terusik.
Itulah ia, senang mengganggu tapi tak mau di ganggu.
Pribadi yang sangat tidak menyenangkan
Tapi aku yakin seyakin-yakinnya, tak ada keinginannya untuk menjadi anak yang dijauhi teman dan menjadi anak yang menyebalkan.
Diurut dari penyebabnya, ia seperti itu karena mencari perhatian dari sang mamah yang sering tugas keluar kota dan ia banyak di tinggal di rumah bersama teteh, mbak dan papah.

Bisa apa seorang anak berusia lima tahun?
Bernegosiasi? Berkata-kata lugas? Berfikiran terbuka dan dewasa?
Ia hanya bisa bertanya, lalu ketika tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, ia akan bingung. dan ketika sampai pada titik kebingungannya memuncak, ia akan marah.
Itu yang dirasakannya.
Yang ia perlukan hanya tempat dan media untuk melampiaskan kemarahan, sebuah pelukan dan kuping untuk mendengar.

Mengapa tidak boleh marah?
Mengapa tak boleh mengeluarkan rasa yang begitu sesak di dalam dada?

Aku menyediakan tempat itu, ku beri nama kursi "time out."
Pada saat ia tak bisa mengendalikan perasaannya, ku bawa ia ke kursi itu untuk duduk dan menenangkan diri dengan tenggang waktu yang kuberikan. Lima menit, sepuluh menit atau lima belas menit. Biasanya tak pernah lebih dari itu.
Apakah ia akan suka rela duduk dengan tenang?
Tentu tak akan terjadi dengan kondisi amarah yang merasuk jiwa.
Sepuluh kali ia bangkit dari kursi itu, sepuluh kali juga aku dudukan ia kembali.
Lima puluh kali ia bangkit dari kursi itu, lima puluh kali juga aku dudukan kembali.
Ibarat sebuah permainan, kami adalah sepasang pemain yang saling mengadu kekuatan. Terutama soal ketahanan prinsip.

Percayalah, jika kita tetap berpegang teguh pada prinsip baik tanpa bersikap memaksa dan kasar, anak pun akan turut. Yang kita perlukan adalah tetap bertahan dan tak mudah di tawar.

Cacian, makian, perlawanan sampai tendangan, mungkin akan kita dapatkan darinya. Cukup bertahan, tanpa banyak bicara dan alasan yang tak penting agar ia menuruti kita, anak akan menyerah pada akhirnya. Dan ingat, ketika ia sudah menjadi baik, sebuah pelukan akan meluruhkan segala kekesalannya pada kita.

So, berikan rules yang jelas yang dibuat bersama anak, tak perlu banyak penjelasan yang tak penting. Bagitupun jumlah peraturannya, cukup 2-5 peraturan saja. Lalu tempellah besar2 di dinding dan dihiasi tanda tangan dari kedua belah pihak. Jangan lupa tentukan punishment apa yang disepakati jika salah satu melanggar peraturan ini. Walau pun pada akhirnya anak saja yang akan selalu melanggar peraturan, tapi dengan punishment yg di tetapkan kepada dua belah pihak, akan menjadikan anak merasa dihargai dan adil.
Dan si koleris yang romantis ini, mulai bisa mengikuti peraturan dengan baik dan bersikap manis. Tahukah kenapa ia kupanggil romantis? Ia selalu menambahkan namaku di samping namanya setiap kali ia menuliskan namanya di buku. Lalu, ia pun akan kelimpungan mencariku setiap diri ini tak terpantau penglihatannya. Waaaah, tersanjung deh. Belum lagi pujian yang selalu bilang "bunda cantik" selain makiannya "bunda jahat."
Hahahahaha, I luv u so much my koleris romantic kid yang kini sudah berubah menjadi romantic kid.

So, kesimpulannya menghadapi anak yang koleris adalah:
1. Tetapkan rules bersama anak. Tak perlu banyak.
2. Tetapkan bentuk punishment dan reward bersama anak.
3. Beri ruang dan tempat khusus bagi anak untuk melepaskan amarahnya.
4. Tetap istiqomah dan tak mudah menyerah dalam menetapkan peraturan.
5. Yang terpenting, sediakan waktu dan hati yang luang untuk anak.

Ingat, kita pernah menjadi anak-anak.Harusnya lebih paham tentang mereka. Sedangkan anak, belum pernah menjadi orang dewasa seperti kita. So, jangan pernah paksakan mereka menjadi diri kita.
Gituh ajah, sampai bertemu dengan "dia" yang ber karakter lain.


                                   image

Tidak ada komentar:

Posting Komentar