"Bund tau engga sekarang berapa ya biaya buat masuk jalur belakang?"
"Jalur belakang apa mom?"
"Itu loh bund, biaya buat masuk sekolah negri."
"Loh, memangnya bayar ya?"
"Ya engga sih bund. Ini kan yang masuk jalur belakang."
"Wah, saya engga ngerti tuh, mom. Saya juga engga tahu berapa besar biayanya lewat jalur begituan."
"O, ya wis bund. Tapi,bund. tau engga, kira-kira sekolah mana ya yang bisa nerima jalur belakang?"
"Wah, lagi-lagi saya engga tau,mom. Kenapa engga lewat depan aja,mom?'
Kali ini saya jadi ikut-ikutan pakai istilah depan-belakang,deh.
"Saya engga yakin, bund. Anak saya bisa masuk kalau lewat depan."
Lah?
Kenapa harus lewat belakang kalau bisa kulo nuwun dengan baik lewat pintu depan,ya?
Engga yakin dengan kemampuan anak?
Trus kenapa harus dipaksakan?
"Bunda sih enak, anaknya pinter. Nilai-nilainya selalu bagus."
Itu biasanya yang mereka lontarkan saat saya menyarankan lewat jalur resmi untuk mendaftarkan anaknya.
Eeeeeh, ngga gitu juga kali mom, alasannya.
Kalau anak saya bisa lewat jalur depan, itu karena kerja keras dan kemampuannya sendiri.
Kami tak pernah paksakan dia untuk masuk sekolah terbaik kok.
Tapi...gitu deh.
Masih banyak saja orang tua yang tidak percaya dengan kemampuan anaknya.
Menghalalkan segala cara agar anak bisa mendapatkan tempat terbaik.
Ngga apa-apa sih kalau caranya itu baik.
Lah ini...
Akhirnya, saya balas lagi message dari ibu itu.
"Gini loh, mom...percayalah dengan kemampuan anaknya sendiri. Setahu saya, untuk masuk sekolah favorit seperti SMPN yang itu tuh, nilai minimal rata-ratanya hanya 7,8 saja kok."
"Oh gitu,bund? Kalau Nilai UN nya bagaimana?"
"Nilai UN-nya, tahun kemarin minimal 27,15."
"Naaaaaah itu dia, bund. Kayanya engga mungkin kalau si kakak nilai UN nya bisa segitu."
"Tuuuh kan, lagi-lagi mengecilkan kemampuan anak.
Bukan mengecilkan anak,bund. Yaaaa sadar diri aja segimana kemampuan anak."
"Nah tuh...trus mamah masih mau tetap memasukkan si kakak ke sekolah favorite itu meski nilainya ngga cukup?"
"Iya lah, bund. Prestice itu,bund."
Lah mom, katanya sadar akan kemampuan anak? Kalau dengan cara seperti itu, bukannya berarti mamah sudah tidak jujur ya? Mamah tidak sadar akan kemampuan anak.
Mamah menjadi tidak jujur pada diri sendiri, pada anak, pada pihak sekolah, pada masyarakat, terlebih lagi pada Tuhan.
Demi apa?
Demi "harga diri."
Okelah, pada saat anak bisa masuk ke sekolah favorit itu, apakah masalah sudah selesai sampai situ?
Cukup sampai anak bisa masuk sekolah?
Saya rasa,tidak.
Anak kan akan menjalani hari-hari berikutnya di sekolah itu.
Baiklah mari kita berusaha menjadi manusia dewasa sekarang, menempatkan diri diluar diri kita dan memandang persoalan ini dari sudut mana pun.
Apa yang terjadi jika anak masuk ke sebuah sekolah melalui "jalur belakang?"
Dari segi kebaikannya dulu deh.
1. Kereeen, anak bisa masuk sekolah favorit di kota ini.
2. Keluarga dan tetangga pasti memuji doooong.
3. Anak akan mendapatkan lingkungan belajar yang baik dan berkualitas. Yaaaa...syukur-syukur anak bisa termotivasi untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
4. Harga diri...sekali lagi, harga diri...bisa naik dooong. Hehe
Hmmm...baru segitu saja yang bisa saya fikirkan tentang kebaikan atau keuntungan dari jalan ini.
Trus apa kekurangan dari cara ini?
1. Anda menjadi pembohong.
2. Anda mengajarkan anak untuk menjadi pembohong dan biasa hidup tidak jujur bahkan sampai tua.
3. Anak akan selalu menjadi murid dengan prestasi belajar yang paling belakang karena memang kemampuannya dibawah teman-temannya yang lain di sekolah itu.
4. Anak menjadi frustasi karena kurang di hargai.
5. Anak menjadi pembangkang, dan berujung pada ketidak bahagiaan anak.
Itu juga baru sebagian kecil dari kekurangan atau keburukan dari cara ini.
Jika kita telaah lebih lanjut, mungkin bisa mencapai puluhan alasan dari kekurangan "jalan belakang" ini.
Tidak bisakah dengan tetap menghargai usaha anak, lalu menerima segala kekurangan dan kelebihan mereka dan tempatkan mereka di tempat yang benar?
Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal.
Setiap orang diberikan potensi-nya masing-masing dan berbeda.
Jikalau mom tidak bisa melihat potensi dari anaknya sendiri, maka stop sajalah menjadi orang tuanya.
Eeeeeeeh, ngga boleh gitu ya?
Begini loh, anak-anak juga manusia seperti ayah dan ibunya.
Bagaimana perasaan anda jika tak dihargai, ditekan dan dipaksa mengikuti kemauan orang lain?
Bukankah itu tidak mengenakkan?
Hargai mereka dan kembangkan potensinya.
"Ah, klise itu,bund. Teoritis yang mudah tapi susah dijalani."
Saya kan ngga bilang itu mudah. Itu butuh perjuangan dan kesabaran setiap saat.
Menjadi orang tua bukan berarti membuat kita berhenti belajar dan tahu segalanya.
Menjadi orang tua adalah sebuah babak baru dalam proses pembelajaran.
Ini adalah proses panjang dan menyenangkan.
"Kok menyenangkan? Bukannya melelahkan?"
Waaah kalau ada yang bilang mengurus anak adalah proses yang melelahkan, itu tandanya anda belum siap menjadi orang tua.
Sungguh aneh jika ada yang bilang begitu.
Stop saja menjadi orang tua.
Eeeeeeh, ngga boleh ngomong gitu lagi ya?
Hahaha,maaf.
Perhatikan dengan baik, kalimat saya berikut ini *cieeeeeeh.
Jika anda ingin di hargai maka hargailah orang lain.
Naaaah, itu juga berlaku buat anak-anak anda.
Anak anda kan orang ya? Manusia.
Jadi Pe-eR nya sekarang adalah,
- Cari tahu apa potensi terbesar anak anda. Kembangkan semaksimal mungkin.
- Hargai kemampuan anak.
- Tempatkan ia pada tempat yang seharusnya.
- Yang terpenting adalah buat anak anda bahagia untuk menjadi dirinya sendiri.
Mamah dan papah takkan membandingkanmu dengan siapa pun. Karena kamu adalah kamu, kebanggaan mamah dan papah."
Percayalah, mereka pun akan mulai menghargai anda, orang tuanya, dimulai pada saat anda menghargai mereka.
Anda akan melihat keajaiban dari efek penghargaan yang anda berikan pada anak.
- Anak akan lebih percaya diri.
- Anak akan lebih menyayangi anda sebagai orang tuanya.
- Anak akan mudah diatur.
- Potensi anak akan melejit.
- Anak mempunyai prestasi yang baik.(Prestasi itu bukan hanya di bidang akademik kan,mom?).
So, engga masuk sekolah favorit, ngga papa kaaaaan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar