Jumat, 26 Juni 2015

Belajar menerima kekalahan dari anak

Dan, lulusan terbaik tahun ini....a-da-lah...Ramandha Au-ryl...
Plok..plok...plok...seisi ruangan itu bergema dengan suara tepuk tangan.
Piala lulusan terbaik jatuh pada pemegang NUS tertinggi di sekolah.
Itu adalah Auryl..,saingan terberat L.
Aku langsung khawatir dengan suasana hati L.
"Gimana ya dia? Apakah akan menerima kekalahan ini?"
Ku lihat air mukanya.
Tampak tenang dan biasa saja.
"Gimana isi hatinya?"
Ku hampiri L dan bertanya "kamu ngga apa-apa?"
"Ngga apa-apa? Kenapa bu?"
"Nilai NUS mu dibawah Auryl gitu, kamu cuma peringkat ke dua, kamu ngga apa2?"
Eh, malah nyengir dia dan bilang "engga apa2 lah. Biar deh Auryl seneng. Sekali-kali lah bu. Masa aku mulu."
"Dih, NUS kan emang cuman sekali,L."
"Ya udah lah. Ngga apa-apa."
Kulihat kedalam matanya, beneran...ngga apa-apa.
Ngga kelihatan sedih
Ngga ada marah
Ngga ada kecewa
Ku tanya lagi "kamu ngga kecewa,L?"
"Dikiiit sih,tapi ya udah lah. Ngga bisa di ulang juga."
Iya sih, ta-pi...
Hghghg ini sih kayanya emaknya yang kecewa.
Trus harus gimana?
Marahin tuh anak? Buat apa?
Ngga akan merubah nilainya.
Palingan hanya untuk melampiaskan rasa kecewa aja.
Selanjutnya apa?
Sedari tadi , memang terlihat ada raut penasaran dan raut wajah-wajah cemas menanti hasil pengumuman NUS ini.
Baik orang tua mau pun siswa.
Termasuk Auryl yg duduk di sebelahku.
Sementara mereka kelihatan cemas, L kelihatan santai saja.
Anak itu tak pernah menunjukkan "eforia" yg berlebihan dalam berbagai hal.
Ngga lebay macam emaknya hghghg
Saat mendapatkan juara, L santai, ngga pernah terlihat senang yg berlebihan, ngga minta hadiah apa pun, ngga juga menuntut dibelikan ini itu.
Saat menerima kabar kekalahannya, L juga tetap santai.
Ngga kelihatan sedih, ngga juga jadi marah.
Cueeeek aja.
Ini pelajaran yang ku ambil.
Setiap orang selalu SIAP menghadapi hal-hal BAIK dalam hidupnya,
Tapi belum tentu SIAP menghadapi hak-hal BURUK dalam hidupnya.
Selepas pengumuman tadi, terlihat raut-raut wajah sedih dan bahagia.
Anakku?
Ah, dia mah masih tetap dengan raut wajah sebelum pengumuman NUS...Santai.
Sebagai orang tua sekaligus partner nya L dalam hidup, yang bisa kami lakukan adalah tetap menghargai dia dalam keadaan apa pun.
Bukan hanya saat dia berprestasi saja dan mengharumkan nama kami,
Pun saat L tidak menjadi apa-apa, kami tetaplah sahabat terbaiknya.
"Ibu kecewa?"
Sekarang L balik nanya sesampainya di rumah.
"Dikiiit, tapi mau gimana lagi? Kamu ibu hukum ya?"
"Idiiiih, ibu. Kan ibu doain yang terbaik. Ini yang terbaik menurut Alloh."
Yeeeey, malah nasehatin ibunya.
"Ini memang sudah yang terbaik bu."
"Dah pinter ya, pinter nasehatin ibu."
"Tapi benerkan,bu? Ngga dihukum kan?"
"Hukum, ah."
"Ngapain? Mijitin ibu?"
"Ya terserah..." *ini mah ibunya yg modus
"Ya udah,deh."
Jadi, hari ini ditutup dengan pijitan tangan L di kening dan punggungku.
Ah, Sesuatu yang akan aku rindukan saat kamu masuk boarding school nanti.
L, NUS hanyalah angka.
Ibu tetap bangga sama kamu, karena kamu sudah bisa menyikapi dengan baik kekalahanmu hari ini.
Dengan kesalahan dan kekalahan, kamu jadi bisa belajar.
Nak, tetaplah menjadi "guardian angel" ibu, yang selalu menjaga dan mengingatkan ibu lewat perbuatanmu yang baik.
I luv u much much more, thufael tsabit norhikawa
#backsound#berhenti#berharap#SO7#reff-nya#aja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar