Memasukan anak di sekolah anak" orang kaya tuh, bikin hati sedikit deg deg an.
Dengan uang masuk sebesar hampir 60 juta dan uang bulanan 5,9 juta, terbayangkan seberapa besar kekayaan orang tua siswa disana, kan?
Itu baru dari segi penghasilan orang tua.
Dari segi prestasi dan tingkat kecerdasan pun, sangat-sangat bersaing ketat, karena meski beruang, tak sembarangan anak bisa masuk sekolah ini.
Tes masuknya lumayan sulit dan mengikuti beberapa penyaringan.
Mereka adalah anak-anak yg terbiasa dengan fasilitas yg lengkap dan mahal.
Mereka anak-anak orang kaya yg mempunyai segudang prestasi karena selain pandai juga punya kesempatan untuk ikut les ini itu.
Mereka adalah anak-anak the high yg biasa diantar pak supir dengan mobil-mobil mewah kepunyaan orang tuanya.
Diantara mereka ada yg sudah ber haji, ber umroh tiap tahun, juara renang, juara piano, hafal lebih dari 5 juz, sampai bulak balik liburan ke luar negri.
Subhanalloh...
Yang bikin deg-deg an...
Apa L nggak akan minder dengan keadaan teman-temannya?
Apa L nggak akan malu dengan kondisi orang tuanya?
Kami, orang tua L tidak mempunyai penghasilan sebesar orang tua lain dan L masuk ke Alka lewat jalur beasiswa, jadi tak membayar sebesar itu.
Saya pernah tanya ini ke L minggu yg lalu by phone (karena saya tdk ke Alka).
Jawabannya adalah "enggak,bu. Aq malah suka ngelucu klw sama mereka. Temen2ku orangnya serius2. Jadi, biar rame...aku nge lucu aja."
"Ngelucu apa,nak?" (Nggak ngerti saya)
"Yaaaa....aq ceritain cerita2 lucu gitu bu. Trus mereka suka ketawa2 dan suka nyariin aku."
"Temenmu, bapak ibunya kaya-kaya loh,nak. Kamu nggak minder nih, bener?"
"Nggak lah, bu. Kan dimata Alloh..sama aja."
Alhamdulillah...denger jawaban L, hati jadi lega.
Bukan apa-apa, masa2 seusia L adalah masa ketika ego mulai muncul. Mencari eksistensi diri, merasa perlu untuk membuktikan ke"aku"an.
Membanding-bandingkan diri dengan kawan lainnya.
Dan salah satu caranya bisa dengan memamerkan kekayaan orang tua.
Alhamdulillah, di asrama dan sekolah, pihak Alka menerapkan banyak peraturan yg membuat anak merasa sama dengan yg lainnya.
Misalnya, tidak boleh memakai jam tangan yg harganya lebih dari 200 rb.
Atau uang saku anak perminggu tidak boleh dari 50 rb.
Jadiiii...mau dia anak orang kaya atau pun tidak, semua sama.
Nggak ada yg pamer barang mahal, hehehe
Tapiii...tetep aja kan, begitu waktu besuk tiba, kelihatan siapa orang tua yang kaya.
Jangan-jangan, saya nya ini yg minder?
Alhamdulillah, nggak sih.
Bener kata L, dimata Alloh...kita semua ini sama. Yg membedakan hanyalah amalan.
Kalau cm jd orang kaya aja sih, banyaaaaak.
Jadi orang yg bermanfaat untuk orang lain itu yg masih sedikit.
Alhamdulillah juga, orang-orang tua di Alka, meski sebagian besar berasal dari golongan atas, mengikuti tauladan Ustman bin Affan, sahabat Rosululloh yg sangat kaya itu, mereka sangat2 ramah dan asyik.
Nggak sombong dan merasa paling baik.
Yang akhirnya tercermin pada perilaku anak-anak mereka.
So, i feel lucky...Alhamdulillah
L bisa tumbuh menjadi lelaki yg tahu siapa dirinya, dari mana ia berasal tapi mempunyai rasa kepercayaan diri yg baik.
Karena, sekali lagi, di mata Alloh...kita ini sama.
Kita bisa lihat di sekeliling, bahkan masih banyak diantara kita, yg sudah dewasa, masih saja membanding-bandingkan harta yang kita punya dengan orang lain.
Ukurannya masih soal harta dan kekayaan saja.
Padahal, Ukuran Alloh adalah soal ketaatan bukan kekayaan, soal kebermanfaatan bukan banyaknya harta.
*eeeaaaa pagi-pagi dah sok-sok an tausyiah. Maaf yak..
Itu foto L bareng teman2nya di Asrama
#senyum#semangat#pagi#semua
Dunia anak usia dini dan tips parenting yang dikemas dalam kisah sehari-hari. Lugas bertutur tanpa bermaksud menggurui. Semoga berkenan dan dapat menjadi sahabat baik bagi anak-anak usia dini di sekitar kita.
Senin, 24 Agustus 2015
Ukuran Alloh adalah ketaatan bukan kekayaan
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar