Selain karena masuk bulan Romadhon, kegiatan KBM juga di liburkan karena anak-anak sudah bagi raport.
Kegiatan pembelajaran di liburkan selama kurang lebih 2 mingguan.
Libur? Waaaah senangnya.
Et, belum tentu.
Ada sebagian sekolah yang memberikan Pe-eR untuk dikerjakan anak selama liburan.
Alasannya sih, agar anak tidak terlalu banyak bermain dan tetap mau belajar, meski itu disaat libur.
What?!
Guru yang enggak asik!
Itu mungkin yang pertama terlintas di benak anak-anak.
Libur ya artinya pre-i...free...senang-senang, tidak terbebani tugas, refreshing, dll.
Sama seperti kita orang dewasa, anak juga manusia.
Gimana rasanya saat kita cuti, liburan, nah si boss malah ngasih pe-er setumpuk.
Waaaaah...ini mah bukan libur. Ya kan?
Bete, mingsut-mingsut, kesel, marah, lah...mending ngga usah cuti kan?!
Begitu pun dengan anak.
Sedikit cerita,
L punya sahabat dekat yang rumahnya jauh.
Persahabatan mereka sudah berjalan selama 7 tahun.
Dari Tk A sampai kelas 5.
Loh knapa cuma sampai kelas 5? Bukannya L sekarang kelas 6?
Gini nih ceritanya, karena rumahnya jauh dan sekolah yang berbeda, setiap liburan sekolah, temannya itu selalu menginap di rumah.
Buat L, dia adalah teman terbaik karena selalu nyambung saat ngobrol dan asik di ajak main.
Hubungan saya dan orang tua anak ini,hmm..sebut saja ia A, Juga sangat dekat.
Jadi, menginap sampai satu minggu pun di rumah, tak masalah.
Permasalahannya ada ketika A ini selalu membawa pe-er yang diberi dari sekolah saat liburan.
Sementara di sekolah L, pihak sekolah tak pernah memberi peer harian apalagi peer iburan.
Itulah salah satu alasan saya memilih sekolah buat L.
Awalnya, L tidak terganggu dan selalu membantu A mengerjakan peer-nya.
"Kasian bu, lagian klw peer nya cepat selesai, aku bisa main," itu kata L.
Setiap semester selalu begitu.
Seperti biasa, saat liburan di rumah selalu banyak anak yang menginap.
L sudah mulai mempunyai teman- teman dekat yang lain sekarang ini selain A. Tempat tinggal mereka tak jauh dari rumah kami.
Namun A pun masih suka menginap saat liburan sekolah.
Seperti biasa, A datang menginap membawa banyak tugas dari sekolah.
Ternyata, semakin tinggi kelasnya, ternyata peer yang di berikan dari sekolah A semakin banyak.
Sebelum meninggalkan ehhmm menitipkan A menginap di rumah, ibunya memberikan banyak wejangan.
A jangan lupa peer nya dikerjakan.
A nanti kalau engga bisa, tanya L aja..ya L? Nanti bantuin A,ya?
L hanya menjawab "hm" sambil terus menatap ke arah layar tv dan memainkan stick PS.
"L, jangan lupa ya?" Ibu A mencari jawaban pasti dari L.
Lalu ia memberi setumpukkan tebal buku dan lembar kerja pada anaknya.
"A, ini kerjain semua, nanti ustadz marah kalau engga selesai."
Aku yang sedari tadi diam dan melihat lalu nyeletuk deh jadinya "kalau engga selesai gimana?"
"Kalau engga selesai, ya aku bantuin."
"Bantuin gimana?"
"Ya, aku kerjain."
LHAH?!
Ini sih, tetap aja anak ngga tuntas bertanggung jawab terahadap tugas yang diberikan kalau ibunya juga yanh mengerjakan.
Lagi-lagi, memgajarkan ketidak jujuran. Hadeuuuh.
"kalau liburan kenapa peer nya seabreg gitu sih? Engga kasian sama anak?"
"Kasian sih, tapi kata ustadz dan gurunya, ini biar anaknya mau belajar."
WHAT?!
Aku ngelirik ke arah anak itu, A. Mukanya bete banget.
Eh, bukan cuma A deng, L juga.
"Dah ya, L, A. Mamah pulang dulu. Pamit ya,da. Nitip A."
Eeeeeh... nih ibu, kesian banget tuuuuh anaknya.
Setelah itu, aq masuk kamar.
L dan A ada di ruang tamu.
Hening...tak seperti biasanya.
Biasanya terdengar obrolan seru dan tawa canda jika mereka bertemu.
5 menit, 10 menit, 15 menit...masih saja hening.
Aku keluar kamar,penasaran,aku lihat di ruang tamu, L masih saja asik main PS dan A, Masya Alloh...dia langsung mengerjakan soal-soal yang se abreg itu.
Ya wis...aman berarti, fikirku.
Tak lama, beberapa teman baik L di sekitar rumah datang.
Mulailah keramaian ala anak laki-laki di rumah.
Ah, back to normal...aku senang.
Satu jam kemudian, aku keluar kamar.
Satu, dua, tiga, empat anak laki-laki tapi tak ada A.
"A, kemana L?"
"Pulang ke rumah mamah teteh," jawab L
Mamah teteh demikian panggilan L untuk bu de nya A yang rumahnya dekat dengan rumah kami.
"Naik apa,A? Dianterin kamu?"
"Jalan kali bu."
"Lah kok? Kenapa ngga kamu anter naek sepeda?"
"Engga ah, males."
"Kasian loh,A."
L engga menjawab apa2, dia masih asik bermain PS dengan temannya yg lain.
Ku cek by phone, iya, ternyata A sudah sampai k rumah budek nya.
Sore...A ngga balik-balik ke rumahku.
Biasanya, mereka engga pernah bisa berpisah lama.
Nanti A yang dirumah, pulang sebentar k rumah bude nya diantar L, ambil baju trus balik lagi ke rumah bareng L.
Kemana mana bareng, ngga pernah bisa lepas kaya amplop dan perangko.
Akhirnya aku panggil L dan bertanya "kamu kenapa sama A,L?"
"Engga kenapa napa,bu."
"Kok, tumben dia pulang ke rumah mamah teteh ngga kamu antar? Sore ini juga, kamu engga samperin dia?"
"Engga apa-apa kok."
"Jangan karna punya teman baru, teman lama dilupakan,L. Ngga baik itu."
"Bukan begitu,bu. A nya aja yang pengen pulang sendiri. Aku kan lagi asik main PS, dia nanya-nanya terus soal pelajaran. Aku males jawabin nya. Trus engga lama dia pulang deh."
Oh, i see... itu ternyata masalahnya.
L merasa terganggu dengan PR nya A dan A merasa L bukan teman yang baik karena engga bantu dia mengerjakan PR.
Hallooooo.....
Ini liburan...libur...free day.
Saatnya tidak memikirkan tugas, tidak pusing dengan buku yang engga asik dan saatnya bermain yang banyak.
Kalau kata L "Saatnya Main sampai sakit"
Hahahaha...
Study hard, play hard.
Trus engga boleh dong kasih PR ke anak saat liburan?
Idealnya sih begitu, tapi kalau pun mau memberi PR, mbok yaaaa yang menyenangkan.
Ngga mulu mesti berkutat dengan buku dan soal-soal.
PR nya bisa tentang pengamatan, analisis atau tentang pengalaman.
Yaaaa ngga jauh-jauh pembahasannya ttg liburan.
Alasan supaya anak tidak banyak bermain itu alasan yang dibuat-buat menurut saya.
Apa yang salah dengan bermain?
Dengan bermain, anak pun bisa belajar banyak kok.
Saya masih suka heran dengan pemikiran guru dan orang tua yang ketakutan jika anaknya banyak bermain.
Tugas anda, untuk mengarahkan kata bermain menjadi bermain yang bermakna, bukan menghilangkan masa bermain.
Kepandaian bukan karena melulu mengerjakan tugas...logika, instuisi dan kepekaan lebih bernilai dari pada itu.
Setuju???
Cobalah menempatkan diri menjadi anak-anak kita.
As usually saya ingatkan kembali
KITA PERNAH SEUSIA MEREKA, TAPI MEREKA BELUM PERNAH SEUSIA KITA
Jadi, kitalah yang harus mengerti mereka, bukan mereka yang mengerti jalan fikiran kita.
So?
Hapuuus Pe er!
Turunkan harga! Lhoh?!
Demi kebahagiaan anak-anak kita!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar